Roku berdiri dan mengambil pedang yang di asahnya tadi dan dengan bangga menunjukkannya pada ku.
“Tentu saja, hanya tinggal pedang ku yang satu ini yang belum siap, ” ucap Roku sambil mengangkat pedangnya ke arah ku.
“Bagus lah kalau begitu, cepat selesaikan pedang itu karena kita akan memulai rencana kita malam ini,” ucap ku.
Roku menurunkan pedangnya perlahan dan mulai menatap langit dengan ekspresi yang menunjukkan kelegaan.
“Malam ini ya... tunggu aku Gram!” ucap Roku sambil menatap ke atas langit.
“Kau senior bodoh!” ucap ku sambil menendang Roku.
Roku yang tak siap akan serangan ku, terkejut dan menerima penuh tendangan ku di perutnya. Dia tak merasakan sakit yang berlebihan menurut ku karena aku tak serius menendang nya dimana aku hanya sedikit kesal.
“Astaga apa yang tiba-tiba kau lakukan teman kecil? Kenapa kau menendang ku b******n?” jawab Roku sambil memegangi perutnya yang barusan aku tendang.
“Kau senior bodoh, kau baru memberi tau nama adik mu hari ini,” ucap ku karena kesal.
“Ohh iya juga, karena kau sudah tau namanya maka aku tak akan mengatakannya kembali,” ucap Roku sambil mengelus-elus perutnya layaknya orang yang sedang hamil.
“Kalau begitu aku akan kembali sekarang jangan lupa temui aku sore nanti di luar gerbang!” ucap ku sambil berjalan keluar dari arena.
“Pastikan kau tak di ikuti siapa pun,” tambah ku pada Roku.
“Baiklah!” jawabnya singkat sambil meneruskan pekerjaannya.
Aku pun berjalan keluar dari arena agar tak mengganggu pekerjaan yang Roku lakukan saat ini. Aku di kaget kan oleh perempuan yang menunggu ku di pintu keluar arena yang tidak lain dia adalah Systine. Dia menatap ke seluruh tubuh ku, memperhatikan inchi demi inchi tanpa melewatkan bagian sedikit pun. Aku hanya berdiri terdiam melihat apa yang dia lakukan saat ini.
“A-ano Systine ... apa yang kau lakukan?” ucap ku pada Systine yang masih tetap menatap ku dengan seksama.
Systine menghentikan kegiatan aneh yang dia lakukan pada ku tadi dan berganti dengan menatap ku dengan tatapan marah kemudian mencengkeram kepala ku dengan keras. Aku mengingat tatapan ini, ini seperti tatapan yang ibu lakukan pada ku saat aku bilang akan berkelana di usia yang belum saatnya.
“Kau Clay... kemana saja kau beberapa hari ini? Kenapa kau tidak ke sini dan menjalani misi? Apa kau sudah sembuh total? Apa kau sudah tak ingin jadi petualang setelah kau mengalami kejadian itu? Apakah kau ingat janji mu untuk menjelaskan semuanya pada ku?” tanya Systine dengan bertubi-tubi tanpa memberi ku kesempatan untuk menjawab sedikit pun. Dimarahi seperti ini dan di khawatirkan seperti ini membuat ku teringat terhadap ibu ku. Dia biasanya akan bertingkah seperti ini jika aku melakukan hal-hal yang tak lazim bagi anak-anak dan juga saat pergi berlatih tanpa pamit. Jujur saja jika di hadapan ku saat ini adalah ibu dan bukan Systine, mungkin saja air mata ku akan menetes.
“Maafkan aku Systine,” ucap ku sambil tersenyum padanya. Systine secara perlahan melepaskan cengkeraman nya di kepala ku dengan ekspresi yang sedikit terlihat sedih namun dia berusaha menutupinya dengan senyum yang terlihat tulus.
“Apa yang terjadi Clay?” tanya Systine pada ku.
“ Bisakah kita duduk terlebih dahulu, kepala ku sedikit pusing saat kau cengkeram tadi” ucap ku berbohong pada Systine untuk melihat reaksinya.
“Astaga maafkan aku karena berlebihan, ayo duduk di sana,” jawab Systine dengan panik.
Kami duduk di meja biasanya tempat para resepsionis makan atau bersantai. Systine menunggu ku bicara sambil menatap tajam ke arah ku, karena merasa risih dengan yang dia lakukan, aku pun menjelaskan apa yang terjadi namun lebih tepatnya aku berbohong padanya tentang apa yang aku katakan.
“Saat itu setelah aku menyelesaikan misi ku yang pertama, aku mencoba pergi ke hutan Grool untuk mengetahui mitos yang ada benar atau tidak,” ucap ku pada Systine.
“Kau benar-benar memasuki hutan itu? Lalu dari mana inti mana ogre api itu? Bukankah kau yang mengalahkan ogre api itu?” tanya Systine pada ku.
“Secara tidak langsung iya karena ogre api itu kutemukan sudah dalam keadaan terkapar dengan luka cakaran yang sangat besar jadi aku langsung menusukkan pedang ku tepat di jantung ogre itu,” jawab ku.
“Apa kau tau penyebab cakaran yang ada di tubuh ogre itu?” tanya dia kembali.
“Aku tak tau apa penyebabnya mungkin ogre itu bertarung satu sama lain dengan monster yang lebih kuat dari pada dia,” jawab ku sambil memalingkan mata.
Aku berusaha membuat cerita sebaik dan se tersusun mungkin agar Systine mempercayai apa yang aku katakan tanpa harus mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Bukannya aku tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya tapi aku takut membuat dia ikut terlibat pada hal yang tak seharusnya dia terlibat.
“Tapi itu tak menjelaskan tentang anak panah itu,” ucap dia sembari menatap dalam kepada ku.
“Itu karena kau belum mendengarkan ceritanya sampai selesai,” jawab ku dengan tenang.
“ Saat aku yakin ogre api itu sudah benar-benar mati, aku mengambil inti mana dari ogre itu agar dapat aku jual. Setelah berhasil mengambil inti mananya, sebuah anak panah melesat melewati ku dari pipi kiri san menancap pada pohon yang ada di samping ku. Seseorang dengan jubah merah sedang menarik busur panah dan dia arahkan kepada ku” tambah ku.
“Lalu setelah itu?” tanya dia kembali.
“Aku berusaha menyelamatkan diri dari orang itu dengan berlari melewati pohon-pohon di hutan Grool dengan cepat. Sesaat sebelum aku sampai ke luar hutan Grool, sebuah anak panah melesat dan menancap tepat di bahu ku. Rasa sakit yang tak tertahankan dengan darah yang menetes dari anak panah itu. Aku tak bisa mencabut nya dengan paksa sehingga aku memutuskan untuk mematahkannya di bagian tengah agar tak mencuri perhatian saat sampai di desa,” jawab ku sambil menatap balik dia.
“Beruntungnya aku mereka tak mengejar setelah aku keluar dari hutan Grool,” tambah ku.
Systine menghela nafas panjang kemudian menundukkan kepalanya ke atas meja untuk berusaha mencerna seluruh perkataan ku barusan. Aku menjadi sedikit tak enak kepada nya karena sudah membohongi dia namun aku melakukan ini agar dia tak terlibat. Systine mengangkat kepalanya dan kemudian menatap ku.
“Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku begitu perhatian pada mu?” ucap Systine sambil menatap ku.
“Kau menyukai ku mungkin?” jawab ku sambil cengengesan.
“Bermimpilah bocah bodoh!” ucap Systine sambil menyentil dahi ku.
“Aku melakukan ini karena kau mengingatkan ku pada adik ku, perbuatanmu yang tak pernah mendengarkan orang lain, sifat mu yang seenaknya sendiri bahkan makanan kesukaan mu sama sepertinya,” tambahnya dengan mata yang mulai bergelimang air mata.
“Owh... kemana adik mu sekarang?” tanya ku pada Systine.
“Dia... dia di culik oleh pengikut Dewa Camazot sekitar 1 tahun yang lalu dan sampai saat ini aku belum menemukannya,” jawab Systine seakan tak mampu membendung air matanya namun dia tetap menahannya dan menegarkan diri.
“Maafkan aku,” ucap ku pada Systine karena membuat dia teringat kepada kejadian yang membuat dia sedih.
“Tak apa... terima kasih sudah menjelaskan semuanya pada ku,” jawab Systine sambil menyeka air matanya yang tidak terasa terjatuh.
“Kalau begitu aku akan pergi ke penginapan dulu,” ucap ku sambil berdiri dan berjalan menjauhi meja yang aku tempati bersama Systine.
“Dan Systine... aku tak tau apa sebelumnya aku sudah mengucapkan ini pada mu tapi... terima kasih sudah membantu ku waktu itu jika tidak ada kau mungkin aku akan mati,” tambah ku sambil berjalan keluar dari guild ini. Systine hanya tersenyum melihat kepergian ku.
Organisasi ini tidak boleh di biarkan lagi, banyak orang-orang yang kehilangan keluarganya akibat ritual darah yang mereka lakukan. Mereka semua harus di hentikan ketika akan melakukan ritual darah yang menjadi ritual kebangkitan bagi Dewa mereka yaitu Camazot. Aku dengan cepat kembali ke penginapan dan mempersiapkan segala hal yang di butuhkan untuk rencana malam nanti, sambil memikirkan apa kemungkinan yang akan terjadi ketika aku gagal dan tertangkap sehingga aku bisa mempersiapkan cara apa yang membuat ku menjadi siap jika hal itu memang terjadi.
** ** **
Hari semakin menggelap tanda waktu malam akan segera tiba, aku yang sedari tadi telah menunggu kedatangan dari Roku yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Aku tak tau apa yang membuatnya begitu lama, jika bukan karena ingin mengumpulkan informasi tentang Tuhan maka aku tak akan melakukan misi penyelamatan yang beresiko ini. Beberapa saat kemudian Roku mulai terlihat dengan membawa tas kecil yang cukup nyaman di gunakan saat banyak bergerak, sepertinya dia memang memikirkan persiapannya dengan matang.
“Apa yang membuat mu begitu lama?” sapa ku begitu dia sampai.
“Aku melakukan apa yang kau suruh, jangan sampai ada yang mengikuti. Karena aku merasa ada yang mengikuti ku jadi ku bawa dia berkeliling desa sampai akhirnya mereka kehilangan jejak ku,” jawab Roku sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu ayo kita berangkat,” ajak ku.
“Sebelum itu bisakah aku bertanya?” ucap Roku menhentikan ku.
“Apa itu?”
“Kenapa kau melakukan rencana ini di malam hari?” tanya Roku.
Aku tersenyum dan mulai berbalik arah bersiap untuk berlari mengingat jarak dari sini ke hutan Grool itu lumayan.
“Bodoh... ayok kita berangkat saja kau akan tau jawabannya ketika kita sampai di sana, ” ucap ku pada Roku.
“Cobalah untuk tak tertinggal!” tambah ku sambil berlari ke arah hutan Grool.