Bab 1: Pria yang Seharusnya Tak Kembali
“Apa kamu tuli, Aluna?”
Suara itu.
Dingin. Tajam. Menusuk seperti kenangan yang belum sempat sembuh.
Aluna membeku di tengah ruang rapat. Tangannya yang tadi sedang membagikan proposal perlahan menegang. Ia belum perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Mustahil.
Tidak mungkin.
Perusahaan ini terlalu besar untuk mempertemukan mereka lagi… bukan?
Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Dan dunia terasa berhenti.
Arka.
Pria yang dulu menghancurkan hidupnya berdiri di ujung meja rapat, mengenakan setelan hitam sempurna dengan ekspresi datar yang sama seperti tiga tahun lalu. Tidak berubah. Tidak sedikit pun.
Tatapan mereka bertemu.
Tak ada sapaan. Tak ada senyum. Hanya perang diam-diam.
“Pak Arka adalah direktur utama baru kita,” suara HRD memecah keheningan. “Mulai hari ini, semua keputusan proyek akan berada di bawah kendali beliau.”
Direktur utama.
Aluna merasa udara di ruangan itu menipis.
Jadi bukan hanya dipertemukan kembali…
Sekarang dia adalah atasannya.
“Menarik,” gumam Arka pelan, cukup keras untuk didengar Aluna. “Saya tidak menyangka akan bekerja dengan orang yang sama sekali tidak profesional.”
Beberapa kepala menoleh. Aluna bisa merasakan tatapan rekan-rekannya.
Tidak profesional?
Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang.
“Kalau maksud Anda presentasi saya tadi,” Aluna menegakkan bahu, “data yang saya gunakan valid. Atau mungkin Bapak belum membacanya dengan teliti.”
Ruangan mendadak sunyi.
Berani.
Arka menatapnya tanpa ekspresi. Tapi ada sesuatu di balik mata itu. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kritik pekerjaan.
“Kita lihat saja nanti,” ujarnya singkat.
Pertemuan ditutup dengan suasana yang kaku.
Begitu semua orang keluar, Aluna mempercepat langkahnya menuju lift. Ia butuh udara. Butuh jarak. Butuh meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi buruk yang terulang.
Tapi sebelum pintu lift menutup—
Sebuah tangan menahannya.
Arka masuk tanpa meminta izin.
Ruang sempit itu tiba-tiba terasa terlalu kecil.
“Masih suka kabur kalau terpojok?” tanyanya tenang.
Aluna menahan napas. “Masih suka menghancurkan hidup orang lain?”
Keheningan.
Angka lantai terus bergerak turun.
“Kalau kamu masih menyalahkanku atas kejadian itu,” suara Arka lebih rendah sekarang, “kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya.”
Aluna tertawa kecil, pahit.
“Cerita yang sebenarnya? Ayahku kehilangan perusahaan. Keluargaku hancur. Dan kamu ada di sana saat semuanya terjadi.”
Tatapan Arka mengeras.
“Aku ada di sana,” katanya pelan. “Tapi bukan sebagai pelaku.”
Pintu lift terbuka.
Aluna melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Tapi satu hal kini jelas—
Pertemuan ini bukan kebetulan.
Dan luka lama yang ia paksa sembuhkan…
baru saja dibuka kembali.
Di luar gedung, ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat hatinya sedikit tenang.
Adrian.
“Luna,” suara lembut itu terdengar begitu familiar. “Aku sudah kembali ke kota. Kita perlu bertemu.”
Aluna menutup mata sejenak.
Di satu sisi, masa lalu yang menyakitkan telah kembali.
Di sisi lain, seseorang yang dulu menjadi tempat pulangnya juga muncul lagi.
Takdir memang punya cara yang kejam untuk mempermainkan hati.
Dan Aluna tahu—
Ini baru permulaan.
---
Angin sore Jakarta menerpa wajahnya begitu ia keluar dari gedung kantor. Langit berwarna jingga pucat, seolah ikut mengingatkannya pada masa lalu yang belum sepenuhnya tenggelam.
Ponselnya masih menempel di telinga.
“Aku di dekat kantormu sekarang,” lanjut Adrian lembut. “Kita bisa makan malam? Sudah lama kita nggak ngobrol.”
Aluna terdiam beberapa detik. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Setelah semua yang terjadi, Adrian adalah satu-satunya orang yang masih berani menghubunginya tanpa rasa canggung.
“Baik,” jawabnya akhirnya. “Kirim lokasinya.”
Ia butuh pengalihan. Butuh seseorang yang tidak membuat dadanya sesak hanya karena tatapan.
---
Restoran itu tidak terlalu ramai. Musik jazz pelan mengalun di sudut ruangan. Begitu Aluna masuk, ia langsung melihat Adrian berdiri dan melambaikan tangan.
Tidak banyak yang berubah dari pria itu.
Senyumnya tetap hangat. Tatapannya tetap lembut.
“Luna,” ucapnya pelan saat Aluna duduk. “Kamu kelihatan lebih kurus.”
Aluna terkekeh kecil. “Kamu masih suka mengomentari hal nggak penting.”
“Buatku itu penting.”
Ada sesuatu dalam nada suara Adrian yang membuat hatinya sedikit melembut.
Mereka memesan makanan. Obrolan awal terasa ringan tentang pekerjaan, tentang kota yang makin padat, tentang teman-teman lama.
Sampai akhirnya Adrian bertanya pelan, “Kamu masih memikirkan kejadian itu?”
Senyum Aluna memudar.
Ia tahu maksudnya.
“Tiga tahun lalu bukan sesuatu yang mudah dilupakan,” jawabnya tenang. “Ayahku masih belum benar-benar pulih.”
Adrian menatapnya penuh empati. “Aku minta maaf karena waktu itu aku nggak bisa banyak membantu.”
Aluna menggeleng. “Bukan salahmu.”
Tapi di dalam hatinya, nama lain bergaung.
Arka.
Seolah semesta belum puas mempermainkannya, bayangan pria itu terus muncul di pikirannya cara dia berdiri, cara dia menatapnya di ruang rapat, cara suaranya terdengar begitu yakin saat mengatakan bahwa ia bukan pelaku.
Bukan pelaku?
Lalu siapa?
“Luna?” Adrian memanggilnya pelan. “Kamu nggak apa-apa?”
Aluna tersadar. “Aku ketemu dia hari ini.”
Ekspresi Adrian langsung berubah. “Arka?”
Ia mengangguk.
“Dia sekarang jadi direktur utama di kantorku.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Adrian mengepalkan tangannya di atas meja. “Kamu harus hati-hati.”
“Hati-hati?” Aluna tersenyum tipis. “Apa lagi yang bisa dia ambil dariku?”
Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya terlihat lebih gelap dari biasanya.
“Aku cuma nggak mau kamu terluka lagi.”
Kalimat itu terdengar tulus. Terlalu tulus sampai membuat d**a Aluna terasa hangat.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa aman.
---
Sementara itu, di tempat lain—
Arka berdiri di balkon apartemennya, memandang gemerlap lampu kota dari lantai dua puluh lima.
Di tangannya, sebuah map lama terbuka.
Foto lama terselip di dalamnya.
Foto keluarga Aluna.
Ia menghela napas pelan.
“Kamu masih membenciku,” gumamnya lirih.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Proyek pengambil alihan tiga tahun lalu sudah mulai diselidiki ulang. Hati-hati.
Rahang Arka mengeras.
Ia tahu cepat atau lambat kebenaran itu akan muncul.
Dan saat hari itu tiba, mungkin Aluna akan tahu bahwa dirinya bukan dalang kehancuran keluarganya.
Tapi masalahnya bukan hanya itu.
Masalahnya adalah—
Ia memang berada di sana saat semuanya terjadi.
Dan ada satu keputusan yang ia ambil… yang sampai sekarang masih menghantuinya.
---
Keesokan paginya, Aluna datang lebih awal dari biasanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Arka.
Jika pria itu ingin perang, ia siap.
Saat ia sedang menyalakan laptop, suara sepatu formal terdengar mendekat.
Tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa itu.
“Ruanganku. Sekarang.”
Tidak ada sapaan pagi. Tidak ada basa-basi.
Aluna berdiri dan mengikutinya.
Begitu pintu ruangan tertutup, Arka berdiri membelakanginya.
“Kamu dekat dengan Adrian lagi?” tanyanya tiba-tiba.
Aluna tertegun. “Itu bukan urusan Anda.”
Arka berbalik perlahan. Tatapannya tajam.
“Semua yang berhubungan denganmu adalah urusanku.”
Jantung Aluna berdetak tidak wajar.
“Sejak kapan?”
“Sejak tiga tahun lalu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aluna menatapnya dengan campuran marah dan bingung. “Kamu tidak berhak mengatakan itu.”
Arka melangkah lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak.
“Aku tidak peduli kamu membenciku,” katanya pelan. “Tapi jangan libatkan diri dengan orang yang salah.”
“Maksudmu?”
Arka terdiam beberapa detik, seolah menimbang sesuatu.
Lalu ia berkata pelan, “Tidak semua orang yang terlihat baik… benar-benar tidak bersalah.”
Seketika pikiran Aluna terlempar ke satu nama.
Adrian.
Ia menggeleng keras. “Berhenti. Jangan coba-coba mengalihkan kesalahanmu pada orang lain.”
Ekspresi Arka mengeras lagi, dinding dingin kembali terpasang.
“Baik. Kita fokus kerja saja.”
Percakapan selesai.
Tapi benih keraguan sudah tertanam.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiga tahun lalu—
Aluna tidak sepenuhnya yakin pada ingatannya sendiri.
Di luar ruangan, seseorang berdiri cukup lama sebelum akhirnya melangkah pergi.
Seseorang yang tadi mendengar cukup banyak.
Dan seseorang itu…
tersenyum tipis.
---