Undangan

1685 Kata
DAVE POV. Aku adalah Ketua guild Reistes yang di segani oleh semua petualang di guild ku. Aku adalah mantan petualang tingkat A dan aku memiliki skill unik yang membuat orang tak sadar akan kehadiran ku meskipun aku berada di sekitar mereka. Aku masih bisa di lihat dengan mata telanjang namun skill ini sangat berguna saat melakukan pengintaian dan bisa mengelabui orang-orang yang cukup peka atau sihir deteksi. Aku bisa menggunakan skill ini ke diri ku sendiri ataupun ke orang lain dengan syarat aku harus menyentuh orang itu. Setelah lama menjadi petualang, aku memilih meninggalkan dunia para petualang karena itu sangatlah tak cocok untuk ku. Para petualang sangat akrab dengan bau darah dan rasa kehilangan dari teman-teman seperjuangan yang kadang gugur saat tengah menjalankan misi. Aku tak tahan dengan semua itu dan memilih untuk menjadi Ketua guild dan mengawasi pada petualang dari balik meja saja. Aku bahkan membuat kelompok bernama neerslag untuk mengawasi para petualang yang menurut ku cukup menarik. Beberapa tahun terakhir aku di khawatirkan dan di buat panas dingin oleh perbuatan organisasi penyembah Dewa Camazot. Mereka bertindak semakin liar bahkan menculik para penduduk desa dan petualang lemah untuk di jadikan tumbal bagi Dewa mereka. Bahkan mereka kadang berbuat seenaknya hingga menimbulkan korban jiwa dari nyawa yang tak bersalah. Aku menugaskan salah satu mata-mata yang paling handal di guild ini untuk mengintai ke markas organisasi itu. Namun, dia tertangkap pada seusai melaporkan apa yang dia temukan di sana. Hal ini membuat ku marah namun aku sadar bahwa aku tak dapat melakukan apa-apa kecuali mengharapkan keajaiban dari Tuhan muncul dan menolong ku. Beberapa minggu kemudian, mata-mata ku yang di tangkap oleh organisasi sesat itu kembali dengan selamat dari sana dan melaporkan semua kejadian di sana. Dia mengatakan bahwa bahwa kakaknya dan teman dari kakaknya datang untuk menyelamatkan semua tahanan di sana. Dia mengatakan bahwa teman dari kakaknya itu membumi hanguskan seluruh organisasi hanya dalam waktu semalam saja, bahkan semua tahanan berhasil selamat dan seluruh anggota organisasi termasuk Rasul mereka telah di bunuh dan di kubur bersamaan dengan markas mereka. Hanya ada beberapa orang dari anggota organisasi yang selamat namun mereka telah bersumpah setia terhadap teman kakaknya itu. Setelah mendengar ini aku langsung mencari data diri dari orang ini, aku merasa tenang sekaligus ketakutan dalam saat yang bersamaan. Aku senang bahwa para petualang dan penduduk telah berhasil di selamatkan. Namun, aku ketakutan karena orang yang menyelamatkan semua tahanan dan memusnahkan organisasi penyembah Dewa Camazot hanyalah seorang bocah berumur tiga belas tahun. Demi memastikan hal ini dengan mata kepalaku sendiri, aku menugaskan seseorang dari kelompok Neerslag untuk mengawasinya. Tentunya aku sudah menggunakan skill ku pada semua anggota kelompok Neerslag karena skill ku akan sangat membantu mereka. Salah satu anggota Neerslag melaporkan bahwa anak ini akan datang ke guild hari ini. Oleh karena itu aku mempersiapkan diri ku dan menyuruh salah satu anak buah ku yang merupakan anggota Neerslag untuk membawanya menemui ku. Setelah hampir lima belas menit aku menunggu, suara langkah kaki dari luar mulai terdengar semakin dekat menuju ruangan ini, aku menyimpulkan bahwa anak ini telah datang ke sini sesuia dengan keinginan ku. Aku berpura-pura menyibukkan diri dengan membaca sebuah kertas yang cukup besar hingga menutupi pandangan ku. Krieeet Aku mendengar suara pintu terbuka dan tiba-tiba aku merasakan tekanan yang tal pernah aku rasakan sebelumnya. Tekanan yang bahkan sepertinya akan meremukkan ku jika aku terdiam lebih lama saat ini. Aku bahkan belum melihat wajah dari anak yang telah memusnahkan organisasi Camazot ini tapi tekanan yang diberikannya sangatlah mematikan hingga aku terdiam beberapa saat. “Permisi!” sebuah suara terdengar dari pintu. Beruntungnya suaranya dapat menyadarkan aku dari keadaan tadi. Aku pun bersikap biasa dan mengajaknya bicara di kursi panjang yang ada di depan ku. Namun karena terlalu ketakutan dan terlalu gugup, aku jadi mengalihkan fokus ku kepada teh yang aku minum hingga menyebabkan anak ini marah dan memukul meja. Tatapan yang menunjukkan bahwa sudah banyak nyawa yang telah direnggutnya di usia yang masih belia ini. Untuk meredakan amarahnya saat ini, aku memberinya kompensasi berupa banyak koin emas dan sebuah harta karun ku yang paling berharga yaitu cincin Hrudzi. Namun anak ini hanya mengambil beberapa koin emas saja dan cincin itu. Aku tak menyangka bahwa dia ternyata sebaik ini. Beberapa saat kemudian, dia menanyakan semua hal yang ku ketahui tentang kota Liutas dan Dungeon di sana. Aku pun mengatakan semua yang ku ketahui seperti apa yang dia minta termasuk kisah peperangan besar antara para Dewa dan ras Iblis. Aku menceritakan semua itu padanya sehingga dia merasa puas akan cerita ku, beruntungnya aku sudah pernah menjelajahi Dungeon di sana dulu bersama kelompok ku yang berjumlah sembilan orang. Meskipun hanya aku dan 2 teman ku lainnya yang berhasil selamat dari sana, tapi setidaknya aku bisa bersyukur bisa hidup saat ini dan mengenang teman-teman ku yang terlebih dahulu gugur. Setelah bertanya mengenai kota Liutas dan Dungeon, aku membuatkan anak ini surat izin masuk ke sana karena dia seperti ingin pergi ke sana dari pertanyaan yang dia ajukan. Dia pun berterima kasih dan mulai meninggalkan ruangan ku ini. Namun baru saja membuka daun pintu untuk keluar, dia mengatakan bahwa ada satu hal lagi yang ingin dia katakan pada ku. “Hmm, kau harus mengingatkan semua anak buah mu untuk bersikap lebih baik saat berhadapan dengan aku,” ucap anak itu sambil tersenyum. “Aku tak mau kau kehilangan anak buah hanya karena sikap mereka yang buruk pada ku,” tambahnya. Saat mendengar perkataannya, tubuh ku terasa mati rasa dan aku merasa seekor Monster ganas siap menerkam ku saat ini dari tatapan yang dia berikan pada ku sekarang. Meskipun terbersit senyum kecil di wajahnya, dia seakan mengatakan bahwa ini adalah akhir dari seluruh guild ku. Aku pun menanggapi ucapannya dengan terbata-bata karena ketakutan. Aku tak tau apa yang di lakukan oleh anak buah ku saat bertemu dengan anak itu, yang jelas aku harus memberi mereka pelajaran dengan pasti tentunya. Aku baru bisa bernafas lega saat anak itu menutup pintu dan berjalan menjauh dari ruangan ini. ARVIN POV. “ Kau sampai memperhatikan hal itu juga, apakah semua Kakak perempuan seperti ini?” ucap ku pada Systine. Systine menatap ku dengan menggembungkan kedua pipinya layaknya anak kecil yang tak di perbolehkan untuk memakan permen. “Apa itu mengganggu mu?” tanya Systine pada ku. Aku begitu terhibur dengan tingkah Sytine yang begitu menggemaskan, setidaknya dia melakukan itu untuk mendapat perhatian dari ku. “Tentu saja tidak,” jawab ku sambil mengeleng-gelengkan kepala. “Lantas kenapa kau menanyakan hal itu kepada ku?” tanya ku pada Systine. “Yahh i-itu, dari pada kau menginap di rumah teman mu, kenapa kau tidak tidur di rumah ku saja malam ini,” jawab Systine sambil menatap ku. “Eh? Apa boleh?” tanya ku kembali. “Tentu saja! Lagi pula aku sungguh sangat berterima kasih pada mu setelah apa yang kau lakukan,” jawab Systine. Aku menatap Systine dengan ekspresi kebingungan karena tak tau untuk apa dia berterima kasih pada ku. Dia terlihat salah tingkah saat mengatakan hal tadi kepada ku. “Apa maksud mu tentang berterima kasih?” tanya ku karena tak paham tentang perkataan Systine. “Beberapa hari yang lalu Adik ku telah kembali ke rumah dengan selamat,” jawabnya sambil sedikit mengeluarkan air mata. “Benarkah itu? Syukurlah, akhirnya Adik mu bisa kembali lagi,” ucap ku saat mendengar bahwa Adik dari Systine telah pulang ke rumahnya. “Apakah dia baik-baik saja saat ini?” tambah ku. “Dia baik-baik saja sekarang,” jawab Systine singkat. Aku baru mengingat bahwa Adik Systine telah di culik oleh organisasi penyembah Dewa Camazot. Mungkin saja saat aku membebaskan para tahanan saat itu, Adik Systine juga termasuk dalam salah satunya. Setidaknya cukup membuat ku lega saat melihat anggota keluarga yang telah lama menghilang, mulai bersatu lagi dan menjadi keluarga yang sama seperti sebelumnya. “Adikku mengatakan bahwa saat dia menjadi tahanan dari organisasi penyembah Dewa Camazot dan akan di jadikan persembahan di malam itu. Tiba-tiba ada dua orang yang mencoba menolong para tahanan,” ucap Systine sambil menyeka air matanya. “Ohh sungguh baik sekali mereka, ha ha ha!” ucap ku sambil tertawa canggung saat mendengar perkataan Systine. Aku rasa aku bisa memahami mengapa dia ingin berterima kasih pada ku. “Adikku bilang bahwa salah satu dari penyelamat itu memiliki tubuh yang tak terlalu tinggi, dia membuat salah satu anggota dari organisasi sesat itu sebagai tawanan untuk membebaskan para tahanan,” ucap Systine sambil menatap tajam ke arah ku. “Adikku mengenal salah satu dari penyelamat itu, karena adikku juga sering menjalankan misi. Orang yang di kenali oleh Adikku tak lain adalah Roku,” tambahnya. Systine terus saja menatap tajam ke arah ku sehingga hal itu membuat ku risih dan tak bisa mengatakan apa-apa untuk menjawabnya. Namun aku mencoba untuk tetap tenang meskipun Systine tetap saja menatap ku. “Baiklah, aku mengerti maksud mu,” ucap sambil menghela nafas kecil. Dia pun menghentikan interogasi melalui tatapannya pada ku sesaat setelah aku mengatakan itu. Kurasa aku tak bisa merahasiakan hal ini terlalu lama, saksi mata yang ada terlalu banyak dan para tahanan yang ku selamatkan tak mungkin semuanya bisa menjanjikan apa yang aku tekankan pada mereka mengenai hal ini. Pasti akan ada dari beberapa dari mereka yang membeberkan hal ini pada anggota keluarga atau teman-teman mereka. Inilah salah satu alasan ku untuk bisa segera pergi dari sini, aku tak suka di perlakukan seperti seorang Pahlawan. Pahlawan hanyalah sebuah lelucon sampah bagi ku, mereka menyelamatkan orang-orang yang sedang dalam bahaya dan mencoba tersenyum meskipun merasakan sakit. Sedangkan aku hanya menyelamatkan orang-orang hanya untuk kepentingan ku sendiri, aku sesungguhnya tak peduli pada semua tahanan itu namun hal mengenai menyelamatkan mereka hanya untuk alasan pribadi saja. “Kalau begitu temui aku di air mancur tepat di depan guild sore nanti!” ucapnya sambil tersenyum ramah pada ku. “Okelah, kalau begitu aku akan pergi sekarang, sampai jumpa nanti Systine!” ucap ku sambil beranjak dari duduk dan mulai berjalan keluar dari guild. “Sampai jumpa!” jawab Systine sambil melambai-lambaikan tangannya pada ku. Aku pun berjalan dengan perlahan keluar dari bangunan guild ini, aku menyadari bahwa ada seseorang yang sepertinya aku kenal, sedang mengamati ku dengan rasa haus darah yang besar dari kejauhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN