“Ohh baguslah kalau begitu, jadi apa yang kau tunggu? Cepat berikan aku surat izin!” pinta ku dengan tegas.
“Sabarlah Kawan, tunggulah sebentar,” jawab Dave.
Dave mulai berdiri dan berjalan menuju meja yang sebelumnya dia duduki. Dia mulai mengeluarkan sebuah surat dan mulai menuliskan sesuatu di atasnya. Aku menunggunya sambil sesekali meminum teh yang ada di atas meja dan melihat apa yang dia lakukan. Setelah beberapa lama dia menulis, Dave mulai menghentikan apa yang dia lakukan saat ini kemudian kembali ke kursi panjang tepat di hadapan ku saat ini.
“Berikan surat ini kepada Systine atau ke Resepsionis lainnya. Mereka akan tau hal yang harus di lakukan setelah itu,” ucap Dave sambil menyerahkan surat kepada ku.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang,” ucap ku setelah menerima surat itu.
Kami berdua berdiri dalam waktu yang bersamaan. Dave menjulurkan tangan kanannya ke arah ku tanda ingin bersalaman, aku pun menerima tangannya hingga tangan kami saling berjabat.
“Jika ada waktu, kunjungilah guild ini walau hanya menyapa teman-teman mu disini,” ucap Dave sambil menjabat tangan ku.
“Baiklah, terima kasih atas bantuan mu hari ini,” jawab ku.
Kami pun melepaskan jabat tangan kami secara bersamaan. Aku mulai berjalan menuju pintu keluar ruangan ini secara perlahan. Namun, saat telah membuka daun pintu keluar, aku teringat satu hal yang mengganggu ku sebelum naik ke atas ruangan ini.
“Ahh iya Tuan Ketua guild, aku teringat akan satu hal!” ucap ku sambil menoleh ke arah Ketua guild yang sepertinya menunggu ku keluar dari ruangan ini sebelum kembali duduk di meja sebelumnya.
“Apa itu Kawanku?” tanya Dave pada ku.
“Hmm, kau harus mengingatkan semua anak buah mu untuk bersikap lebih baik saat berhadapan dengan aku,” jawab ku.
Saat mendengar ini, Dave mulai terdiam kaku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dave hanya menatap ku dengan tatapan kaku seperti melihat seorang hantu yang akan menyerang anak kecil.
“Aku tak mau kau kehilangan anak buah hanya karena sikap mereka yang buruk pada ku,” tambah ku sambil tersenyum kecil pada Dave.
“T-tentu s-saja Kawan, aku akan memperingati mereka sesegera mungkin,” ucap Dave dengan sedikit menggigil.
Alasan ku mengatakan itu bukan karena aku membenci Dave, tapi aku membenci sikap dari salah satu anak buahnya yang bertindak kasar pada ku meskipun aku tau dalam pandangannya, aku hanyalah seorang bocah ingusan yang tersesat dan menjadi petualang di sini. Jika saja dia bukan anak buah suruhan dari Dave si Ketua guild, maka mungkin aku sudah mencongkel kedua bola matanya menggunakan jari ku saat itu juga.
“Baiklah kalau begitu, aku akan segera menemui Systine, selamat tinggal!” ucap ku pada Dave yang terlihat menggigil ketakutan.
Aku pun menutup pintu ruangan dan mulai berjalan menuju aula guild dimana para Resepsionis berada. Saat sedang menuruni tangga, aku bernafas lega karena suasana guild saat ini sudah lebih sepi daripada saat aku pertama sampai hari ini. Hanya ada beberapa Resepsionis yang sedang melayani Petualang sedangkan yang lainnya sedang beristirahat termasuk juga Systine. Systine terlihat tengah duduk bersandar di kursinya sambil mengipas-ngipasi kepalanya menggunakan kertas di tangannya. Aku pun berjalan menghampirinya untuk memberikan surat ini kepadanya sesuai dengan perkataan Ketua guild tadi.
Braaaak....
“Hai Systine, apa kau merindukan ku?” sapa ku sambil memukul meja Resepsionis untuk mengagetkannya.
Seperti harapan ku, Systine kaget hingga menjatuhkan kipas angin yang terbuat dari kertas tadi ke lantai. Matanya mencari-cari sumber suara dengan liar hingga dia merasa tenang saat aku duduk di hadapannya sambil memangku wajah dan menatap ke arahnya. Dia menghela nafas panjang kemudian menunduk tanpa mengindahkan sapaan dari ku.
“Oyy Systine, kenapa kau diam saja saat aku menyapa mu?” tanya ku sambil tetap memangku wajah ku.
Systine kemudian mengangkat kepalanya dan tiba-tiba berdiri sambil menarik telinga ku dengan keras.
“Apa begitu cara yang benar untuk menyapa haaaa?” ucapnya sambil meninggikan suara.
“Aduh aduh, astaga, itu sakit Systine!” ucap ku sambil mengeluh kesakitan akibat telinga ku yang di tarik paksa oleh Systine.
“Mana permintaan maaf mu?” tanya Systine sambil menatap ku dengan tatapan yang menakutkan.
“
Iya-iya, maafkan aku telah mengagetkan mu tadi! Sekarang tolong lepaskan telinga ku, itu seperti akan terlepas karena kau tarik dengan keras!” pinta ku memohon untuk melepaskan telinga ku.
Setelah aku meminta maaf pada Systine, akhirnya dia mau melepaskan telinga ku dan kembali duduk di kursinya sambil menunjukkan wajah kesalnya terhadap ku. Hal ini suatu hiburan tersendiri buat ku karena Systine mengingatkan ku pada Ibu. Cara marahnya serta cara dia memperlakukan ku saat mengerjainya mirip sekali dengan ibu, bahkan saat dia panik saat aku terluka beberapa minggu lalu, juga sangat mirip seperti ibu.
Aku menatapnya sambil memegangi telinga ku yang terasa panas akibat di tarik olehnya. Dia tetap menunjukkan wajah kesalnya yang terlihat imut semakin lama ku lihat.
“Astaga jika kau terus bersikap seperti ini maka jangan harap kau akan memperoleh pasangan hidup” ucap ku untuk menggoda Systine karena tak tahan saat dia menunjukkan wajah kesalnya.
Tapi kemarahannya bukan semakin mengendur melainkan semakin menjadi-jadi, wajah kesal yang terlihat imut tadi berubah menjadi wajah marah yang sangat menakutkan. Aku pun dengan sigap meminta maaf kembali karena telah berlebihan dalam menggodanya.
“Hey hey, aku hanya bercanda! Tolong maafkan aku nyonya!!” ucap ku memohon supaya dia memaafkan ku. Aku bersembunyi di balik meja Resepsionis untuk menghindar dari kemarahannya.
Tak lama kemudian kemarahannya, aku memberanikan diri untuk memastikan bahwa Systine sudah menghilangkan kemarahannya atau tidak. Aku bernafas lega ketika dia sudah tak menunjukkan wajah marahnya lagi dan hanya meninggalkan sebuah tatapan marah yang di tujukan kepada ku. Karena sudah yakin bahwa Systine tak marah lagi, maka aku mulai duduk kembali di kursi sebelumnya. Aku baru menyadari bahwa kelakuan kami berdua di perhatikan oleh para Resepsionis yang sedang beristirahat. Mereka mentertawakan kami karena kejadian ini.
“Ha ha ha, kalian seperti Saudara yang memperebutkan mainan,” ucap salah satu Resepsionis wanita yang berada di samping Systine.
“Hey sudahlah, cepat bereskan daftar petualang baru yang mendaftar hari ini! Kau belum melakukannya kan?” jawab Systine menanggapi ucapan Resepsionis wanita tadi.
Seorang pria berbadan cukup besar yang memanggul pedang besar di punggungnya kemudian menghampiri meja yang tengah aku duduki dan menatap ku dengan tatapan yang sama sekali tak mengenakkan untuk di pandang.
“Systine, apa bocah ini mengganggu mu?” ucap pria itu sambil menatap tajam ke arah ku.
“Tidak-tidak Bergh, dia sama sekali tak mengganggu ku, dia hanya menyapa ku tadi,” jawab Systine dengan panik.
Sepertinya aku paham dengan kejadian ini. Pria ini menyukai Systine dan dia Systine sama sekali tak menyukai pria ini, mungkin lebih kepada Systine takut terhadap pria ini karena sikapnya yang mencoba mendominasi semua hal. Setidaknya itu kesimpulan yang kudapatkan dalam pertemuan sekilas antara aku dan pria yang bernama Bergh ini.
“Sebentar, ada yang salah di sini! Yang kau panggil bocah tadi, bukan aku kan?” ucap ku sambil memandang balik pria ini.
“Terus kenapa jika kau ku panggil bocah haaaah? Kau tak senang dengan itu?” jawab pria itu dengan meninggikan suaranya.
Systine pun berinisiatif untuk berdiri dan menghentikan kami berdua.
“Bergh dan Clay! Berhentilah sebelum aku memanggil Ketua guild untuk datang kesini”
Mendengar perkataan Systine. Pria yang tadinya bersikap sok kuat, mulai terlihat ketakutan dan memilih meninggalkan kami berdua.
“Kau beruntung bocah karena Systine melindungi mu,” ucapnya sambil berjalan menjauh dan menatap ku dengan tatapan penuh kebencian.
Setelah itu Systine kembali menatap ku dan menghela nafas panjang sambil kembali duduk di kursinya.
“Kau ini! Apa bisa kau tak menyebabkan masalah? Yang tadi itu hampir saja, Bergh adalah orang yang melakukan apapun sesukanya,” ucap Systine pada ku.
“Untung saja saat ini masih ada Ketua guild di sana jadi dia tak berani melakukan apa-apa!” tambah Systine.
Aku tak merespon perkataan dan memilih diam sambil menatapnya dengan sedikit tersenyum. Jika di telaah dari perkataan Systine tadi maka, pria yang bernama Bergh ini tak akan melepaskan ku dengan mudah. Aku akan melihat apa yang akan dia lakukan nanti dan memikirkan cara membuatnya jera.
“Hey hey, Clay apa kau mendengarkan ku?” ucap Systine membuyarkan lamunan ku.
“Haa? Apa yang kau katakan?” tanya ku pada Systine.
“Kubilang kemana saja kau beberapa hari ini?” tanya Systine dengan sedikit menyaringkan suaranya.
“Ohh aku melakukan pekerjaan penting bersama Roku,” jawab ku sambil menggaruk-garuk kepala.
Tiba-tiba Systine memukul meja Resepsionis dan berkata,”Ahh iya, dimana b******n Roku itu berada?”
Aku sedikit menciutkan diri sambil menjawab pertanyaannya,”Dia bilang ada urusan hari ini.”
“b******n itu! Dia tak datang ke guild saat ada banyak petualang baru yang mendaftar, akibatnya kami harus menunda ujiannya di esok hari dimana akan banyak pekerjaan menumpuk setelah itu,” ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
Clay!!” tambahnya dengan sedikit meninggikan suara.
“Siap!?” jawab ku sembari menegakkan posisi duduk dengan tiba-tiba.
“Sampaikan pada Roku, jika dia tak datang besok maka aku akan membuatnya tak melihat terangnya matahari lagi setelah itu!” ucap Systine sambil menatap tajam kepada ku.
“Baik! Akan ku sampaikan saat bertemu dengannya” jawab ku.
Setelah aku menjawab perkataannya mengenai Roku, Systine terlihat sudah lebih tenang dari pada tadi. Dia sudah tak menunjukkan adanya kemarahan dan mengendurkan cara dia duduk sehingga membuatnya lebih santai.
“Baiklah apa yang kau inginkan Clay?” tanya Systine pada ku.
“Ahh iya, aku sampai lupa akan tujuan ku menemui mu,” ucap ku.
Aku mengeluarkan surat yang di berikan oleh Ketua guild pada ku dan menyerahkannya pada Systine.
“Hmm apa itu?” tanya Systine kembali.
“Menurut Ketua guild tadi, itu adalah Surat izin untuk memasuki kota Liutas yang di khususkan pada petualang. Aku hanya di suruh memberikannya pada mu,” jawab ku menjelaskan surat itu.
“Hmm... jadi tadi kau menemui Ketua guild, kau sepertinya cukup beruntung!” ucap Systine pada ku.
“Kenapa begitu?” tanya ku karena tak paham dengan apa yang dia katakan.
“Ketua guild tak akan membiarkan siapapun menemuinya, kecuali orang itu menarik perhatian bagi Ketua guild,” jawab Systine sambil membaca surat itu.
“Heehh... begitu,” ucap ku.
Aku memang tak meragukan bahwa Dave sang Ketua guild adalah orang yang biasa-biasa saja. Meskipun sifatnya bisa dikatakan menyebalkan, namun aura dan kekuatan yang di pancarkan sama sekali tak bisa di remehkan. Meski begitu jika kami berdua bertarung satu sama lain maka aku yakin aku akan memenangi pertarungan itu dengan mutlak.
“Baiklah surat izin ini akan selesai besok,” ucap Systine membuyarkan lamunan ku.
“Hah? Apa yang kau maksud? Tak bisakah aku mendapatkannya hari ini?” tanya ku beruntun karena tak mengerti dengan ucapan Systine.
“Itu bisa di lakukan jika batu altar tak kehabisan sihirnya!” jawab Sytine sambil menunjuk ke arah batu altar yang biasanya sedikit bercahaya meskipun tak ada orang yang melakukan scanning.
“Batu altar terus menerus melakukan scanning dari pagi hari sampai siang hari, kami terpaksa melakukannya karena instruktur ujian petualang tak datang ke guild hari ini!” tambahnya dengan sedikit meninggikan suaranya.
Karena aku tak ingin membuat Systine marah kembali, jadi aku menyerah untuk memperpanjang percakapan mengenai surat izin dan memilih diam sejenak hingga kepalanya dingin kembali. Sepertinya aku benar-benar harus memberikan Roku satu atau dua pukulan dengan ulahnya hari ini.
“Baiklah kalau begitu, aku akan kembali besok di pagi hari,” ucap ku beranjak dari kursi dan bersiap meninggalkan guild.
“Tunggu! Mau kemana kau? Apa kau ada tempat untuk bermalam?” tanya Systine sembari menatap ku
Sepertinya dia sadar bahwa aku sudah tak lagi tinggal di penginapan. Insting perempuan memang mengerikan untuk hal-hal seperti ini.
“Yah aku mungkin akan menginap di rumah teman ku dulu malam ini,” jawab ku sambil kembali duduk di kursi. Aku hanya memikirkan dua bermalam untukku nanti, yaitu kembali ke penginapan atau di rumah Roku. Tapi aku tak terlalu suka di Rumah Roku karena sifatnya yang menyebalkan membuat ku tak ingin kembali lagi ke sana. Opsi terbaik mungkin jatuh ke penginapan karena di sana aku bisa merasa tenang tanpa gangguan dari Roku atau siapapun.
“Dan bagaimana kau tau bahwa aku sudah meninggalkan penginapan?” tambah ku.
Systine menunjuk ke semua barang bawaan ku dan mulai tersenyum. Dengan sinyal tangan yang dia tunjukkan, aku paham mengapa dia tau bahwa aku sudah keluar dari penginapan ku.
“Kau sampai memperhatikan hal itu juga, apa semua Kakak perempuan seperti ini?” ucap ku pada Systine.