Hujan belum berhenti.
Aluna masih berdiri di balik tirai, menatap sosok Arka di bawah sana.
Pria itu tidak bergerak.
Tidak menelepon lagi.
Tidak mendesak.
Hanya berdiri, seolah kehadirannya saja sudah cukup untuk mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkan lewat kata-kata.
Hatinya kacau.
Ia bisa saja mengabaikannya.
Menutup tirai.
Berpura-pura tidak melihat.
Tapi kakinya justru melangkah menjauh dari jendela.
Mengambil cardigan.
Dan beberapa menit kemudian—
Ia sudah berdiri di lobi apartemennya.
Pintu kaca terbuka.
Hujan dan udara dingin langsung menyambutnya.
Arka menoleh.
Tatapan mereka bertemu di bawah lampu jalan yang redup.
“Kamu seharusnya tidak turun,” ujar Arka pelan.
“Kamu juga seharusnya tidak datang,” balas Aluna.
Sunyi sejenak.
Hanya suara hujan.
“Aku tidak percaya pada kebetulan,” lanjut Aluna akhirnya. “Rekaman itu. Email anonim. Media yang datang terlalu cepat. Semua ini direncanakan.”
Arka mengangguk tipis. “Aku tahu.”
“Kamu tahu siapa pelakunya?”
“Aku punya dugaan.”
“Adrian?”
Arka tidak langsung menjawab.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Dada Aluna kembali terasa sesak.
“Aku pernah mencintainya,” suaranya melemah.
Arka menatapnya lama. “Aku tahu.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
“Kamu tahu?” ulangnya pelan.
“Aku tahu sejak dulu.”
Sejak dulu.
Dua kata itu mengandung terlalu banyak makna.
Hujan semakin deras, membuat jarak di antara mereka terasa semakin tipis.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang apa pun?” tanya Aluna.
“Apa yang harus kukatakan?” suara Arka terdengar lebih jujur dari biasanya. “Bahwa aku menyukaimu saat kamu memilih orang lain?”
Jantung Aluna seperti berhenti berdetak.
Hujan terasa memudar.
Semua suara lain menghilang.
“Kamu—”
“Aku tidak pernah membencimu, Luna,” potong Arka pelan. “Bahkan saat kamu menuduhku menghancurkan keluargamu.”
Tatapannya tidak lagi dingin.
Tidak lagi penuh pertahanan.
Ia terlihat… terluka.
Dan untuk pertama kalinya, Aluna menyadari sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Kebencian di antara mereka mungkin tidak pernah sepihak.
---
Tiga Tahun Lalu
Ruangan rumah sakit berbau antiseptik.
Ayah Aluna terbaring lemah setelah serangan jantung mendadak tepat sehari setelah perusahaan resmi diambil alih.
Di luar ruangan itu, Arka berdiri.
Menunggu.
Ia ingin masuk.
Menjelaskan.
Tapi sebelum ia sempat melangkah—
Adrian lebih dulu keluar dari kamar.
“Pergi,” ujar Adrian dingin saat itu. “Kalau kamu masih punya hati.”
Dan Arka… memilih pergi.
Bukan karena bersalah.
Tapi karena ia tahu kehadirannya hanya akan memperkeruh keadaan.
---
Kembali ke masa kini.
“Kenapa kamu tidak pernah melawanku?” tanya Aluna lirih.
“Aku tidak mau melawanmu,” jawab Arka. “Aku mau melindungimu.”
Kata itu lagi.
Melindungi.
Sama seperti yang Adrian katakan.
Tapi dengan nada yang berbeda.
Dengan rasa yang berbeda.
Tiba-tiba ponsel Aluna bergetar.
Pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
> Kalau kamu ingin tahu kebenaran tentang ayahmu, datanglah ke gudang lama di kawasan pelabuhan. Sendiri.
Aluna menegang.
Arka memperhatikan perubahan wajahnya.
“Apa?”
Ia menunjukkan layar ponselnya.
Wajah Arka langsung mengeras.
“Itu jebakan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak akan pergi.”
Aluna mengangkat dagu. “Kalau ini tentang ayahku, aku harus pergi.”
“Tidak sendirian.”
“Pesannya bilang sendiri.”
“Dan kamu selalu menuruti orang yang mengancammu?”
Nada Arka tajam.
Tapi bukan marah.
Takut.
Aluna menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia bisa membaca kekhawatiran yang nyata di sana.
“Aku tidak butuh pahlawan,” ucapnya pelan.
“Bagus,” jawab Arka cepat. “Karena aku bukan pahlawan. Aku cuma pria yang tidak ingin kehilanganmu lagi.”
Kalimat itu membuat napasnya tercekat.
Kehilanganmu lagi.
Seberapa dalam sebenarnya perasaan Arka selama ini?
---
Di Tempat Lain
Adrian menatap layar laptopnya.
Kamera pengawas dari gudang pelabuhan menyala.
Ia tersenyum tipis.
“Datanglah, Luna,” gumamnya. “Biar kamu tahu siapa yang benar-benar bermain di belakang layar.”
Ia menekan tombol panggilan.
“Semuanya siap?” tanyanya pada seseorang di seberang.
“Siap, Pak.”
“Bagus. Pastikan Arka ikut.”
“Kalau dia tidak?”
Adrian tersenyum dingin.
“Dia pasti ikut.”
---
Kembali ke Apartemen
Aluna menatap Arka dalam diam.
“Aku akan pergi,” katanya tegas.
Arka menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobilnya.
“Masuk.”
“Kamu tidak dengar? Aku harus sendiri.”
“Aku akan jaga jarak,” jawabnya. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu masuk ke jebakan tanpa pengawasan.”
Hujan masih turun.
Kali ini lebih deras.
Dan entah kenapa—
Aluna tidak menolak.
Ia masuk ke mobil.
Perjalanan menuju pelabuhan sunyi.
Tapi keheningan itu bukan lagi penuh kebencian.
Melainkan penuh ketegangan… dan sesuatu yang lebih rumit.
Sesampainya di kawasan gudang tua, lampu-lampu jalan berkedip redup.
Aluna turun lebih dulu.
Arka tetap di dalam mobil.
Memberi jarak.
Tapi matanya tidak pernah lepas darinya.
Pintu gudang terbuka perlahan.
Suara langkah menggema.
“Luna.”
Suara itu.
Adrian keluar dari bayangan.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Aku tahu kamu akan datang,” katanya lembut.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Aluna langsung.
Adrian tersenyum samar.
“Karena ada kebenaran yang belum kamu tahu.”
“Lalu katakan.”
Adrian melangkah mendekat.
“Tiga tahun lalu, ayahmu memang akan kehilangan perusahaan itu. Tapi bukan karena aku.”
“Jangan bohong.”
“Aku hanya mempercepat sesuatu yang sudah direncanakan.”
Aluna membeku.
“Direncanakan oleh siapa?”
Adrian menatap ke arah luar gudang.
Ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
Tatapannya tajam.
“Orang yang kamu percayai sekarang.”
Darah Aluna terasa dingin.
Langkah kaki terdengar dari belakangnya.
Arka masuk ke dalam gudang.
Tatapannya langsung bertemu dengan Adrian.
Dua pria itu berdiri saling berhadapan.
Udara di antara mereka seperti siap meledak.
“Jangan mulai lagi permainanmu,” kata Arka dingin.
Adrian tersenyum tipis.
“Permainan? Aku hanya ingin Luna tahu bahwa pahlawan barunya tidak sebersih yang ia kira.”
Aluna menoleh bergantian pada mereka.
Satu adalah cinta lamanya.
Satu adalah musuh yang mungkin bukan musuh.
“Cukup!” suaranya bergetar tapi tegas. “Aku muak dengan setengah kebenaran. Salah satu dari kalian harus berhenti berbohong!”
Keheningan.
Lalu Adrian berkata pelan—
“Tanyakan pada Arka… kenapa ayahmu memindahkan saham mayoritasnya seminggu sebelum bangkrut.”
Jantung Aluna berhenti.
Perlahan.
Ia menoleh pada Arka.
Wajah pria itu tidak lagi tenang.
Untuk pertama kalinya—
Ia terlihat terkejut.
Dan mungkin…
bersalah.
Hujan mengguyur atap gudang dengan keras.
Dan Aluna menyadari satu hal—
Cinta segitiga ini bukan hanya tentang perasaan.
Tapi tentang rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
---
“Jawab dia, Arka.”
Suara Aluna pelan, tapi menggema di ruang kosong itu.
Arka tidak langsung berbicara.
Tatapannya berpindah dari Adrian ke Aluna.
Ada pertarungan di sana.
Antara ingin melindungi… dan harus jujur.
“Ayahmu memindahkan sahamnya,” akhirnya Arka berkata, suaranya rendah, “karena dia tahu seseorang sedang bermain kotor dari dalam.”
“Siapa?” tanya Aluna cepat.
Arka menatap Adrian.
“Dia sudah mencurigai penggelapan dana. Dan nama yang muncul… adalah orang yang paling ia percaya.”
Adrian tertawa kecil. Tidak gugup. Tidak marah.
Terlalu tenang.
“Kau masih pintar memutar fakta,” ujarnya santai. “Katakan saja yang sebenarnya, Arka. Bahwa kau juga ikut duduk di meja negosiasi saat saham itu berpindah tangan.”
Aluna menoleh tajam.
“Kamu ada di sana?”
“Aku ada,” jawab Arka tegas. “Tapi bukan untuk mengambil. Aku mencoba menghentikan.”
“Bohong,” sela Adrian. “Kalau kau benar-benar ingin menghentikan, perusahaan itu tidak akan pernah jatuh ke tanganku.”
Ke tanganku.
Pengakuan itu begitu jelas.
Aluna merasakan dunia kembali bergeser.
“Jadi… kamu memang mengambilnya?” bisiknya pada Adrian.
Adrian tidak langsung menyangkal.
Ia justru melangkah lebih dekat pada Aluna.
“Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk bertahan,” katanya lembut. “Dunia bisnis tidak mengenal belas kasihan, Luna. Ayahmu terlalu percaya pada orang yang salah.”
“Dan orang yang salah itu kamu?” suara Aluna bergetar.
“Tidak,” Adrian tersenyum tipis. “Orang yang salah itu adalah Arka.”
Tiba-tiba suara pintu besi bergeser terdengar dari belakang.
Beberapa pria masuk ke dalam gudang.
Tubuh besar. Wajah dingin.
Aluna membeku.
Arka langsung berdiri di depannya secara refleks.
“Jadi ini tujuanmu?” tanya Arka tajam.
Adrian menghela napas pelan, seolah kecewa.
“Aku hanya ingin percakapan kita… tidak terganggu.”
“Kau menyebut ini percakapan?” balas Arka sinis.
Hujan semakin keras.
Gudang terasa makin sempit.
“Tenang saja,” lanjut Adrian. “Aku tidak akan menyakiti Luna.”
“Kalau satu rambutnya saja terluka—” Arka melangkah maju.
“Apa?” Adrian memotong. “Kau akan jadi pahlawan lagi?”
Tatapan mereka bertabrakan.
Penuh sejarah.
Penuh dendam.
Dan sesuatu yang lebih tua dari sekadar persaingan bisnis.
Aluna menatap keduanya.
Tiba-tiba ia merasa seperti pion dalam permainan yang dimulai jauh sebelum ia sadar sedang bermain.
“Berhenti,” ucapnya tegas.
Semua mata beralih padanya.
“Aku bukan hadiah,” lanjutnya, suaranya bergetar tapi kuat. “Bukan trofi. Bukan alat balas dendam kalian.”
Hening.
Bahkan hujan terasa menjauh.
“Aku akan mencari kebenaran sendiri,” katanya. “Dengan atau tanpa kalian.”
Arka menoleh padanya. “Luna—”
“Tidak,” ia menggeleng. “Kalau memang ayahku memindahkan saham karena pengkhianatan dari dalam, maka aku akan menemukan siapa pelakunya.”
Ia menatap Adrian.
Lalu Arka.
“Dan kalau salah satu dari kalian berbohong… aku tidak akan pernah memaafkan.”
Kalimat itu lebih tajam dari ancaman apa pun.
Beberapa detik kemudian, suara sirene polisi terdengar samar dari kejauhan.
Wajah Adrian berubah untuk pertama kalinya.
“Kau memanggil mereka?” tanyanya pada Arka.
“Aku selalu siap,” jawab Arka dingin.
Adrian tersenyum tipis lagi, tapi kali ini lebih keras.
“Permainan ini belum selesai.”
Ia memberi isyarat pada orang-orangnya.
Mereka mundur perlahan sebelum sirene semakin dekat.
Beberapa menit kemudian, Adrian sudah menghilang dari gudang itu.
Hanya tersisa Aluna dan Arka.
Dan pertanyaan yang semakin berat.
“Aku tidak ingin kamu terlibat lebih jauh,” kata Arka pelan.
“Terlambat,” jawab Aluna. “Aku sudah terlibat sejak tiga tahun lalu.”
Tatapan mereka bertemu lagi.
Tidak lagi penuh kebencian.
Tidak sepenuhnya percaya.
Tapi ada sesuatu yang mulai tumbuh di sela-sela retakan itu.
Aliansi.
Rapuh.
Berbahaya.
Dan mungkin… tak terhindarkan.
Di luar, hujan mulai mereda.
Namun badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
---