Aku mengayunkan pedang ku dan mengarahkannya tepat pada leher orang itu, tanpa ada hambatan pasti dan tanpa adanya perlawanan karena mungkin dia terlalu terkejut dengan yang kulakukan secara spontan. Darah mulai bersimbah dari leher orang yang aku tebas, kepala dari orang itu jatuh menggelinding beberapa kali hingga berada tepat di depan temannya yang hanya bisa melihat temannya aku bunuh di depan matanya. Tubuh yang tadi posisinya duduk terikat, mulai jatuh tepat di samping orang yang juga aku ikat itu. Mata dari orang yang masih hidup itu terbelalak dengan tubuhnya yang menggigil ketakutan ketika pedang ku menjatuhkan tetesan darah yang berasal dari temannya yang aku bunuh.
“Dan kau... apa kau akan memberi tahu apa tujuan mu mengikuti ku?” ucap ku sambil mengarahkan ujung pedang pada pria yang menunjukkan ekspresi ketakutan saat ini.
“Tu-tu-tu-tunggu dulu!” jawab pria itu dengan gemetaran.
“A-a-aku akan mengatakannya jadi to-tolong jangan bunuh aku!” tambahnya.
Aku menurunkan pedang ku yang sedari tadi siap untuk menebas nya jika dia juga tak ingin mengatakan tujuannya. Orang ini memelas pada ku agar tidak membunuhnya dengan air mata yang mulai keluar dan kulihat celana yang dia pakai sedikit demi sedikit mulai basah. Orang ini mengompol dari saking ketakutan nya.
“Baiklah mari dengar apa yang akan kau katakan!” ucap ku sambil menebaskan pedang dengan tujuan membersihkan nya dari darah segar yang sesekali menetes dari bilah nya.
“Ka-kami adalah a-anggota dari penyembah Dewa Camazot yang bertugas menjadi mata-mata,” ucapnya sambil terbata-bata.
“Kenapa kalian mengikuti ku dan bahkan ingin menangkap ku?” tanya ku kembali.
“Kami di perintahkan mengikuti mu oleh seorang petinggi dari organisasi saat kami memberikan laporan, beliau mengatakan bahwa kami harus mengikuti mu dan mencari tau seluruh hal tentang kau begitu kau sampai di desa ini,” jawab dia.
Jika dia bilang harus mengikuti ku begitu aku sampai di desa ini berarti orang yang memberi perintah itu telah tau bahwa aku akan datang ke desa ini. Jika begitu orang yang memberi perintah ini pasti sudah bertemu atau kenal dengan ku.
“Apa kau tau siapa nama petinggi yang memberi mu perintah?” ucap ku pada pria itu sambil menatapnya untuk memastikan tak ada kebohongan melalui apa yang dia katakan.
“Aku tidak tau, kerahasiaan adalah hal yang utama di organisasi kami, anggota biasa tidak mungkin tau tentang para petinggi, berbeda dengan Rasul karena Rasul adalah pemimpin mutlak yang memperoleh keberkahan sejati dari sang Dewa, maka dari itu semua anggota dari yang biasa sampai ke para petinggi di organisasi pasti tau pada Rasul,” jawabnya.
“Lalu kenapa kalian ingin menangkap ku?” ucap ku sambil menatap tajam.
“Kau di curigai sebagai penyusup yang lolos beberapa hari yang lalu, kami di perintahkan untuk menangkap mu dan membawa mu ke markas kami!” ucap nya dengan menundukkan kepalanya.
“Apa orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang menyuruh mu untuk mengikuti ku, jawab dengan jujur!” tanya ku kembali dengan sedikit meninggikan nada.
“I-i-itu... jika dari suaranya maka dia adalah orang yang sama yang menyuruh ku ketika kau sampai di sini,” jawabnya dengan gemetaran.
Aku berdiri dan membersihkan pedang ku yang masih ada sedikit noda darah yang masih tersisa, setelah yakin bahwa pedang ku telah bersih aku lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang. Orang itu menatap ku dengan gemetaran.
“H-hei bukankah a-aku sudah mengatakan semua pada mu,” ucap nya sambil gemetaran.
“Kau sudah mengatakan bahwa kau tidak akan membunuh ku jika aku mengatakan apa tujuan ku,” tambahnya.
Aku kemudian ter pikirkan suatu ide untuk memberinya pelajaran karena sudah membuntuti ku dan juga menyerang ku.
“Hmm... baiklah aku tidak akan membunuh mu,” ucap ku sambil berjalan berbalik arah.
Orang itu bernafas lega ketika aku berjalan menjauh dari nya, namun beberapa saat kemudian dia menatap ku dengan tatapan penuh kebencian dan rasa ingin membunuh. Aku mengambil batu yang cukup besar dan kemudian membawanya kembali kepada orang itu untuk mengikatkannya bersama.
“Oy... apa yang kau ingin lakuka?” ucap pria itu sambil memperhatikan ku ketika mengikatkan batu itu bersamanya.
“Tenanglah ini akan menyenangkan!” ucap ku sambil mengencangkan ikatan agar tak terlepas.
Setelah yakin bahwa batu dan pria itu telah benar-benar terikat bersama, aku menyeret orang itu ke sungai yang ada di dekat ku saat itu. Orang itu sepertinya paham tentang apa yang akan aku lakukan sehingga dia menggeliat dan bergerak sebisa mungkin untuk melepaskan diri.
“K-kau bocahhh... bukannya kau sudah bilang untuk tak membunuh ku!” teriak nya sambil bergerak menggeliat seperti ulat.
“Hei tenanglah tak perlu teriak begitu, aku memang berjanji untuk tak membunuh mu tapi baumu sangatlah busuk jadi aku akan memandikan mu di sana” ucap ku sambil tersenyum ramah pada orang itu.
Aku mengangkat tubuh orang itu layaknya seorang putri yang di gendong oleh pangerannya kemudian aku melempar orang itu ke bagian tengah sungai yang cukup dalam agar dia bisa berenang sesuka hatinya.
“K-k-kau bocah b******n!!” teriak orang itu ketika aku lempar ke tengah sungai.
Dengan keadaan terikat dan batu yang cukup besar sebagai pemberatnya, aku yakin dia tak akan bisa selama dari ini namun untuk memastikan bahwa dia selamat atau tidak aku menunggu di sini selama beberapa menit sambil membersihkan tubuh orang yang terlebih dahulu aku bunuh tadi. Aku membakar tubuhnya dengan api hitam agar tak meninggalkan jejak dan tubuhnya cepat menjadi abu sedangkan kepalanya yang masih tersisa, aku lemparkan ke sungai agar menjadi makanan oleh hewan yang menghuni di sungai. Setelah menunggu sekitar dua puluh menitan, aku sudah yakin bahwa orang yang aku lemparkan ke sungai sudah sepenuhnya mati dan aku pun berjalan kembali ke penginapan.
***
Beberapa hari kemudian aku datang ke guild untuk menemui Roku di sana, selama hampir 2 minggu aku tak melakukan misi apapun untuk mempersiapkan segala hal yang di butuhkan saat aku dan Roku melakukan penyelamatan terhadap adik Roku yang tertangkap oleh organisasi penyembah Dewa Camazot. Sesampainya di guild, aku langsung memasuki arena pertarungan yang biasa Roku gunakan untuk menguji para petualang baru. Aku melihat Roku yang sedang duduk di bangku sambil mengasah pedang. Aku berjalan ke arah nya sambil memperhatikan berbagai macam barang yang biasanya tak ada di meja arena ini. Busur panah, belati, tali dan berbagai macam barang aneh yang bisa ku simpul kan semua barang inj akan di bawa saat kami berangkat nanti.
“Hei tak usah terlalu tajam,” sapa ku pada Roku yang tak sadar dengan kedatangan ku karena berkonsentrasi mengasah pedang.
“Ohh.. kau kah itu teman kecil” jawabnya sambil menghentikan kegiatannya.
“Kenapa tak boleh terlalu tajam?” tambahnya.
“Kau tau semakin tak tajam pedang mu semakin menyakitkan mereka merasakan serangan mu,” jawab ku sambil duduk di sampingnya.
“Ha ha ha kau benar tapi pedang yang seperti itu daya tahannya cukup lemah, biarlah aku membuatnya semakin tajam agar mereka dapat terpotong dengan mudah!” ucap Roku sambil melanjutkan kegiatannya.
“Kau tak menemui ku sejak malam di bar itu, apa yang terjadi?” tambahnya.
“Tak ada, hanya 2 ekor semut yang datang menyerang ku malam itu jadi aku tak menemuimu sampai hampir tiba saatnya kita berangkat agar tak mengganggu persiapan kita,” jawab ku dengan tenang.
“Bagaimana mereka? Apa mereka dari organisasi yang sama?” tanya Roku pada ku sambil melirik ke arah ku.
Aku menggerakkan tangan ku dengan gerakan horizontal tepat di leher ku untuk mengatakan secara isyarat bahwa aku telah membunuh mereka semua. Roku menatap ku dengan mata yang melotot dan mulai berdiri secara pelan.
“Aku telah membunuh mereka semua dan juga mereka dari organisasi yang menangkap adik mu, mereka sepertinya tau bahwa aku menyusup ke markas mereka dan berhasil lolos,” ucap ku pada Roku.
“K-kau benar-benar, bagaimana kalau mereka menyerang kita secara langsung?” ucap Roku karena khawatir.
“Ha ha ha bodoh sekali kau khawatir akan hal itu,” jawab ku sambil tertawa kecil.
“Kenapa begitu?” tanya Roku kembali.
“Kalau kau khawatir akan hal itu maka seharusnya kau tak menyelamatkan adik mu, buanglah pemikiran naif mu itu kau itu lebih senior dari pada aku!” jawab ku.
Roku kembali duduk dengan perlahan sambil menunduk memikirkan kata-kata ku tadi. Aku hanya mengatakan hal yang membuat dia menjadi tak naif dan lebih berpikir secara logika.
“Kau tau... yang kau katakan tadi benar, maafkan aku teman kecil,” ucap Roku sambil menundukkan kepalanya.
“Sudahlah selain itu bagaimana persiapan mu?” tanya ku padanya untuk mencairkan suasana.