Keluarga Roku

1800 Kata
“Apa yang membuat mu yakin akan hal itu?” Roku mengatakan itu sambil mengepalkan tangannya di atas meja dengan urat di dahinya yang terlihat membesar. Wajah Roku terlihat memerah dengan sorot matanya yang menatap ku tajam. Aku tak tau apa dia sekarang sudah mabuk atau memang marah ketika aku mengatakan hal itu. “Bukankah kau sudah tau aku sudah bertemu dan mereka menyambut ku dengan sambutan yang sama sekali tidak ramah,” jawab ku pada Roku sambil menatapnya. “Aku sudah menyusup ke markas mereka dan meskipun mereka telah menemukan ku namun mereka tak bisa menangkap ku hingga aku bisa melarikan diri meskipun dengan sedikit luka, bukan hal yang aneh jika mereka mengetatkan penjagaan mereka untuk menghindari kejadian yang sama,” tambah ku. Setelah mendengar perkataan ku ini, Roku terlihat lebih tenang dan melonggarkan kepalan tangannya yang sedari tadi sepertinya siap untuk menghajar ku. Seperti biasa pikirannya pendek. “Ahh... maafkan sikap ku!” ucap Roku sambil menunduk. “Sudahlah aku mengerti perasaan mu, daripada itu bisakah kau menceritakan tentang adik mu,” ucap ku pada Roku untuk mencairkan suasana. “Sebelum itu bukankah kau lebih baik memesan minuman,” ucap Roku sambil melihat ke arah ku. Aku mengikuti sarannya dan memesan minuman pada pelayan yang berjalan di sekitar ku. Tak lama kemudian minuman ku yang berupa segelas besar air dingin bercampur madu yang bernama Shiki. Rasa manis yang di suguhkan membuat diri ku ingin semakin menikmatinya di setiap saat namun kandungan alkohol yang di milikinya membuat ku tidak bisa meminumnya dalam jumlah yang banyak. Roku juga memesan segelas rum untuk menggantikan rum yang habis dia minum tadi dan itu adalah gelas ketiganya di sini. *** Roku meletakkan gelasnya ke meja dan mulai menggenggam kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. “Adik ku... maksud ku kami berdua berasal dari desa Nimma, desa yang terletak di perbatasan antara kerajaan Shelion dan kerajaan Moonlight namun desa Nimma ini masih merupakan wilayah dari kerajaan Moonlight” ucap Roku memulai pembicaraan tentang adiknya. “Karena perang yang berkecamuk, mau tidak mau kedua orang tua kami harus ikut serta pada perang yang terjadi sehingga menyebabkan mereka berdua meninggal dan kami terpaksa di asuh oleh paman dan bibi kami. Paman adalah pensiunan dari prajurit dan bibi kami adalah mantan petualang dari ibukota kerajaan Moonlight yaitu Luna. Kami di ajari cara menggunakan berbagai senjata dan cara menggunakan sihir,” lanjutnya. “Tunggu... kau bisa menggunakan sihir?” tanya ku pada Roku. “Tentu saja meskipun tak se mengerikan kau, Hmm? Ehhhh... Clay kenapa kau terasa lebih kuat dari pada tadi pagi, jangan-jangan kau naik tahapan?” ucap Roku sambil melototi ku. “Haha seperti yang di harapkan dari senior yang telah ku kalahkan dua kali, kau bisa menyadari aku telah naik tahapan,” ucap ku sambil menyilangkan kedua tangan ku untuk menyombongkan diri padanya. “Terus di tahap apa inti mana mu saat ini?” ucap Roku. Aku mengacungkan jari ku sebagai tanda untuk Roku agar mendekatkan telinganya agar aku bisa berbisik kepadanya. “Talisman defiance,” bisik ku. “Ta-talisman... huhhh kau benar-benar,” ucap Roku dengan ekspresi terkejut. “Bukan itu kan yang sedang kita bicarakan, ayo lanjutkan cerita mu!” pinta ku pada Roku yang sedari tadi memegang kepala seperti tak menerima kenyataan bahwa aku telah naik tahapan. “Ah iya... ini salah mu! Jangan potong cerita ku di tengah jalan” jawab Roku. “Sampai mana tadi?” tambahnya sambil memegang minumannya. “Cara menggunakan sihir!” jawab ku. “Ahh iya. Kami di ajarkan cara menggunakan pedang dan cara menggunakan sihir, namun karena aku tak terlalu berbakat dalam sihir jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu ku untuk mempelajari menggunakan berbagai macam senjata hingga menciptakan gaya bertarung orisinal ku,” ucap Roku sambil menenggak minumannya. “Sedangkan adik ku lebih berbakat dari pada aku dalam sihir, dia lebih memilih berlatih menggunakan sihir hingga akhirnya dia sadar bahwa dia adalah seorang evasion,” lanjut Roku. Aku tak menyangka seorang seperti Roku bisa menjadi seperti ini saat dia bercerita tentang adiknya. Dia menjadi sangat cerewet dan bersikap layaknya kakak yang sangat menyayangi adiknya. Aku mengerti akan hal itu karena di dunia ini aku juga memiliki kedua kakak yang sekarang sedang berkelana tak tau dimana. “Hei teman kecil apa kau mendengarkan ku?” ucap Roku menyadarkan ku dari lamunan. “Hmm tentu saja!” jawab ku singkat. “Adik ku memiliki elemen lanjutan dari elemen angin yaitu elemen suara yang menjadikannya bisa memanipulasi suara yang ada di sekitar atau bahkan merubah gelombang suara menjadi serangan yang membuat musuh tak sadarkan diri seketika ketika terkena serangan ini,” ucap Roku. “Jadi itu alasannya dia menjadi seorang mata-mata guild” ucapku pada Roku yang khawatir dengan wajah Roku yang memerah karena kebanyakan minum. “Ya itu salah satu alasannya, kembali ke topik utama. Setelah perang berakhir karena tak ingin merepotkan paman dan bibi kami yang mengasuh kami sejak orang tua kami gugur dalam perang, kami memutuskan untuk pergi ke sini dan menjadi petualang,” lanjut Roku dengan terus meminum minumannya. “Aku dan adik ku memutuskan untuk tidak bersama dalam satu kelompok untuk mencari pengalaman namun karena kejadian yang menimpa ku di hutan Grool, aku menjadi trauma dan memutuskan untuk menjadi instruktur di sini namun mempertahankan gelar petualang ku. Sedangkan adikku lebih memilih menjadi petualang solo dan di pilih langsung oleh ketua guild untuk menjadi informan terpercaya di guild Reistes,” tambahnya. Ada beberapa hal janggal yang Roku belum katakan dengan jelas, seperti kenapa mereka memilih kerajaan Shelion yang merupakan kerajaan tetangga dari pada kerajaan Moonlight yang merupakan kerajaan yang mereka tempati. Namun karena takut menyinggung topik yang sensitif jadi aku tak menanyakan hal itu pada Roku. Aku hanya bertanya-tanya apakah aku bisa menggunakan elemen suara seperti adik dari Roku, aku tak tau apa itu mungkin karena aku tak memiliki gambaran seperti apa caranya membayangkan wujud dari suara. Malam semakin larut dan Roku sepertinya semakin mabuk, aku ingin kembali ke penginapan sebentar lagi sambil menghabiskan minuman ku yang tinggal sedikit. Krieeeeet... braakkk ( suara pintu bar terbuka) Pintu bar terbuka dan terlihat ada dua orang pria berbadan cukup besar masuk ke dalam bar itu. Kedua pria itu menyebabkan heningnya suasana bar yang tadinya ramai, entah kenapa aura membahayakan terasa cukup kental ketika kedua orang itu masuk. Aku sadar bahwa mereka adalah anggota dari penyembah Dewa Camazot karena tato di tangan mereka terlihat jelas oleh ku namun Roku tetap saja memberi tahu ku. “Mereka berdua adalah anggota dari penyembah Dewa Camazot, mungkin kau sudah melihat tato matahari yang tertutup bulu di tangan mereka,” ucap Roku berbisik pada ku. Aku salah paham terhadap Roku, meskipun wajahnya sudah menandakan bahwa dia sudah sangat mabuk tapi tetap saja dia bisa menjaga kesadaran saat di perlukan. Bahkan dia terlihat lebih waspada daripada biasanya. “Jangan membuat perhatian, jika di lihat dari sikap mereka yang tenang dan sedikit bicara, aku merasa bahwa posisi mereka tidaklah rendah di organisasi itu,” tambah Roku. “Baiklah jangan khawatir, tapi bukankah lebih baik kita pulang di saat seperti ini?” jawab ku pada Roku. “Kau benar, ayo kita pulang saja!” ucap Roku sambil berdiri dan berjalan ke meja bar untuk membayar minumannya. “Ohh Clay minuman mu biar aku yang traktir sebagai ganti yang tadi pagi, kau bisa pulang duluan tanpa menunggu ku,” tambah Roku Aku hanya mengacungkan jempol dan berjalan keluar dari bar ini untuk kembali ke penginapan. Sesampainya di luar, hanya ada beberapa orang yang sedang berjualan atau pun hanya sekedar duduk di sekitar air mancur, aku merasakan kembali energi mana yang mengikuti ku saat pertama kali sampai di desa Molin ini. Aku berpikir untuk menjebak dan menangkap mereka untuk menanyakan apa tujuan mereka mengikuti ku. “Mari kita lakukan permainan kecil ini!” ucap ku sambil tersenyum dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan penginapan ku. Kedua orang itu mengikuti ku dari jarak sekitar dua puluh meteran dengan membawa senjata mereka masing-masing. Sepertinya mereka ingin menangkap ku kali ini. Setelah beberapa saat berjalan, aku merasakan bahwa mereka kian mendekat pada ku hingga akhirnya aku berbelok pada gang yang ada di samping kanan depan untuk menangkap balik mereka. Gang yang tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas dengan penerangan yang mengandalkan sinar dari rembulan saja, situasi ini sangat pas untuk ku. Aku berbelok dengan perlahan dan langsung menyembunyikan diri di kegelapan dengan cepat, kedua orang itu berlari ke arah ku sambil mengeluarkan senjata mereka yang berupa belati dan pedang pendek yang mana menurut ku sangat cocok di gunakan untuk penyergapan satu orang seperti ini. Aku mengeluarkan pedang ku namun masih ku pakai kan sarungnya agar aku tak melukai mereka berdua. Mereka berdua kebingungan saat tak melihat ku di gang itu, aku dengan cepat melompat ke arah mereka dan memukul leher bagian belakang salah satu dari mereka yang membuntuti ku dengan pedang yang masih tersarungkan. Orang yang ku pukul tadi langsung terkapar ke tanah tak sadarkan diri sedangkan orang yang satunya membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah ku saat ini. “Siapa kau? Ini bukanlah kali pertama kalian berdua mengikuti ku” ucap ku sambil menaruh pedang di atas bahu ku. Orang itu hanya menatap ku dengan mata yang penuh dengan kebencian, orang yang berdiri di hadapan ku sekarang ini tidak bisa ku bilang kuat atau bahkan lemah, mungkin Roku akan meloloskannya menjadi petualang tingkat E jika dia bisa sedikit menahan diri. “Jika kau tak mengatakan pada ku maka jangan salahkan aku bertindak kasar!” ucap ku pada pria itu. Namun bukannya kabur orang itu malah memilih untuk menghadapi ku dengan kedua belati di tangannya. Bukanlah hal yang sulit untuk membuatnya tak sadarkan diri, aku hanya menghindar dari serangannya dan memukulnya di bagian yang sama dengan temannya yang terkapar juga saat ini. “Apa yang kalian pikirkan untuk menangkap ku dengan kemampuan seperti ini?" pikir ku. Kedua orang ini sedang terkapar tak sadarkan diri. Aku memutuskan untuk mengikat mereka berdua dan membawa mereka ke sungai dekat hutan dengan cara mengendong mereka pada tubuh ku yang telah di aliri energi mana, bahkan sepertinya aku bisa mengangkat seekor sapi dewasa seorang diri. Sesampainya di pinggir sungai, aku mendudukkan mereka kemudian menyiram mereka agar sadarkan diri. Splashhh....(suara air di siramkan) “Ohh selamat pagi apakah kalian mimpi indah?” ucap ku pada kedua orang itu ketika mereka telah membuka mata. “Kau beraninya! Lepaskan aku sekarang!” teriak pria yang pingsan pertama kali. “Whoa whoa tenang kawan, kau akan ku lepaskan jika mengatakan apa tujuan mu mengikuti ku,” ucap ku sambil tersenyum pada dia. “Huh bahkan jika aku mati aku tak akan mengatakannya!” jawabnya dengan menunjukkan wajah sombong. Karena aku tak ingin membuang-buang waktu dengannya maka aku mulai mengeluarkan pedang ku yang sedari tadi ku sarungkan. “Jika itu mau mu maka matilah!” jawab ku sambil tersenyum dan menebaskan pedang ku pada lehernya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN