Adam

1517 Kata
“Adam apa yang kau lakukan di situ?” teriak ku pada Adam yang hanya berdiri mematung dengan tatapan penuh kebencian dan serasa akan memotong habis apa yang menatap baliknya. Pemimpin dari organisasi ini mulai berjalan mendekati arena tempat Adam berdiri dan masuk ke dalamnya. Ia berdiri di belakang Adam dan kemudian Adam membalikkan dirinya sambil berlutut di hadapan orang itu di ikuti dengan semua orang yang ada di ruangan ini juga ikut berlutut padanya. Aku cukup terkejut dengan apa yang terjadi di depan mata ku saat ini namun tanpa butuh penjelasan dari Adam, aku sudah mengerti apa yang terjadi disini. “Dengarkan aku bocah... aku akan memberi mu kesempatan dimana seharusnya kau mati ketika membunuh anggota dari organisasi suci ku ini namun karena aku sangat tertarik pada api hitam mu jadi kau ku beri kesempatan,” ucap pemimpin organisasi pada ku sembari menunjuk ke arah ku. “Bergabung lah dengan kami atau mati sebagai persembahan!” tambah dia. Aku berusaha menenangkan diri ku untuk saat ini ketika mendengar ucapan dari organisasi ini namun berbeda dengan Roku yang sedari tadi wajahnya terlihat memerah dengan urat di leher, kepala dan tangannya yang membesar sebagai tanda bahwa dia sedang marah besar saat ini. Aku menghalang kan tangan ku pada Roku sebagai isyarat padanya bahwa dia harus tenang untuk saat ini. Roku menatap ku dan mengangguk tanda mengerti sehingga dia juga menenangkan dirinya. Aku menarik pedang ku dan menjawab perkataan dari orang itu. “Aku kesini bukan untuk mendengarkan ocehan mu b*****t, serahkan orang-orang yang kau sandera maka kau akan ku ampuni meski harus memenggal kepala mu saat itu!” Semua orang yang saat ini berlutut pada orang itu termasuk juga Adam, menoleh ke arah ku dengan tatapan yang sama sekali tak menyenangkan. Aura membunuh yang di arahkan kepada ku terasa seperti amukan ombak di tengah pantai yang terjadi badai. Aku membalas tatapan mereka dengan senyuman ramah yang malah membuat mereka menjadi semakin kesal dengan tingkah ku. “Ha ha ha tujuan yang sangat mudah di tebak!” jawab pemimpin organisasi itu. Dia kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara dan tanah mulai bergetar kembali namun kali ini bukan arena yang keluar dari dalam tanah melainkan 4 buah kurungan besar yang berisi banyak orang di dalamnya. Saat kurungan ini muncul dari dalam tanah, orang-orang yang ada di dalam kurungan berontak menginginkan keluar dari dalamnya sambil berteriak minta tolong. Perlakuan nya yang kejam ini membuat ku semakin ingin memotong tubuhnya sedikit demi sedikit agar dia tersiksa, namun kali ini aku harus fokus untuk menyelamatkan para sandera dahulu. “Lihatlah mereka bocah, mereka adalah manusia sesat seperti mu yang akan menjadi persembahan bagi Dewa agung kami” ucap pemimpin organisasi itu. “Namun akan ku buat satu kondisi untuk mu saat ini!” tambahnya. Seharusnya tak perlu di katakan saja aku mengerti apa niatnya yang terlihat dari ekspresi yang di buatnya saat ini. Namun agar seluruh orang di sini tau tentang apa yang di inginkan nya maka aku akan bertanya tentang kondisi itu. “Apa itu?” tanya ku singkat. Pemimpin organisasi menunjukkan senyumnya yang mengerikan pada ku sambil berkata. “Bertarung lah dengan Adam sampai salah satu dari kalian mati!” Adam tersentak saat mendengarkan ini dan aku merasa hawa membunuh yang di keluarkan nya semakin kental, lebih kental dari pada saat aku menghina pemimpin organisasi ini. “Jika kau menang maka seluruh sandera akan aku lepaskan secara sukarela sedangkan jika Adam yang menang maka kau dan teman mu akan menjadi persembahan bagi Dewa agung kami!” tambahnya. Jika di lihat dari ekspresi orang itu maka sepertinya dia sangatlah percaya diri akan kekuatan dari Adam dan fakta bahwa aku mempunyai api hitam yang tak bisa di padamkan oleh siapapun kecuali aku maka akan membuat angin segar terhadap ku saat ini. “Baiklah tantangan mu aku terima tuan Rasul,” ucap ku sambil tersenyum kecil. Aku berjalan perlahan sambil membawa pedang ku di jalan yang telah di sediakan melewati para pengikut Dewa Camazot yang sedang bersujud. Sebelum sampai di arena, aku mengingatkan Roku terlebih dahulu agar tidak lengah. “Roku dengarkan aku, jangan turunkan kewaspadaan mu dan tetaplah memegang senjata setiap saat karena kita tak tahu apa yang mereka rencanakan,” bisik ku pada Roku. Roku hanya menganggukkan kepala tanda dia mengerti. "Langsung bunuh saja siapapun yang mendekat ke arah mu!" tambah ku dan Roku kembali menganggukkan kepalanya Sesampainya di samping arena, aku langsung melompat masuk kedalam arena itu yang tengah di isi oleh Adam yang sedang berlutut pada pemimpin organisasi yang berdiri di hadapannya. “Keluarlah tuan Rasul bukankah kau ingin aku bertarung dengan Adam,” ucap ku sambil bertingkah membersihkan pedang untuk memancing emosi dari Adam. “Jangan khawatir tuan Rasul, aku sebagai akhir mu akan memberi mu kematian yang sama sekali tak menyenangkan yang tak di harapkan semua manusia yang hidup di sini!” tambah ku. Pemimpin organisasi itu hanya tersenyum saat aku mengatakan itu dan mulai berjalan keluar dari arena menuju ke altar. Adam yang sedari tadi berlutut, mulai berdiri kembali dan membalikkan badan agar bisa menghadap ke arah ku. Ekspresi yang sama sekali tak ramah dia tunjukkan kepada ku saat ini dengan energi mana yang terasa lebih kuat dari pada saat kami berlatih tanding dulu. Namun aku tetap tenang karena aku yakin akan memenangkan ini dengan mudah. “Yo Adam... bukankah harusnya sapaan yang kau lontar kan kepada ku saat bertemu teman lama seperti ku?” ucap ku pada Adam yang hanya berdiam diri mematung sambil melihat ke arah ku. “Arvin kau menjadi lebih kuat!” jawab Adam tanpa melakukan apapun kecuali menatap tajam ke arah ku. “Yah begitulah ngomong-ngomong dimana yang lain? Mana anggota Horn of Knight? Apa mereka tak bersama mu?” tanya ku kembali. Saat mengatakan ini ada sedikit ekspresi murung yang Adam tunjukkan, ekspresi yang menandakan penyesalan dan putus asa yang sangat dalam. Aku bisa mengerti apa yang terjadi hanya dari melihat ekspresi yang dia keluarkan. “Aku sudah membunuh mereka semua!” Aku telah mengerti apa yang dia katakan bahkan sebelum dia mengatakan hal itu karena hati dari manusia tak bisa bohong. Namun aku tak menyangka saja bahwa dia benar-benar melakukan hal itu pada kelompok yang dibangun sekian lama olehnya, dia mengabaikan hubungan dan solidaritas dengan sesama teman yang selalu tolong-menolong di setiap keadaan. “Yah... aku sudah menyangka bahwa kau manusia yang seperti itu, jadi hal itu tak lagi mengejutkan ku,” ucap ku sambil merenggangkan tubuh ku agar tak kaku saat bergerak. “Sebelum kita bertarung bolehkah aku bertanya beberapa hal pada mu?” tambah ku. “Apa itu?” ucap Adam sambil mengernyitkan dahinya. “Apa kau yang mengirimkan dua orang tak berguna dan lemah untuk mengikuti ku dan menangkap ku saat lengah?” tanya ku pada Adam. Adam mengepalkan tangannya dan serasa ingin menerkam ku saat ini. “Ya itu aku!” jawab Adam. Aku tersenyum kecil saat Adam mengatakan itu, karena aku memang berencana membuatnya marah agar semakin mudah mengalahkannya nanti. “Ha ha ha... kau meremehkan aku kawan, bukankah kau sudah pernah berlatih tanding dengan ku namun kenapa kau masih mengirimkan orang lemah untuk menangkap ku,” ucap ku sambil tertawa terbahak-bahak untuk memancing kemarahan dari Adam. “Ya kau pasti tau akhir dari mereka bagaimana, aku memenggal salah satunya dan yang tersisa aku ikat kan batu lalu ku tenggelam kan di sungai,” tambah ku. Adam semakin kepanasan dan semakin tak bisa mengontrol dirinya untuk saat ini, namun semua yang kulakukan sia-sia karena teriakan dari pemimpin organisasi itu. “ADAAAAAMM!” teriak nya dengan keras dari altar. “Jangan beri ampun bocah itu, tunjukkan kekuatan dari seseorang yang bergelar manusia terkuat di sini pada bocah itu... bunuh diaaaaaa!!” tambahnya dengan masih berteriak sekuat tenaga. Adam menoleh ke arah pemimpin organisasi kemudian menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia kembali menoleh ke arah ku dan memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang. “Tuan Rasul duduklah di sana hingga aku menghampiri mu setelah ini,” ucap ku sambil mengacungkan pedang ku pada Pemimpin organisasi itu. “Ayo kita hentikan omong kosong ini dan bertarung sampai mati... Adam !” ucap ku pada Adam sembari memasang kuda-kuda bersiap namun kuda-kuda yang ku pasang adalah seni ilmu pedang untuk mempermalukan nya saja dan membuat dia kehilangan kesabaran saat melawan ku. “Apa-apaan kuda-kuda itu? Apa kau meremehkan ku Arvin?” tanya Adam menunjukkan ekspresi marah. “Ha ha ha jangan pikirkan itu serang lah aku kapan kau mau,” ucap ku sambil tersenyum kepada Adam. Adam menyalurkan energi mananya ke seluruh tubuhnya dan menggunakan sihir angin sebagai tambahan tenaga dorongan sehingga dengan cepat menuju ke arah ku. Adam langsung mengarahkan pedang nya ke tenggorokan ku, dengan tubuhnya yang besar dan bisa bergerak secepat itu akan membuat siapapun kencing di celananya karena kaget. Aku menangkis serangannya dengan bergerak ke samping dan menabrakkan punggung pedang ku ke pedangnya yang masih melanjutkan serangan ke arah ku. “Ho ho kau berbeda dari sebelumnya, ini sangat cepat tapi... bukan tidak mungkin aku bisa menghindarinya,” ucap ku pada Adam saat berhasil menangkis serangannya dan berhasil menendang dia di bagian perutnya sehingga dia sedikit tersentak dan berhenti tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN