Sejak percakapan di ruang kerja itu, pikiran Aluna tidak pernah benar-benar tenang.
Kalimat Arka terus berputar di kepalanya.
Tidak semua orang yang terlihat baik… benar-benar tidak bersalah.
Ia benci karena kalimat itu berhasil membuatnya ragu.
Dan ia lebih benci lagi karena yang mengatakannya adalah Arka.
---
Hari itu kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. Tim marketing sedang mempersiapkan presentasi besar untuk investor asing. Semua orang tegang.
Aluna fokus menatap layar laptopnya ketika tiba-tiba notifikasi email masuk.
Pengirim: anonim.
Subjek: Kamu Yakin Dia Tidak Bersalah?
Dahi Aluna mengernyit.
Dengan ragu ia membuka email itu.
Hanya ada satu lampiran.
Foto lama.
Foto tiga pria berdiri di ruang rapat mewah.
Salah satunya adalah Arka.
Salah satunya lagi—
Adrian.
Jantung Aluna seperti jatuh ke perutnya.
Tanggal di sudut foto itu jelas: tiga tahun lalu.
Tepat seminggu sebelum perusahaan ayahnya bangkrut.
Tangannya bergetar.
Bagaimana mungkin?
Adrian bilang saat itu ia sedang di luar negeri.
Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk.
Aluna refleks menutup laptop.
Arka masuk tanpa menunggu jawaban.
“Presentasi sore ini kamu yang pimpin,” katanya singkat.
“Apa?” Aluna mengerjap. “Bukannya Anda yang—”
“Kamu yang lebih paham datanya.”
Nada suaranya profesional. Datar. Seolah pembicaraan kemarin tidak pernah terjadi.
“Baik,” jawab Aluna singkat.
Arka menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kamu terlihat pucat.”
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu tidak pernah pandai berbohong.”
Aluna mendongak cepat. “Kenapa Anda peduli?”
Untuk sepersekian detik, ekspresi Arka berubah. Bukan dingin. Bukan arogan.
Melainkan… khawatir.
Tapi itu lenyap secepat kilat.
“Kamu bagian dari timku. Aku tidak suka timku terlihat lemah.”
Jawaban yang aman.
Jawaban seorang atasan.
Namun entah kenapa, d**a Aluna terasa sedikit menghangat.
---
Sore harinya, ruang presentasi dipenuhi investor.
Aluna berdiri di depan layar besar. Ia menarik napas dalam.
Ia bisa melakukan ini.
Ia sudah melalui hal yang jauh lebih buruk.
Presentasi berjalan lancar. Data jelas. Strategi matang.
Sampai tiba-tiba—
Slide di layar berubah sendiri.
Bukan slide miliknya.
Melainkan laporan lama.
Laporan pengambilalihan perusahaan ayahnya.
Ruangan langsung gaduh.
Aluna membeku.
Di layar terpampang logo perusahaan Arka.
Dan tanda tangan digital seseorang yang sangat ia kenal.
Adrian Wiratama.
Napasnya tercekat.
Ini tidak mungkin kebetulan.
Suara bisik-bisik mulai terdengar.
“Matikan itu,” perintah Arka tajam.
Teknisi panik mencoba mengendalikan layar.
Tapi slide berikutnya muncul.
Rekaman rapat singkat. Suara samar.
Dan suara itu—
Adrian.
“Kita harus pastikan keluarga Maheswari tidak punya ruang untuk bangkit.”
Dunia Aluna runtuh untuk kedua kalinya.
Arka berdiri dari kursinya. “Hentikan sekarang juga!”
Layar akhirnya mati.
Ruangan sunyi.
Semua mata tertuju pada Aluna.
Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—
Fakta yang baru saja ia lihat.
Atau kenyataan bahwa Arka menatapnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
---
Rapat dibubarkan lebih cepat.
Begitu pintu ruangan tertutup, kaki Aluna terasa lemas.
Ia hampir terjatuh kalau saja—
Seseorang tidak menangkapnya lebih dulu.
Arka.
Tangannya mencengkeram bahu Aluna dengan kuat namun hati-hati.
“Lepaskan saya,” bisik Aluna.
“Aku sudah bilang padamu,” suara Arka rendah, hampir seperti desahan. “Tidak semua yang terlihat baik itu bersih.”
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.
“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”
“Aku tidak punya bukti yang bisa kamu terima.”
“Dan sekarang?”
Arka menatapnya dalam.
“Sekarang kamu sudah melihatnya sendiri.”
Aluna mundur selangkah.
Pikirannya kacau. Hatunya hancur. Kepercayaannya runtuh.
“Pergi,” ucapnya lirih.
Arka tidak bergerak.
“Pergi!” kali ini suaranya lebih keras.
Arka akhirnya mundur.
Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berkata pelan—
“Aku tidak pernah ingin menghancurkanmu, Luna.”
Nama panggilan itu membuat jantungnya nyeri.
---
Malam itu, ponsel Aluna berdering tanpa henti.
Adrian.
Ia tidak menjawab.
Pesan masuk bertubi-tubi.
— Luna, itu tidak seperti yang kamu pikirkan.
— Kita harus bicara.
— Tolong percaya padaku.
Air mata kembali jatuh.
Kepercayaan.
Kata itu sekarang terasa begitu rapuh.
Di sisi lain kota, Adrian berdiri di dalam mobilnya, wajahnya tegang.
Ia tahu rahasia itu tidak akan selamanya tersembunyi.
Tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
Dan yang lebih ia tidak sangka—
Arka bergerak lebih dulu.
---
Keesokan paginya, Aluna datang ke kantor dengan mata sembab.
Begitu ia masuk, suasana terasa berbeda.
Orang-orang berbisik.
Menatapnya.
Beberapa layar komputer menampilkan cuplikan rekaman yang bocor.
Skandal mulai menyebar.
Dan di tengah semua kekacauan itu—
Arka berdiri di depan ruangannya, menunggu.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya—
Aluna tidak melihat musuh di sana.
Melainkan seseorang yang mungkin…
berada di pihaknya.
Tapi apakah ia siap mempercayainya?
Dan di tempat lain—
Adrian mengepalkan ponselnya erat.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkannya dengan cara baik,” gumamnya pelan, “aku tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Arka.”
Permainan ini baru saja berubah.
Dan hati Aluna adalah hadiahnya.
---
Arka melangkah mendekat ketika Aluna berhenti tepat beberapa meter darinya.
“Aku sudah minta tim IT melacak sumber kebocoran itu,” katanya tenang. “Ini bukan kebetulan.”
Aluna menatapnya tanpa ekspresi.
“Kenapa Anda peduli?” suaranya lelah, tapi tajam. “Bukankah ini justru menguntungkan Anda?”
Arka terdiam sesaat.
“Kalau aku ingin menjatuhkanmu,” ujarnya pelan, “aku tidak akan melakukannya di depan investor.”
Jawaban itu masuk akal.
Dan itu yang membuatnya semakin bingung.
“Masuk,” kata Arka sambil membuka pintu ruangannya.
Aluna ragu, tapi akhirnya mengikuti.
Begitu pintu tertutup, suasana menjadi sunyi.
Arka menyodorkan tablet padanya.
“Lihat ini.”
Rekaman yang sama diputar ulang. Namun kali ini diperbesar.
Tanggalnya memang tiga tahun lalu.
Lokasinya ruang rapat perusahaan pesaing.
Dan wajah Adrian terlihat jelas.
“Kenapa kamu punya ini?” bisik Aluna.
“Aku menyimpannya,” jawab Arka, “karena sejak awal aku tahu ada yang tidak beres.”
Aluna menatapnya tajam. “Kenapa tidak kau gunakan untuk membersihkan namamu?”
Arka tersenyum tipis, pahit.
“Karena saat itu kamu tidak akan percaya padaku.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Ia ingin menyangkal.
Tapi Arka benar.
Tiga tahun lalu, ia terlalu tenggelam dalam kemarahan untuk mendengar penjelasan apa pun.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Nama Adrian kembali muncul.
Kali ini bukan telepon.
Sebuah pesan suara.
Tanpa sadar, Aluna menekan tombol putar.
Suara Adrian terdengar tergesa.
“Luna, tolong dengarkan aku. Apa pun yang kamu lihat hari ini, itu tidak seperti yang terlihat. Aku melakukannya untuk melindungimu.”
Aluna membeku.
Melindunginya?
Arka menatapnya lekat.
“Melindungimu dari apa?”
Jawaban itu tidak datang.
Karena saat itu juga, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk.
Seorang staf panik masuk.
“Pak Arka, ada media di bawah. Mereka sudah tahu soal rekaman itu.”
Arka mengumpat pelan.
Ia menoleh ke Aluna.
“Kalau kamu turun sekarang, mereka akan menghancurkanmu dengan pertanyaan.”
“Lalu apa?” Aluna balas menantang. “Saya harus bersembunyi?”
“Aku akan tangani.”
Aluna terdiam.
Untuk pertama kalinya, Arka tidak terlihat seperti musuh.
Ia terlihat seperti perisai.
Beberapa menit kemudian, Arka berdiri di depan lobi perusahaan yang dipenuhi wartawan.
Aluna melihatnya dari lantai atas melalui kaca besar.
“Kami sedang menyelidiki insiden sabotase ini,” suara Arka terdengar tegas melalui siaran langsung. “Dan saya pribadi menjamin tidak ada karyawan saya yang terlibat dalam pelanggaran hukum.”
Karyawan saya.
Ia tidak menyebut nama Aluna.
Tidak menyudutkannya.
Sebaliknya, ia mengambil semua tekanan itu sendiri.
Dada Aluna terasa sesak.
Kenapa?
Kenapa pria yang ia benci justru berdiri di garis depan untuknya?
---
Sementara itu, Adrian mematikan televisi di apartemennya.
Wajahnya gelap.
“Jadi kamu memilih jadi pahlawan sekarang, Arka,” gumamnya dingin.
Ia membuka laptop dan mengetik cepat.
Jika satu rahasia terbongkar, maka rahasia lain juga bisa.
Dan ia tidak akan kalah begitu saja.
---
Malamnya, Aluna duduk sendirian di apartemennya.
Semua terasa seperti mimpi buruk.
Tiga tahun lalu ia kehilangan perusahaan keluarganya.
Hari ini ia kehilangan kepercayaan.
Ponselnya kembali bergetar.
Bukan Adrian.
Arka.
Ia menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Halo.”
“Aku di bawah apartemenmu.”
Jantungnya berdegup kencang.
“Untuk apa?”
“Hujan deras. Aku ingin memastikan kamu sampai rumah dengan aman.”
Aluna berdiri dan membuka tirai jendela.
Benar saja.
Mobil hitam itu terparkir di bawah.
Arka berdiri di sampingnya, masih mengenakan jas kerja, rambutnya sedikit basah oleh hujan.
Ia tidak mengetuk.
Tidak memaksa.
Hanya berdiri di sana.
Menunggu.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
Aluna tidak merasa sendirian.
Tapi justru itulah yang paling menakutkan.
Karena jika ia mulai mempercayai Arka…
Maka kebenciannya selama tiga tahun terakhir mungkin dibangun di atas kesalahan.
Dan jika itu benar—
Siapa sebenarnya musuhnya?
Hujan turun semakin deras.
Dan tanpa mereka sadari—
Seseorang mengawasi dari kejauhan.
Dengan niat yang jauh lebih berbahaya.
---