Bab 4: Garis Tipis Kepercayaan

2027 Kata
Hujan benar-benar berhenti ketika mereka keluar dari gudang. Tapi udara masih terasa berat. Seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai. Aluna berjalan lebih dulu menuju mobil Arka. Langkahnya cepat, tapi pikirannya jauh lebih cepat lagi. Saham. Penggelapan dana. Pengkhianatan dari dalam. Dan satu fakta yang paling menyakitkan— Ayahnya tahu sesuatu sebelum semuanya runtuh. Arka membuka pintu mobil tanpa berkata apa pun. Kali ini ia tidak mencoba memaksakan percakapan. Namun begitu mesin mobil menyala, Aluna lebih dulu berbicara. “Aku mau semua dokumen lama perusahaan ayahku.” Arka meliriknya sekilas. “Itu tidak mudah.” “Aku tidak tanya mudah atau tidak.” Nada suaranya kembali tegas. Dingin. Arka justru tersenyum tipis. Musuhnya sudah kembali. Dan entah kenapa, itu membuatnya lebih tenang. “Kebanyakan arsip sudah dibekukan setelah akuisisi,” jelas Arka. “Tapi aku bisa mengakses sebagian.” “Sebagian tidak cukup.” “Kamu menuntut banyak untuk seseorang yang baru saja hampir dijebak.” Aluna menoleh tajam. “Dan kamu terlalu tenang untuk seseorang yang dituduh terlibat.” Mobil berhenti di lampu merah. Tatapan mereka bertemu. Tegang. “Kalau aku bersalah,” ujar Arka pelan, “aku tidak akan membawamu ke tempat itu dan memanggil polisi.” “Kamu bisa saja bermain dua sisi.” “Aku tidak pernah bermain dalam hidupmu, Luna.” Jawaban itu membuatnya terdiam. Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. --- Keesokan Pagi Kantor terasa berbeda. Berita tentang keributan di pelabuhan belum tersebar, tapi atmosfer sudah berubah. Bisik-bisik. Tatapan penasaran. Dan email internal dari manajemen pusat yang meminta klarifikasi tentang kebocoran data. Aluna berjalan masuk tanpa menunduk. Ia tidak akan terlihat lemah. Begitu sampai di mejanya, sebuah map cokelat sudah tergeletak di sana. Tanpa nama. Tanpa pengirim. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membukanya perlahan. Salinan laporan audit internal. Tanggal: dua bulan sebelum kebangkrutan. Dan ada satu halaman yang ditandai stabilo merah. Transaksi mencurigakan. Nilainya besar. Ditandatangani oleh— Direktur Keuangan lama perusahaan ayahnya. Bukan Arka. Bukan Adrian. Nama itu membuat Aluna membeku. “Rendra Pratama…” Ia berbisik pelan. Itu orang kepercayaan ayahnya selama lebih dari sepuluh tahun. Pintu ruangannya diketuk. Arka masuk. Tatapannya langsung jatuh pada map di tangan Aluna. “Kamu sudah dapat kiriman juga.” “Kamu tahu tentang ini?” “Aku yang kirim.” Aluna mengangkat wajahnya cepat. “Kenapa?” “Karena kamu minta kebenaran.” Ia mendekat, berdiri di sisi meja. “Rendra menghilang seminggu setelah perusahaan diambil alih,” lanjut Arka. “Tidak ada yang bisa menemukannya.” Aluna menelan ludah. “Jadi selama ini… kita salah sasaran?” “Belum tentu,” jawab Arka hati-hati. “Rendra tidak mungkin bergerak sendiri.” Nama Adrian kembali muncul di pikirannya. Tapi ada sesuatu yang tidak pas. Jika Adrian pelakunya, kenapa ia begitu yakin memancing Arka tadi malam? Kecuali… Ia ingin perhatian mereka teralihkan. Tiba-tiba pintu kantor terbuka tanpa diketuk. Adrian berdiri di sana. Rapi. Tenang. Seolah tidak pernah ada konfrontasi di gudang. “Pagi,” sapanya ringan. Aluna berdiri refleks. “Apa yang kamu lakukan di sini?” “Aku pemegang saham minoritas,” jawabnya santai. “Aku masih punya hak datang.” Tatapan Adrian beralih ke map di meja. Senyumnya tidak berubah. “Ah. Jadi kita mulai menggali masa lalu?” Arka berdiri sejajar dengan Aluna. Protektif. Jelas. “Apa yang kamu tahu tentang Rendra?” tanya Aluna langsung. Adrian mengangkat alis tipis. “Direktur keuangan lama itu?” “Kamu kenal dia?” “Semua orang di lingkaran bisnis mengenalnya.” Jawaban yang terlalu umum. “Kamu bertemu dia sebelum perusahaan ayahku jatuh?” desak Aluna. Hening sesaat. Adrian tersenyum tipis. “Aku bertemu banyak orang, Luna.” Itu bukan penolakan. Tapi juga bukan pengakuan. “Kalau kamu tidak bersalah,” lanjutnya lembut, “kenapa kamu terlihat seperti membangun aliansi dengan orang yang dulu kamu tuduh menghancurkan keluargamu?” Kalimat itu ditujukan pada Aluna. Tapi tatapannya pada Arka. Provokasi. Arka tidak terpancing. “Kita sedang bekerja,” jawabnya singkat. “Bekerja… atau saling menyembuhkan luka lama?” balas Adrian halus. Ketegangan di ruangan itu berubah arah. Bukan lagi soal bisnis. Tapi perasaan. Aluna mengepalkan tangan. “Aku tidak berpihak pada siapa pun,” katanya tegas. “Aku berpihak pada kebenaran.” Adrian menatapnya lama. Lalu tersenyum. “Itu yang membuatmu berbahaya.” Ia berbalik dan berjalan keluar tanpa berkata lagi. Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini bukan sunyi yang canggung. Melainkan sunyi yang penuh kesadaran. “Kita diawasi,” ujar Arka pelan. “Aku tahu.” “Kamu masih ingin lanjut?” Aluna menatap map di tangannya. Lalu pada Arka. Tatapan mereka tidak lagi setajam dulu. Masih ada jarak. Masih ada luka. Tapi juga ada keputusan. “Aku tidak akan berhenti,” jawabnya. Arka mengangguk pelan. “Kalau begitu, mulai hari ini kita bukan musuh.” Aluna menghela napas. “Jangan salah paham,” katanya. “Aku belum mempercayaimu.” “Aku tidak minta dipercaya.” “Lalu?” Arka menatapnya dalam. “Aku hanya minta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak pernah menjadi musuhmu.” Jantung Aluna kembali berdebar. Garis tipis itu semakin kabur. Antara benci. Dan sesuatu yang mulai terasa seperti… harapan. Dan di tempat lain— Rendra Pratama menutup laptopnya di sebuah apartemen kecil di luar kota. Ia tersenyum tipis melihat berita internal perusahaan yang bocor. “Bagus,” gumamnya pelan. “Semakin dekat kalian pada kebenaran… semakin mudah untuk menghancurkan kalian.” Permainan belum selesai. Dan kali ini— Pionnya mulai bergerak sendiri. --- Aluna tidak tahu kenapa kata-kata Arka barusan terus terngiang di kepalanya. Aku tidak pernah menjadi musuhmu. Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi jika benar… Maka selama tiga tahun terakhir, ia telah membenci orang yang salah. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada kebencian itu sendiri. “Aku mau akses penuh ke laporan audit setelah akuisisi,” ujar Aluna akhirnya, kembali pada nada profesional. “Kalau Rendra memang terlibat, pasti ada jejak lanjutan.” Arka mengangguk. “Aku akan atur aksesnya. Tapi kamu harus hati-hati.” “Aku selalu hati-hati.” “Tidak,” Arka menatapnya serius. “Kamu selalu nekat.” Aluna mendengus pelan. “Dan kamu selalu terlalu mengatur.” “Karena kamu selalu terlalu emosional.” Suasana kembali memanas. Namun kali ini berbeda. Bukan kemarahan lama. Lebih seperti… dua orang yang terlalu terbiasa saling menyerang, bahkan ketika sebenarnya mereka sedang berada di sisi yang sama. “Kalau kamu terus menganggapku lemah, kerja sama ini tidak akan jalan,” ucap Aluna pelan. Arka terdiam sejenak. “Aku tidak pernah menganggapmu lemah,” katanya akhirnya. “Aku menganggapmu terlalu penting untuk sembarangan.” Kalimat itu membuat waktu seakan melambat. Aluna tidak siap mendengar itu. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan dokumen di meja. “Jangan mulai lagi,” gumamnya. “Mulai apa?” “Kalimat-kalimat yang membuatku lupa kalau aku seharusnya membencimu.” Hening. Arka menatapnya lama. “Kalau membenciku membuatmu lebih mudah bertahan, silakan,” katanya pelan. “Tapi jangan bohong pada dirimu sendiri.” Jantung Aluna kembali tidak stabil. Sial. Kenapa pria ini selalu tahu celahnya? Tiba-tiba ponsel Arka berdering. Ia menjauh sedikit untuk menerima panggilan itu. Aluna mencoba menenangkan napasnya. Ini tidak boleh jadi rumit. Mereka hanya bekerja sama. Hanya mencari kebenaran. Tidak lebih. Namun ketika Arka kembali mendekat, ekspresinya berubah. “Rendra baru saja mentransfer sejumlah dana ke rekening luar negeri,” katanya serius. “Aku dapat laporan dari tim forensik keuangan.” Aluna langsung berdiri. “Kapan?” “Dua jam lalu.” “Berarti dia masih di dalam negeri.” “Atau masih punya orang di dalam perusahaan.” Keduanya saling berpandangan. Pikiran mereka sampai pada kesimpulan yang sama. Adrian. Tapi menuduh tanpa bukti hanya akan membuat mereka terlihat paranoid. “Kita pasang umpan,” kata Aluna tiba-tiba. Arka mengerutkan kening. “Umpan?” “Kita sebar informasi palsu tentang penemuan dokumen tambahan. Lihat siapa yang bereaksi.” Arka terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. “Aku suka caramu berpikir.” “Jangan biasakan.” “Sudah terlambat.” Sekali lagi, garis itu menipis. Di luar ruangan, seseorang berdiri cukup lama di balik dinding kaca buram. Adrian. Ia tidak mendengar seluruh percakapan. Tapi bahasa tubuh mereka cukup jelas. Terlalu dekat. Terlalu sinkron. Tangannya mengepal pelan. “Aku tidak akan kalah hanya karena kamu tiba-tiba berubah pikiran, Luna,” gumamnya. Malam itu, rencana dijalankan. Email internal dikirim ke beberapa petinggi perusahaan: informasi tentang dokumen lama yang “secara tidak sengaja” ditemukan kembali. Aluna dan Arka menunggu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Hingga akhirnya— Notifikasi masuk ke sistem keamanan internal. Ada upaya akses ilegal ke server arsip lama. Lokasi: lantai 17. Ruangan arsip keuangan. Aluna dan Arka saling pandang. “Sekarang,” ujar Arka singkat. Mereka berlari menyusuri koridor kantor yang hampir kosong. Suara langkah mereka menggema. Pintu ruang arsip terlihat sedikit terbuka. Lampu di dalam masih menyala. Arka memberi isyarat agar Aluna tetap di belakangnya. Tapi tentu saja, Aluna tidak sepenuhnya patuh. Begitu pintu dibuka— Seseorang berdiri di depan komputer arsip. Bukan Rendra. Bukan juga staf biasa. Adrian. Ia berbalik perlahan. Wajahnya tetap tenang. “Cepat sekali,” katanya ringan. Aluna merasa dadanya seperti diremas. “Apa yang kamu lakukan di sini?” “Mengecek sesuatu.” “Dengan membobol sistem keamanan?” Adrian menghela napas pelan. “Aku hanya ingin memastikan kalian tidak terjebak pada kesimpulan yang salah.” Arka maju selangkah. “Atau kamu ingin menghapus jejak?” Tatapan Adrian berubah dingin. “Aku tidak sepicik itu.” “Tapi kamu cukup cerdas untuk bermain di dua sisi,” balas Arka. Ketegangan meningkat drastis. Aluna berdiri di antara mereka. “Aku butuh kebenaran,” katanya lirih tapi tegas. “Bukan ego kalian.” Keheningan turun. Adrian menatapnya lebih lama dari biasanya. “Aku melakukan ini untuk melindungimu,” ujarnya pelan. “Dengan berbohong?” “Aku tidak berbohong.” “Kamu tidak pernah menjawab dengan jelas,” potong Aluna. Arka memperhatikan ekspresi Adrian. Ada sesuatu di sana. Bukan rasa bersalah. Tapi rasa takut. Dan itu berbeda. “Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?” tanya Aluna. Adrian terdiam. Untuk pertama kalinya, ia terlihat ragu. “Rendra bukan dalang utamanya,” katanya akhirnya. “Dia hanya pion.” Jantung Aluna berdegup kencang. “Siapa yang menggerakkannya?” Adrian menatap Arka sekilas. Lalu kembali pada Aluna. “Kalau aku bilang… orang itu masih duduk di jajaran direksi sekarang?” Udara terasa membeku. “Itu tidak mungkin,” gumam Aluna. “Semuanya mungkin di dunia ini,” balas Adrian pelan. Arka menyilangkan tangan. “Nama.” Adrian tersenyum samar. “Belum.” “Kamu main-main?” Arka maju lagi. “Aku menunggu momen yang tepat.” “Berhenti bermain teka-teki!” bentak Aluna akhirnya. “Hidup keluargaku hancur karena ini!” Adrian menatapnya. Dan kali ini, ada luka nyata di sana. “Aku tahu,” katanya lirih. Suasana berubah. Tidak lagi agresif. Lebih seperti tiga orang yang terjebak dalam pusaran yang sama. “Kamu harus percaya padaku,” lanjut Adrian pelan. Kalimat itu menggantung di udara. Aluna menatapnya lama. Dulu, ia akan langsung percaya. Tanpa ragu. Tapi sekarang— Kepercayaan bukan lagi sesuatu yang bisa diberikan begitu saja. “Aku tidak berpihak pada siapa pun,” katanya pelan. “Ingat itu.” Adrian tersenyum tipis, meski matanya redup. “Itu yang paling kutakuti.” Arka membuka pintu ruangan. “Kalau kamu punya bukti, bawa ke kami,” katanya dingin. “Kalau tidak, jangan ganggu penyelidikan kami.” Adrian berjalan melewati mereka. Saat melewati Aluna, ia berhenti sebentar. “Berhati-hatilah dengan siapa kamu percayai,” bisiknya pelan. Langkahnya menjauh. Tinggal Aluna dan Arka di ruangan itu. Sunyi. Tegang. Namun kali ini bukan hanya soal benci. “Kalau yang dia bilang benar…” gumam Aluna. “Kita dikelilingi musuh,” lanjut Arka. Aluna mengangkat wajahnya. “Aku belum mempercayaimu sepenuhnya.” “Aku tahu.” “Tapi untuk saat ini… aku memilih berdiri di sisimu.” Kalimat itu sederhana. Namun bagi Arka, itu lebih berarti dari apa pun. Ia tidak tersenyum. Tidak juga mendekat. Hanya menatapnya dengan sesuatu yang lebih lembut dari biasanya. “Itu sudah cukup.” Di antara mereka, ada jarak. Masih ada luka. Masih ada sejarah. Tapi untuk pertama kalinya— Mereka berdiri di sisi yang sama. Dan garis tipis antara benci dan cinta… semakin sulit dibedakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN