Aku mengatakan itu bukan karena aku membenci Roku sepenuhnya namun seseorang yang di kuasai oleh amarah dan tak dapat mengontrol dirinya hanyala seorang beban bagi ku. Jika dia benar-benar ingin menyelamatkan adiknya yang tertangkap maka dia harus melakukan semuanya sesuai dengan arahan ku karena dia yang meminta bantuan ku.
“ lMaafkan aku teman kecil, aku hanya sangat marah ketika melihat mereka!” ucap Roku dengan menunjukkan mata sayu sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Dengarkan aku kawan, aku tau kau marah, aku tau kau ingin membantai mereka dengan kejam tapi ingatlah tujuan mu yang sebenarnya datang kesini,” ucap ku sambil duduk di depan Roku yang sedang meratap.
“Kau disini untuk menyelamatkan adik mu dan aku disini karena kau meminta bantuan ku, karena kau percaya padaku kawan,” tambah ku.
“Ya kau benar teman kecil, ayo kita lanjutkan lagi!” ajak Roku sembari berdiri dari keadaan terduduk.
“Ikuti arahan ku, lakukan dengan cepat dan tanpa membuat suara yang berlebihan oke!” ucap ku pada Roku sembari menarik pedang ku kembali.
“Oke!!” jawab Roku dengan mantap.
Roku kembali menyalurkan energi mananya ke seluruh tubuh agar bisa meningkatkan fungsi tubuhnya dan mempermudah semua gerakan yang di buatnya. Karena terjeda dengan kejadian tadi, maka seluruh kelompok terlihat bergerak melakukan rotasi penjagaan seluruh wilayah. Kami harus melakukan penyergapan le seluruh kelompok sebelum mereka mengetahui bahwa ada kelompok yang telah di kalahkan melalui mayat para penjaga yang kami kalahkan.
Aku dan Roku berlari tanpa mengeluarkan suara dengan bantuan aliran energi mana kami salurkan ke kaki kami. Setelah hampir sampai pada kelompok yang ketiga, seseorang dari kelompok itu yang berada di barisan paling belakang menyadari keberadaan kami dan mencoba membuat signal pada kelompok lain. Rokj menyadari gerakan dari orang itu dan kemudian melompat dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Roku menggorok leher orang itu hingga orang itu terpelotot dengan memegang lehernya yang berlumuran darah sambil jatuh secara perlahan. Semua orang yang tersisa di kelompok itu mulai tersadar akan perbuatan kami saat temannya yang terbunuh mengeluarkan suara. Aku mengayunkan pedang ku dengan kuat pada leher dari ketiga orang yang berbaris berlari dari kejaran ku. Satu persatu kepala dari ketiga orang itu mulai terlepas dari leher mereka dengan potongan yang sangat presisi.
Roku mendengarkan dan melakukan dengan baik arahan yang aku berikan kali ini dimana masih tersisa dua orang yang masih berdiri sambil berusaha mengeluarkan senjata mereka dalam keadaan panik, Roku memanfaatkan kesempatan seperti ini dana menusuk bagian vital dari mereka yang membuat mereka mati secara langsung tapa bisa melawan balik. Roku sudah melakukan tugasnya dengan baik dimana dia membantai para penjaga secara efektif dan cepat.
Malam semakin larut namun sinar bulan semakin terang menyinari hutan Grool dengan terangnya. Kelompok demi kelompok kami kalahkan tanpa ada perlawanan berarti dari mereka, jasad-jasad tubuh dari para penjaga yang berserakan di tanah dengan banyak anggota tubuhnya yang tak menyatu. Pedang ku yang biasanya selalu bersih sekarang tengah di penuhi noda merah yang beraroma besi, begitu juga dengan Roku yang sekarang tengah merasakan kepuasan dari kegiatan yang kami lakukan tadi.
“Ayo kita langsung serang saja!” ucap Roku pada ku.
“Tunggu aku akan memeriksa mereka dulu,” jawab ku sambil mendeteksi apa yang para penjaga lakukan di dalam. Mereka hanya berbincang satu sama lain ada juga yang bercanda dan melakukan permainan kecil namun aku khawatir dengan jumlah dan kekuatan mereka, karena aku dan Roku mustahil melawan mereka dalam jumlah sebanyak ini.
“Ayo kita serang dari arah lain jangan langsung dari pintu depan!” ucap ku pada Roku sembari berjalan menuju salah satu jendela dan membukanya. Roku hanya menuruti dan mengikuti ku tanpa bertanya apapun seperti biasanya. Kami memasuki jendela yang aku buka sebagai jalan masuk ke dalam gereja namun untuk ke bawah tanah kami harus menggunakan pintu depan sebagai jalan utama dan satu-satunya untuk ke ruangan bawah tanah.
“Begini rencananya kau bantu aku menggunakan panah dan aku akan menerobos ke arah mereka, sebisa mungkin jangan gunakan sihir mu karena di bawah sana mungkin akan ada yang menyadari kita,” ucap ku pada Roku.
Roku mengeluarkan panah dan langsung bersiap membidik mereka, aku juga bersiap untuk melompat ke arah mereka tepatnya di tempat orang paling depan berada.
“Saat aku sudah melompat, panahlah orang yang ada di paling belakang ku!” ucap ku pada Roku.
Roku hanya merespon dengan anggukan kepala yang mengisyaratkan bahwa dia telah mengerti apa tugas yang harus di lakukan nya, yaitu membantu ku dari belakang. Aku melompat ke penjaga paling depan sambil menebaskan pedang ku hingga tubuh penjaga itu terbelah menjadi dua. Penjaga yang lain menghentikan kegiatannya dan menarik senjata kemudian berlari ke arah ku. Aku melihat penjaga yang paling belakang juga terkapar dengan anak panah di d**a kirinya. Semua penjaga yang ada di sini menyerang ku dengan membabi buta, aku hanya bisa menangkis dan menyerang jika ada celah sedangkan selebihnya aku mempercayakan Roku agar memanah mereka satu persatu. Berbeda dengan penjaga di luar, para penjaga ini sangat sigap dalam memahami keadaan. Satu orang lagi roboh dengan panah di lehernya, perhatian dari seorang penjaga teralih dengan melihat temannya yang roboh di sampingnya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menancapkan pedang ku di tenggorokan nya. Keseimbangan para penjaga mulai goyah saat beberapa teman mereka gugur di tangan ku, semangat yang tadi mereka tunjukkan mulai goyah dan berubah pasrah pada keadaan. Roku langsung turun dan membunuh mereka satu persatu dengan belati di kedua tangannya hingga keadaan dinding dan lantai di sini penuh dengan noda darah yang tak enak di pandang.
“Aneh... ini terlalu mudah!” pikir ku.
Aku merasa keanehan pada para penjaga ini, sepertinya mereka memang hanya di tugaskan untuk membuat kami percaya diri akan kekuatan kami setelah mengalahkan mereka. Para penjaga di lorong ini sesungguhnya tidaklah lemah bahkan kekuatan mereka sama dengan Roku, dengan kekuatan ku yang sekarang semestinya mustahil untuk mengalahkan atau bahkan menahan serangan dari mereka meskipun secara bergantian. Mereka juga seharusnya mengetahui arah anak panah yang di lepaskan oleh Roku dan Roku pun sepertinya sadar akan hal itu.
“Roku ada yang tak beres di sini!” ucap ku pada Roku sambil memegang pundaknya.
“Iya aku paham teman kecil, seharusnya orang kedua yang aku panah tadi itu tak mati karena dia melihat dengan jelas anak panah ku melesat ke arah nya, namun dia memilih untuk diam... tidak dia lebih memilih mendatangi anak panah ku,” jawab Roku.
“Oleh karena itu saat mereka putus asa aku langsung melompat dan membunuh mereka yang tersisa agar tak membuat masalah,” tambahnya.
“Hmm untuk sekarang ayo masuk ke sana dulu,” ucap ku sambil menunjuk kearah pintu yang ada di depan kami.
Sihir ku mendeteksi lebih banyak orang lagi yang ada di dalam bahkan dua kali lipat dari pada saat aku kesini pertama kali. Aku berjalan menyusuri tangga yang menuju ke arah ruangan bawah tanah. Sesampainya di sana, aku kaget bukan main karena ruangan di bawah sini terlihat semakin besar bahkan seperti pemukiman dalam tanah di mana dengan organisasi Dewa Camazot yang menjadi penghuninya. Mereka semua sepertinya sadar dengan keberadaan kami dan bukannya menyerang kami mereka malah lebih seperti menyambut kedatangan kami.
“Selamat datang Wahai manusia sesat di tempat dimana Dewa Camazot akan dilahirkan kembali!” teriak Seseorang yang tak lain adalah pemimpin organisasi ini di atas altar yang berada cukup jauh dari kami atau mereka biasa menyebutnya dengan Rasul.
“Serahkan nyawa kalian dan persembahkan pada Dewa kami sebagai hukuman bagi kalian para manusia sesat,” tambahnya diikuti dengan sorakan para pengikutnya yang memenuhi ruangan di sini.
Aku dan Roku sangat terkejut dengan perlakuan mereka namun kami berusaha untuk tenang dan tak melakukan hal yang gegabah. Kami berjalan menuruni tangga hingga sampai di ruangan ini dengan menapakkan kaki di atasnya.
Aku mengangkat pedang ku dan mengarahkan pada Rasul itu yang sedang berada jauh dari ku sambil berkata
“Jika aku tak mau terus apa yang akan kau lakukan?”
Rasul itu tersenyum saat aku mengatakan itu
“Aku sudah tau kau akan mengatakan itu jadi ayo kita buat ini lebih menarik,” ucap nya.
Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, tanah bergetar dari dalam. Sebuah lingkaran yang berada di tengah ruangan mulai terbuka sedikit demi sedikit dan sebuah arena yang mirip seperti arena tinju namun lebih luas mulai keluar dari dalam tanah dengan seseorang yang berdiri di atasnya. Seseorang yang tak asing bagi ku saat aku melihat postur tubuhnya, caranya memegang pedang dan tentu saja aura membunuh yang pernah aku rasakan sebelumnya. Saat melihat orang itu, aku sedikit terkejut dengan apa yang aku lihat, seakan tak percaya bahwa itu bukanlah dia dan tak berharap bahwa itu adalah orang yang aku kenal sebelumnya.
“K-k-kau A-a-adam!?” ucap ku terbata-bata karena kaget saat melihat Adam berdiri dia atas arena saat ini.