Duel dengan Adam

1575 Kata
Aku merasakan bahwa Adam sedang menahan kekuatannya saat menyerang pertama kali. Aku bisa mengetahuinya karena aku sudah pernah berduel dengannya dulu. “Oy Adam, kau terlalu meremehkan ku sekarang, apa yang membuat mu ragu?” ucap ku pada Adam sambil mengambil jarak dengannya untuk mempersiapkan serangan. Adam menatap ku sambil memegang perutnya yang aku tendang barusan, seperti ada hal yang dia ingin katakan namun dia hanya memendamnya. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia katakan namun karena bagi ku berhubungan dan bahkan menjadi bagian di organisasi ini adalah hal yang tak bisa di ampuni. Mereka tak mempedulikan nyawa sesama manusia demi memenuhi keinginan pribadi mereka, di mana pun manusia berada mereka tak pernah berubah, mereka hanya makhluk egois yang mementingkan diri sendiri meskipun ada nyawa yang menderita di depannya. “Mana nafsu membunuh mu yang tadi kau keluarkan seperti badai yang menerpa sebuah kota, mana kekuatan mu yang dulu kau keluarkan saat berlatih tanding dengan ku, ayo buktikan bahwa kau pria terkuat di sini!” ucap ku pada Adam Adam hanya menatap ku tanpa merespon apa-apa, aku merasa kesal dengan apa yang dia lakukan. Dengan energi mana yang telah ku salurkan dan menyebar merata di seluruh tubuh ku, aku bergerak menuju Adam dengan kecepatan kedipan mata sambil mengayunkan pedang ku kuat-kuat lurus ke kepala dari Adam. Adam yang hampir tak siap dengan serangan ku hanya bisa mengandalkan pedangnya untuk menahan serangan ku saat ini, Adam sampai berlutut ketika menahan serangan ku dan saat dia berlutut, aku menendang dengan keras kepala dari Adam namun masih bisa dia tahan dengan tangan kirinya sehingga membuat Adam terlempar ke sisi arena. Adam berdiri meringis menahan sakit akibat serangan ku, terlihat tangan kirinya bergetar seusai menahan tendangan dari ku. “ADAAAAAAM!!” tiba-tiba pemimpin organisasi teriak dengan sekuat tenaga. “Buka segel mu dan berikan bocah sombong itu kematian yang mengerikan, hancurkan bocah itu sampai berkeping-keping hingga dia menyesal karena dilahirkan, " tambahnya sambil melotot ke arah Adam. Adam menganggukkan kepalanya ke arah pemimpin organisasi sebagai tanda bahwa dia mengerti. Adam menancapkan pedang nya ke arena dan mulai berdiri sambil merapalkan kata-kata yang aneh bahkan aku tak mengerti apa yang dia katakan. “misokatra ny tombo-kase milaza aminao aho mba hanaiky ahy ary omeo hery handresena ny fahavaloko,” ucap Adam merapalkan bahasa yang aku tak mengerti sambil menutup matanya agar bisa berkonsentrasi. Saat Adam telah selesai merapalkan kata-kata itu tiba-tiba tanah bergetar di ikuti serpihan-serpihan tanah kecil mulai berjatuhan dari langit-langit dan mengenai diri ku yang sedang memperhatikan keadaan sekitar di ruangan ini. Angin yang cukup kencang mulai mengenai ku dengan Adam sebagai pusat dari anginnya. Tubuh Adam mulai mengeluarkan aura hitam pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya, aku merasakan kekuatan Adam meningkat drastis melebihi sebelumnya. Adam mulai membuka matanya dan mencabut pedang yang dia tancapkan di arena tadi sambil mengulurkan tangan sebagai sinyal menantang ku. “Majulah Arvin!” ucapnya dengan pandangan yang merendahkan diri ku. Aku berdiri dengan memasang kuda-kuda ku dengan mantap agar tak tergoyahkan saat menyerang Adam, namun belum sempat aku melangkahkan kaki Adam sudah bergerak ke arah ku dengan kecepatan yang sama seperti ku saat menyerangnya tadi. Aku menahan pedang Adam yang menebas dari atas samping yang menuju ke arah leher ku. “Kalau kau tak maju maka biar aku saja!” ucap Adam sambil menunjukkan senyum jahat pada ku. “Ha ha lihat ekspresi jujur yang kau tunjukkan sekarang!” jawab ku pada Adam sambil berusaha menahan berat pedangnya dengan pedang ku. Adam menendang ku di bagian perut hingga mengakibatkan aku sedikit terlempar, namun aku berhasil menjaga keseimbangan tubuh ku agar tak jatuh. Tanpa memberi jeda Adam bergerak dengan cepat ke arah ku sambil mengayunkan pedangnya secara bertubi-tubi. Sebelum Adam sampai ke arah ku, aku mendapatkan penglihatan masa depan dimana arah serangan yang akan Adam keluarkan pada ku di beberapa detik di masa depan sehingga membuat ku bisa menahan semua serangannya meskipun sangat cepat dan presisi. Atas, bawah, menyamping, tendangan, pukulan dan bahkan serangan kejutan yang mengarah ke leher ku bisa aku hindari dan aku juga bisa memberikan serangan balasan yang menyebabkan bisep kiri dari Adam robek dan dia tak bisa menggunakannya sekarang. Adam menghentikan serangannya dan berdiri di sudut arena sambil melihat lengan kirinya yang terluka dengan daging di bisepnya yang terlihat jelas. “Ada apa kawan? Itu hanyalah luka kecil” ucap ku sambil tersenyum pada Adam yang memperhatikan lengan kirinya. "Kemana rasa percaya diri mu tadi? Apa kau hanya suka menggertak? Ayolah kawan aku tak percaya hanya ini kemampuan mu" tambah ku untuk memancing emosi dari Adam. Adam mengangkat pedangnya dan mengayunkan pedang itu lengan kirinya, dia memotong lengan kirinya tanpa ragu dan tanpa ekspresi kesakitan. Aku hanya melihatnya di sudut arena lainnya. Adam bergerak ke arah ku dengan kecepatan yang mengerikan yang lebih cepat dari pada sebelumnya karena menggunakan sihir angin sebagai tambahan dorongan untuk tubuhnya. Aku juga bergerak ke arah nya agar bisa menahan dan menyerang kembali Adam. Pedang kami saling beradu hingga mengakibatkan percikan bunga api, serangan demi serangan kami keluarkan agar dapat saling menumbangkan satu sama lain. Di saat pedang ku meleset, Adam mencipratkan darahnya yang masih mengalir di lengannya ke arah mata ku agar penglihatan ku terganggu. Saat darah mengenai mata ku, dalam beberapa saat penglihatan ku terhalang oleh noda merah dan aku tak bisa melihat dengan jelas. Adam dengan keras menendang ku dengan keras hingga aku terhempas dan jatuh dengan terlentang. Aku membersihkan mata ku dari darah yang di lemparkan oleh Adam, dan saat penglihatan ku kembali pulih. Adam sudah dalam posisi melompat dengan pedang yang siap menancap di tubuh ku. Aku menggulingkan tubuh untuk menghindar dari serangan itu. Aku berusaha berdiri dengan menahan rasa sakit di tubuh karena tendangan dari Adam yang mengenai tubuh ku. “Ada apa? Apa kau sudah lelah?” ucap Adam sambil mencabut pedangnya. "Lihat siapa yang suka menggertak di sini sekarang? apa kau atau aku?" tambah Adam. “Apa kau bercanda? Ayo kita selesaikan ini” ucap ku sambil mencoba berdiri dengan benar. Aku mencoba mengaktifkan petir hitam ku sebagai sihir pendukung sekaligus bisa menyerang. Aku akan mencoba menahan kesadaran diri ku agar tak pingsan saat menggunakan petir hitam ini, namun bukannya memberikan efek samping tapi petir hitam ini mulai terhubung dengan tubuh ku saat ini. Meskipun tak sempurna, ini merupakan keuntungan besar bagi ku karena menandakan bahwa kekuatan ku meningkat drastis. Aku hanya bisa berspekulasi bahwa ini adalah efek dari bola cahaya yang di berikan Varen pada ku. Semua orang di ruangan ini sangat terkejut saat aku mengeluarkan petir hitam dari tubuh ku. Petir hitam yang hampir menyelimuti tubuh ku dan pedang yang ku pegang saat ini. “P-p-petir macam apa itu?” ucap Roku sambil terbata-bata dan memandang ku takjub. Bahkan pemimpin organisasi yang tadinya hanya duduk memperhatikan pertarungan ku dengan Adam, mulai berdiri dan memandang ku dengan pandangan takjub akan hal yang kulakukan. Sedangkan Adam hanya memandang ku sinis dan meningkatkan kewaspadaan nya. “Bersiaplah Adam!” ucap ku pada Adam sambil mengacungkan pedang ku ke arahnya. Aku bergerak dengan kecepatan yang tak bisa di lihat dengan mata telanjang, belum sempat Adam tersadar akan kehadiran ku di samping nya, aku segera memotong paha belakang milik Adam yang menyebabkan dia jatuh tersungkur dengan satu kaki yang berusaha menopang berat tubuhnya. Aku segera kembali ke tempat ku semula untuk mempersiapkan serangan berikutnya. Adam menjatuhkan pedangnya saat terjatuh sambil memegang pahanya yang terluka parah sambil gemetaran. Aku mencoba memberi jeda agar dia merasakan sakit yang di akibatkan luka dari ku. Melihat dia yang sedang berlutut di depan ku adalah hiburan tersendiri bagi ku. “Arghhhh... apa? Apa yang kau lakukan?” teriak Adam sambil memegangi pahanya. "Arviiiin... kau b******n!!" tambah Adam sambil menatap dengan pandangan yang ingin membunuh ku. “Ohh kenapa baru sekarang kau merasakan sakit? Kemana kepercayaan diri mu tadi Adam?” jawab ku pada Adam yang masih dalam keadaan berlutut. “Apa kau tau Adam? Aku tak akan mengampuni mu meskipun kau memohon pada ku” tambah ku. Darah masih keluar dari lengan dan paha Adam yang terluka parah, terlihat Adam juga semakin pucat karena kehilangan darah secara berlebihan. Bahkan jika ku biarkan dia dalam keadaan begini, tak lama lagi dia akan mati karena kehilangan darah. “Ayolah Adam aku bosan menunggu mu, cepatlah serang aku!” ucap ku pada Adam. Adam berusaha berdiri dengan keadaannya yang sekarang namun tak berhasil melakukannya karena kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya. Namun bukannya menyerah adam menggunakan sihir tanah untuk menyerang ku yang berada di depannya. “EARTH SPIKE!” teriak Adam di ikuti dengan munculnya pilar tanah dengan ujung yang tajam mengarah ke kepala ku. Aku menghindari pilar tanah itu dengan memiringkan tubuh. Sesaat pilar tanah itu meleset untuk mengenai ku, pilar-pilar tanah yang lain mulai muncul dan berusaha menusuk tubuh ku. Aku menghindari semua pilar tanah itu tanpa kesulitan sedikit pun. “Hanya inikah yang kau punya?” ucap ku pada Adam yang berusaha menargetkan pilar tanahnya pada ku. Tanpa ku sadari sebuah tombak tanah melesat dan mengenai tangan ku hingga berlubang. Roku yang melihat kejadian itu berusaha naik ke arena namun aku hentikan dengan mengangkat tangan ku yang berlobang ke arahnya sebagai tanda bahwa dia tak perlu khawatir dengan luka ini. Aku menghentakkan kaki sampai meninggalkan jejak di arena dan bergerak secepat kilat ke belakang tubuh Adam. Sesampainya di belakang tubuh Adam Aku segera meletakkan pedang ku yang terselimuti petir hitam di leher milik Adam. “Hmm usaha yang cukup baik kawan dan sekarang apa kata-kata terakhir mu?” ucap ku berbisik di telinga Adam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN