Aku berlari bersama Roku yang ada di belakang ku saat ini, di tengah hari yang senja kemerahan dan mulai gelap sedikit demi sedikit. Binatang magis yang tak pernah kulihat saat pertama melewati jalan menuju hutan Grool mulai keluar dan mengganggu kami seiring hari mulai menggelap.
“Keluarkan senjata mu, ada beberapa binatang magis yang akan mengganggu di depan kita!” teriak ku pada Roku sambil mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya.
“Oke!” jawab Roku dengan tegas.
Binatang magis yang menghadang jalan kami ada jenis Rat Berk yang berpenampilan seperti campuran antara tikus dan serigala. Besar tubuh dari Rat Berk sendiri seperti ukuran kucing dewasa, Rat Berk memiliki ekor yang sedikit panjang yang dimana memiliki seperti efek pelumpuh jika mengenai ujung ekornya, binatang magis ini tergolong tidak terlalu kuat namun biasanya mereka akan menyerang dalam kelompok yang besar sehingga akan merepotkan jika kami fokus menghabisi sambil berlari menuju hutan Grool.
“Habisi yang menghadang dan menggangu. Yang lainnya abaikan saja!” teriak ku kembali pada Roku.
“Siap teman kecil!” jawab Roku.
Kami terus berlari sembari menebaskan pedang kami kepada Rat Berk yang menghalang jalan kami, satu persatu kami kalahkan tanpa ada kesulitan sedikit pun dan akhirnya sampai pada hutan Grool. Roku membuka tas nya dan mengambil gulungan benang yang lumayan besar ukurannya. Karena tak mengerti untuk apa dia mengeluarkan benang itu aku pun bertanya padanya.
“Untuk apa itu?” tanya ku dengan nada heran.
“He he ini adalah alat yang membuat kita tak lupa dengan lokasi dimana kita masuk, caranya adalah membawa ini selama masuk sambil menebar nya,”jawabnya dengan bangga.
“Bodoh... kau simpan benang bodoh mu dan ikuti aku,” ucap ku sambil mengeleng-gelengkan kepala.
“Apa kau yakin kau bisa memasuki hutan ini tanpa tersesat,” ucap Roku sembari melakukan apa yang aku katakan.
“Tenang saja!” jawab ku singkat.
Kami berdua masuk ke dalam hutan Grool secara perlahan, hutan yang gelap gulita tanpa ada penerangan sedikit pun bahkan ketika siang hutan ini sudah seperti dalam keadaan malam dengan kegelapan yang tak logis di dalamnya hanya saja jika siang hari masih ada beberapa sinar matahari yang tembus dari dedaunan sehingga bisa menjadi sumber cahaya dalam kegelapan.
“Hey teman kecil... kenapa kau masih memilih ke sini pada malam hari jika kau tahu akan gelap sekali?” tanya Roku pada ku sambil memegang pakaian ku agar tak terpisah dari ku.
“Sabarlah... tetaplah berusaha agar tak terpisah dari ku, kegelapan ini akan berubah sebentar lagi,” jawab ku sambil memeriksa apa yang ada di sekitar kami sekarang.
Aku berlutut dan menggunakan sihir deteksi ku untuk melacak sekitar ku, di depan arah jam 11 ada seekor Beruang Fist yang sedang memakan mangsanya, di belakang ku ada peri pohon yang sedang berkumpul sedangkan di kanan dan kiri ku ada beberapa binatang magis yang sedang terbang bergerombol, aku tak tau jenis mereka karena mereka dalam keadaan terbang dengan jumlah yang cukup banyak.
“Apa maksud mu dari akan berubah? Apa kau akan menyalakan obor? Sebaiknya jangan teman kecil karena akan menarik perhatian dari binatang magis dan monster yang ada di sini” ucap Roku membuyarkan fokus ku yang sedang melacak apa yang ada di sekitar.
“Tunggulah sebentar lagi... seharusnya ini sudah waktunya,” jawab ku sembari bangun dari keadaan berlutut.
Keadaan hutan yang tadinya gelap gulita secara perlahan-lahan namun pasti mulai menunjukkan suasana terang, cahaya terang yang di hasilkan oleh cahaya rembulan yang bersinar dengan lembutnya. Cahaya bulan yang berwarna campuran antara putih biru dan sedikit ungu mulai menerangi hutan ini melebihi dari keadaan ketika siang. Roku terpana dan terhipnotis dengan keadaan seperti ini, secara tidak sadar dia melepaskan tangannya dari pakaian ku dan mulai menatap takjub pada pemandangan yang tersuguhkan di depan matanya.
“Wow baru pertama kali aku melihat pemandangan seperti ini,” ucap Roku sembari menatap seluruh isi hutan.
“Teman kecil bagaimana kau tau tentang kejadian ini,” tanya Roku pada ku.
“Kau tak perlu tau itu!” jawab ku sambil berlutut kembali untuk melacak dimana lokasi bangunan gereja tua yang aku masuki sebelumnya.
“Mungkinkah ini alasannya kau ingin kesini saat malam?” tanya Roku kembali.
Aku bangkit dari berlutut karena sudah merasakan ada jejak kaki di arah jam 2. Aku berpikir untuk menggunakan cara ku yang dulu saat di hutan ini untuk melewati para binatang buas Dan monster yang berteritorial di sini.
“Diamlah dan ikuti aku!” ucap ku sambil meloncat ke atas pohon.
Roku mengikuti ku dengan cara yang sama namun mendarat di pohon yang berbeda, aku melompat dari satu pohon ke pohon yang lain bersamaan dengan Roku yang mengikuti aku dari belakang. Setelah beberapa saat berlompatan layaknya seekor kera yang melompat dari satu dahan pohon ke dahan yang lain, aku mengangkat tangan sebagai isyarat untuk berhenti pada Roku karena sihir ku melacak ada beberapa orang yang berjaga di depan, jaraknya mungkin sekitar tiga puluh meteran.
“Baiklah Roku sekarang penyelamatan yang sesungguhnya akan di mulai,” bisik ku pada Roku.
Seperti dugaan ku gereja tua yang di gunakan sebagai markas dari organisasi penyembah dewa Camazot ini telah memperkuat penjagaan nya, dimana sebelumnya hanya 2 orang dalam 1 kelompok penjaga yang mengitari seluruh area luar dari gereja sekarang telah berisi 6 orang per 1 kelompok yang tersebar rata dengan sedikit celah di area luar gereja.
“Aku akan menjelaskan rencana kita untuk menyergap mereka jadi sebaiknya kau perhatikan baik-baik,” tambah ku.
Roku memandang ku dengan pandangan seperti saat kami berduel beberapa hari yang lalu. Aku menggambarkan posisi orang-orang itu dengan gereja sebagai pusatnya. Di luar gereja keseluruhan dari jumlah penjaga mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh orang. Dan di lorong menuju ruangan bawah tanah ada delapan orang yang bersenjata lengkap dengan kekuatan yang melebihi petualang tingkat B.
“Jadi kita akan membunuh mereka semua di mulai dari kelompok yang ada di depan kita sekarang, ketika sudah selesai maka lakukan hal yang sama pada kelompok lain dengan urutan berlawanan dengan jarum jam,” ucap ku pada Roku.
“Lakukanlah dengan cepat dan tanpa membuat suara yang berlebihan, jika ini berjalan lancar maka seharusnya kelompok penjaga lain tak akan sadar dengan apa yang kita lakukan,” tambah ku.
Roku mengangguk yakin sembari mengeluarkan belati dua tangan yang memantulkan cahaya bulan saat di keluar kan. Tanpa aku beri arahan, dia mulai menyalurkan energi mana ke seluruh tubuhnya. Energi mana yang terasa kuat dengan emosi yang terasa kepada diri ku, emosi untuk menyelamatkan adiknya yang tertangkap. Berbeda dengan ku yang butuh waktu sangat singkat untuk menyalurkan energi mana, Roku membutuhkan sedikit waktu untuk melakukannya. Setelah semua siap, aku dan Roku mulai berjalan mendekat pada kelompok pertama.
Aku menggunakan jari ku sebagai aba-aba penyergapan. Ketika jari ketiga ku turun, aku dan Roku langsung berlari dan memotong leher dari para penjaga yang terkejut dan tak siap dengan kedatangan kami saat ini. Dengan kekuatan ku saat ini, memotong tulang di leher manusia sama seperti memotong ranting kering dengan menggunakan pisau dapur. Tak butuh waktu lama, aku sudah mengalahkan empat orang sedangkan Roku terlihat sedang menancapkan belati nya di tenggorokan penjaga hingga belatinya terlihat menembus dari kepala belakang penjaga terakhir itu. Dengan wajah yang merah dan urat-urat yang membesar di kepala dan leher Roku, tatapan yang menunjukkan kebencian besar dengan belati yang tetap menancap di tenggorokan penjaga itu meskipun dia telah tak bergerak karena sudah mati sedari tadi. Roku di kuasai oleh kemarahan yang membuatnya tak mendengarkan apa yang aku katakan sebelumnya, namun untuk saat ini karena masih efektif maka aku abaikan dan melanjutkan nya pada kelompok berikutnya.
“AYO!!” ucap ku sambil berlari pada kelompok selanjutnya.
Seharusnya pembantaian para penjaga ini akan jauh lebih efektif ketika aku dan Roku berpisah membagi dua kelompok, dimana kami membunuh per kelompok sendirian dan bertemu di kelompok terakhir. Namun karena aku khawatir pada keadaan Roku yang kadang memang tak bisa mengontrol emosinya jadi aku mengurungkan hal itu dan pergi bersama-sama.
Sama seperti kelompok sebelumnya kelompok yang kedua sama sekali tak memberikan perlawanan berarti dengan kedatangan kami yang tiba-tiba menyerang mereka. Aku mengalahkan kelima orang yang ada di depan ku seperti memotong rumput dengan silet. Sedangkan Roku yang sedari tadi terlihat sedikit kesulitan melawan satu penjaga akhirnya bisa mengalahkannya dengan gerakan tipuan yang dia lakukan. Aku menghampiri dia yang terlihat kelelahan dengan keringat yang membasahi nya secara berlebihan dan nafas yang sangat tak beraturan.
“Roku kalau kau terus melakukannya seperti ini maka kau akan mati di kelompok selanjutnya!” ucap ku pada Roku.
“Diamlah ayo kita lanjutkan!” jawabnya tanpa memandang ku.
Aku menghela nafas dalam dan mengepalkan tangan ku yang tak memegang pedang. Dengan sepenuh hati aku menghajar pipi kanan dari Roku hingga dia jatuh terhempas beberapa meter dari ku. Aku melakukannya agar dia tersadar dan tak di kuasai oleh amarah. Roku bangun dengan perlahan menunjukkan ekspresi yang lebih tenang dari pada sebelumnya.
“Aku tau kau marah pada mereka karena telah menangkap adik mu tapi apa gunanya jika kau mati saat akan menyelamatkannya bodoh,” ucap ku pada Roku sambil mengambil kedua belati nya yang jatuh saat dia aku pukul.
“Lihatlah bahkan kau bisa menerima luka dari penjaga yang sama sekali tak memberikan perlawanan seperti mereka,” tambah ku sambil menunjukkan bahunya yang mengeluarkan darah.
“Maafkan aku, aku sangat kesal saat mengingat adik ku di tangkap oleh mereka!” jawabnya sambil menunduk.
“Dengarlah kawan jangan sampai di kuasai oleh amarah, jangan sampai kehilangan Momentum mu. Amarah memang penting di setiap keadaan namun jika kau tenggelam di dalamnya maka kau akan mati meskipun melawan lawan terlemah mu,” ucap ku pada Roku sambil memberikan belatinya.
“Baiklah,” jawabnya.
“Dan camkan ini!” aku mengacungkan jari ku pada Roku.
“Jika hal ini terjadi lagi akan ku bunuh saja kau saat itu juga agar tak terbunuh oleh lawan yang ada di depan mu,” ucap ku sambil menatap tajam padanya.