Pelajaran bagi Bergh

1526 Kata
Aku berjalan ke luar dari guild dengan perlahan sembari mengamati keadaan sekitar. Aku sudah menyadari ada sepasang mata yang mengikuti ku begitu aku keluar dari guild. Tekanan yang terpancar dari orang yang diam-diam mengikuti ku, terasa berat dan gelap sehingga aku menyadari bahwa orang ini memiliki niat yang buruk terhadap ku. “Mari kita lihat apa yang akan dia lakukan pada ku,” pikir ku sambil menggiring orang ini ke tempat yang sepi dari keramaian. Aku mengenal orang yang mengikuti ku sedari tadi ini, kami bertemu siang ini di guild dan seperti yang ku harapkan darinya, dia memang memiliki niat yang buruk pada ku. Sebelumnya saat aku berjalan perlahan keluar dari bangunan guild adalah untuk membuat pria ini mengambil tindakan dan masuk terhadap perangkap ku. Aku kesal terhadap kata-kata pria ini begitu mata kami bertemu sebelumnya, dia merendahkan ku hanya karena aku adalah seorang anak-anak. Pria yang mengikuti ku sedari tadi tidak lain adalah Bergh. Seorang petualang dari guild Reistess yang sepertinya cukup kuat jika di lihat dari penampilannya saja. Namun, jika kekuatan orang ini di ukur dari batu altar maka menurut ku tingkatannya hanya akan sampai di tahap inti mana Bravery, dan jika di lihat dari ukuran pedang yang sepertinya menjadi kebanggaannya maka class orang ini hanyalah Executioner. Namun karena ego yang yang sangat tinggi dan merasa perempuan yang disukainya sedang di ganggu, dia menjadi tak bisa melihat sebuah gunung besar yang menjadi jarak antara kekuatan kami berdua. Dia telah salah membuat ku kesal saat itu dan bukannya meminta maaf, dia malah menunjukkan taringnya pada ku. Jika saja Systine tak menghentikannya tepat waktu tadi saat di guild, mungkin saja aku sudah menarik kepalanya dan membuatnya terpisah dengan tubuhnya yang berdiri. Aku terus berjalan menuju sungai tempat aku membunuh kedua penguntit dari organisasi Camazot. Bergh terus mengikuti ku dari jarak sekitar lima meter dari ku, dia berjalan dengan santai sambil sesekali menyembunyikan dirinya ketika aku menoleh ke kanan dan kiri. Ketika sudah hampir sampai di sungai, aku mendengar bunyi pedangnya yang di angkat keluar dari punggungnya. Bergh sepertinya bersiap menyerang ku ketika keadaan benar-benar sepi dan tak ada saksi mata. Sepertinya Bergh tak sadar dengan orang-orang yang merupakan kelompok di bawah kendali ku yang bernama Yami, sedang bersembunyi di jarak lima belas meter dari kami berdua. Sepertinya para Yami masih menantikan perintah ku selanjutnya dan memilih berada di sekitar ku untuk berjaga-jaga. Bergh mengangkat pedangnya dan kemudian berlari ke arah ku sambil mengayunkan pedangnya ke arah ku. “Matilah Bocah!!” teriak Bergh ketika hampir sampai kepada ku. Swing.... Aku tetap dia tak bergeming untuk menunggu saat-saat pedangnya akan mengenai ku, di saat-saat itulah aku menghindari serangannya yang sangat jelas dan sangat mudah untuk di prediksikan. Dengan ukuran pedangnya yang amat besar bahkan lebih besar dari pada aku, menghindari serangannya sangat-sangat mudah. Aku menghindari serangannya hanya dengan sedikit bergeser dari tempat ku berdiri dan memalingkan tubuh ku agar berhadapan dengan Bergh. “Astaga... jika kau ingin melakukan serangan kejutan, maka jangan bersuara adalah solusinya,” ucap ku sambil tersenyum kepada Bergh. Wajah Bergh semakin memerah mendengar perkataan ku. Dia mengangkat pedangnya dan kembali menyerang ku secara bertubi-tubi. “Lihatlah gerakan mu, sangat kaku bahkan dengan serangan ini kau tak akan bisa mengalahkan seekor landak besi!” ucap ku sembari menghindari semua serangan dari Bergh. “Senjata mu juga terlalu besar! Lihatlah bahkan kau memerlukan banyak kekuatan untuk sekedar mengayunkannya,” tambah ku. Bergh menghentikan serangannya karena mulai kehabisan nafas. Dia terlihat tersengal-sengal saat bernafas karena bergerak secara berlebihan melewati batas tubuhnya. Caranya bernafas mengingatkan ku pada seekor babi yang kelelahan. “Hey apa kau sudah selesai?” tanya ku pada Bergh. Bergh tak menjawab ku dan hanya mencoba mengatur nafasnya untuk normal kembali. Keadaannya sangat menyedihkan sampai-sampai aku tak bersemangat untuk memberinya pelajaran. Namun aku harus memberinya pelajaran agar dia tak melakukan hal yang sama pada ku atau bahkan orang lain. “Kau ingin tau serangan yang sebenarnya? Maka berusahalah untuk tak mengedipkan mata mu kali ini!” ucap ku pada Bergh. Aku bergerak dengan cepat ke arah Bergh dan memukul bagian perutnya begitu sampai di hadapannya. Tubuh besar Bergh sedikit terpental ke belakang dan dia menjatuhkan pedangnya hingga akhirnya kehilangan kesadaran dalam keadaan tengkurap. “Sepertinya aku berlebihan,” ucap ku saat sadar bahwa Bergh saat ini sudah tak sadarkan diri. “Hmm... sudahlah, toh dia juga pantas menerimanya,” tambah ku. Aku mengambil air dengan menggunakan wadah yang kubuat dari sihir tanah. Setelah itu aku duduk di atas badan Bergh yang tengah tak sadarkan diri dan menahan kaki nya menggunakan sihir tanah agar dia tak bisa bergerak atau pun membalikkan tubuhnya saat sadar. Aku kemudian menyiramkan air tadi ke wajahnya agar Bergh sadar dari pingsannya. Byurrr.... Sesaat setelah aku menyiramkan air ke wajahnya, ia langsung sadar dan mulai kebingungan dengan keadaan yang menimpanya sekarang. “Kau bocah! Turun dari tubuh ku!” ucapnya saat melihat aku duduk di punggungnya. Sepertinya dia masih belum mau mengaku kalah pada ku meskipun telah ku buat pingsan tadi. Aku mengeluarkan pedang ku kemudian meletakkan ujungnya yang tajam di samping lehernya. Saat aku melakukan ini, Bergh mulai tenang dan diam tanpa berbuat apa-apa lagi yang membuatku kesal. “T-tolong jangan b-bunuh aku,” pinta nya dengan memelas pada ku. “Hmm... begitu lebih baik,” ucap ku sambil menarik kembali ujung pedang ku dari lehernya. “Astaga aku tak tau apa yang di pikirkan Roku saat meloloskan mu untuk menjadi petualang,” tambah ku. Tubuh dari Bergh terasa sedikit gemetar saat ini. Pria besar ini sungguh takut akan kematian hingga dia menjadi diam bahkan tanpa ku suruh sekalipun. Aku berpikir membunuhnya terlalu berlebihan untuk menjadi hukuman baginya maka dari itu aku memutuskan untuk melakukan hal lain terhadapnya. “Kau tenanglah, aku tak akan membunuh mu!” ucap ku pada Bergh. Saat mendengar ini, aku bisa merasakan bahwa Bergh menghembuskan nafas lega karena nyawanya tak dalam ancaman. “ Namun setelah apa yang kau lakukan pada ku hari ini, maka tak mungkin aku membiarkan mu pergi tanpa harus menghukum mu, bukankah begitu?” tambah ku sambil menepuk punggungnya dan mulai berdiri. “L-lalu seperti apa hukuman ku?” tanya Bergh dengan menunjukkan mata memelas. Aku kemudian terpikirkan sebuah hukuman yang sangat cocok baginya dimana dengan dilakukannya hukuman ini, maka ku pastikan bahwa dia akan selalu mengingatnya seumur hidupnya. “He he, kau pilih saja! Telunjuk? Ibu jari? Atau jari manis?” ucap ku sambil tersenyum padanya. Bergh menatap ku dengan pandangan kebingungan dan ketakutan atas apa yang ku katakan terhadapnya. Kepalanya terlihat mulai mengucurkan keringat meskipun suasana hutan di samping sungai ini sangatlah sejuk. Mulutnya gemetar seakan ingin mengatakan suatu hal namun terlalu ketakutan untuk mengatakannya. “Hmm? Kenapa kau terdiam? Jawab aku, kau pilih yang mana?” ucap ku sambil menebas-nebaskan pedang ku ke angin. “J-ja-jari m-manis,” ucapnya dengan mulutnya yang gemetar. “ Bagus! Kau ingin memotongnya sendiri atau aku yang memotongnya?” tanya ku padanya. “T-tolong potongkan untukku!” jawab Bergh sambil menundukkan kepalanya ke tanah. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung memotong jari manis dari tangan kanannya dengan cara menancapkan pedang ku ke atasnya. Jari manis dari Bergh langsung terpotong selayaknya sayuran yang di potong menggunakan pisau dapur. “Aghhhhhmmmmmmm,” teriak Bergh sambil berusaha menahan sakit dengan cara menggigit bibir bagian bawahnya. “Baiklah kau bisa pergi sekarang, dan cobalah ingat untuk menjaga kelakuan mu,” ucap ku sambil melepaskan sihir yang menjerat Bergh. “Jika kau masih tak menjaga kelakuan mu maka jangan salahkan aku suatu saat leher mu yang akan ku tebas!” tambah ku. Bergh berusaha bangkit dari keadaan tengkurap dan berusaha menahan sakit di tangan kanannya. Dia mengambil pedangnya menggunakan tangan kirinya dan berjalan sambil menyeret pedangnya. Namun, beberapa langkah dia baru berjalan, aku menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu yang berkaitan dengannya. “Hey tunggu dulu!” ucap menghentikan langkahnya. Bergh memalingkan wajahnya dan melihat ke arah ku sambil berusaha menahan sakit di tangan kanannya. “Mulai hari ini jangan pernah ganggu Systine atau Resepsionis yang lain, jika kau masih melakukannya maka kau akan menerima akibatnya! Paham?” ucap ku pada Bergh. Bergh menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti dan mulai berjalan kembali meninggalkan aku di sini. Seharusnya dengan kejadian hari ini, dia akan berhenti bertingkah sok kuat dan mulai menjadi lebih baik. Setelah yakin Bergh telah pergi jauh dari sini, aku memanggil semua anggota Yami yang tengah bersembunyi menutupi diri sedari tadi. “Yami menghadap kepada ku sekarang!” ucap ku. Dalam sekejap semua anggota Yami yang berjumlah 20 orang, mulai berbaris dan bersujud ke arah ku. Mereka melakukan benar-benar seperti yang aku perintahkan, keseluruhan dari anggota Yami telah merubah penampilannya bahkan seperti penduduk biasa. “Baguslah kalian benar-benar melakukan seperti yang aku perintahkan!” ucap ku memuji mereka. “Sekarang aku ingin membagi kelompok ini menjadi 4 bagian dengan satu pemimpin kelompok di setiap kelompoknya!” tambah ku. “Siap tuan!” jawab seluruh Anggota Yami dengan serentak. Seluruh anggota Yami tetap tak mengangkat kepalanya meskipun telah menjawab perkataan ku. Sepertinya mereka benar-benar menaruh hormat yang tinggi pada ku atau mungkin merasa takut pada ku. “Angkat kepala kalian saat menjawab perkataan ku!” ucap ku dengan meninggikan suara. Dengan serentak mereka benar-benar melakukan apa yang aku suruh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN