Bab 5: Rahasia yang Terkunci

1760 Kata
Malam setelah kejadian di ruang arsip, Aluna tidak bisa tidur. Ucapan Adrian terus terngiang. Orang itu masih duduk di jajaran direksi sekarang. Kalau itu benar, berarti musuhnya bukan hanya masa lalu. Tapi seseorang yang setiap hari mungkin tersenyum di ruang rapat. Pukul 02.17 dini hari. Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Aluna ragu beberapa detik sebelum mengangkat. “Luna.” Suara itu rendah. Tertahan. Adrian. “Aku tidak pernah memberi nomormu pada siapa pun,” jawab Aluna dingin. “Aku tidak pernah kehilangan cara untuk menghubungimu.” Jawaban yang dulu terdengar manis. Sekarang terasa mengganggu. “Apa maumu?” “Aku tidak bisa bicara lama. Ada yang mengikuti aku.” Jantung Aluna berdegup. “Ini bukan waktunya bercanda.” “Aku tidak bercanda.” Hening sejenak. Ia bisa mendengar suara napas Adrian yang tidak stabil. “Direksi yang kumaksud… dia tahu kita mulai bergerak.” “Kita?” Aluna menangkap kata itu. “Aku tidak pernah sepenuhnya di luar permainan ini, Luna.” “Katakan namanya.” Adrian terdiam. Lalu— “Pak Surya.” Nama itu seperti petir di malam sunyi. Surya Mahendra. Komisaris utama. Sahabat lama ayahnya. Orang yang berdiri di samping keluarga mereka saat pemakaman. “Tidak mungkin,” bisik Aluna. “Aku juga berharap begitu.” Telepon tiba-tiba terputus. Aluna menatap layar kosong. Tangannya gemetar. Pak Surya adalah orang yang membantu proses akuisisi. Orang yang meyakinkan semua pihak bahwa Arka adalah solusi terbaik saat krisis. Kalau Surya terlibat— Maka permainan ini jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan. --- Pagi Hari Aluna langsung menemui Arka di ruangannya. Tanpa mengetuk. Arka mengangkat wajah dari laptopnya. “Kamu terlihat seperti tidak tidur.” “Aku butuh akses ke laporan komunikasi direksi sebelum akuisisi.” Arka menyipitkan mata. “Kenapa?” “Karena aku mungkin tahu siapa dalangnya.” Ia menceritakan percakapan dengan Adrian. Arka mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya sulit ditebak. “Surya?” ulangnya pelan. “Menurut Adrian.” “Kamu percaya dia?” “Aku tidak tahu.” Jawaban jujur. Arka berdiri perlahan. “Surya yang mendorong dewan memilihku sebagai direktur utama,” katanya pelan. “Dia yang paling vokal menentang Rendra waktu itu.” “Bisa saja itu cara membersihkan namanya.” “Atau Adrian sedang mengadu domba.” Ruangan kembali dipenuhi ketegangan. Bukan lagi antara mereka. Tapi tentang siapa yang bisa dipercaya. “Kalau Surya benar terlibat,” lanjut Arka, “dia tidak akan bergerak ceroboh. Dia terlalu lama di dunia ini.” “Justru itu,” balas Aluna. “Orang seperti itu tidak meninggalkan jejak.” Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, ketakutan yang sama terlihat jelas di mata keduanya. --- Siang Hari – Ruang Rapat Direksi Surya Mahendra duduk di ujung meja. Rambutnya yang mulai memutih tertata rapi. Senyumnya hangat seperti biasa. “Ah, Aluna,” sapanya lembut. “Sudah lama kita tidak bicara berdua.” Nada itu. Sama seperti dulu. Seolah tidak pernah ada kehancuran. “Ada yang ingin saya tanyakan, Pak,” kata Aluna langsung. Arka duduk di sebelahnya. Diam. Mengamati. “Tentu.” “Bapak tahu soal transaksi Rendra sebelum perusahaan ayah saya runtuh?” Surya terdiam sepersekian detik. Terlalu cepat untuk disadari orang lain. Tapi tidak bagi Aluna. “Rendra memang membuat beberapa keputusan yang merugikan,” jawabnya hati-hati. “Tapi saat itu semuanya sudah terlambat.” “Apakah Bapak pernah bertemu Adrian sebelum akuisisi?” tanya Arka tiba-tiba. Senyum Surya sedikit memudar. “Adrian? Anak itu hanya investor muda yang ambisius.” “Jawaban yang aman,” gumam Arka pelan. Surya menyandarkan tubuhnya. “Kalian terlihat seperti tim yang solid sekarang.” Kalimat itu terdengar biasa. Tapi ada nada menyelidik di dalamnya. “Kami hanya bekerja,” jawab Aluna. “Tentu.” Tatapan Surya bergeser dari Aluna ke Arka. Lama. Menilai. “Kadang, bekerja terlalu dekat bisa membingungkan perasaan,” lanjutnya ringan. Aluna menegang. Arka tidak bereaksi. Tapi rahangnya mengeras. Surya berdiri. “Berhati-hatilah dengan tuduhan tanpa bukti,” katanya lembut. “Dunia bisnis kejam. Tidak semua orang sekuat ayahmu dulu, Luna.” Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi juga seperti ancaman terselubung. --- Malam Aluna berdiri di balkon apartemennya. Pikirannya kusut. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan. Dari nomor tak dikenal. Simpan baik-baik orang yang ada di sisimu sekarang. Tidak semua orang akan tetap hidup sampai akhir permainan. Darahnya seolah membeku. Detik berikutnya— Telepon masuk dari Arka. “Aku di bawah apartemenmu,” katanya singkat. “Apa?” “Kita perlu bicara.” Aluna turun dengan jantung tak tenang. Arka berdiri di samping mobilnya. Wajahnya lebih serius dari biasanya. “Ada apa?” “Ada seseorang yang mencoba mengakses data pribadimu satu jam lalu,” katanya langsung. “Alamat rumah, riwayat bank, semuanya.” “Siapa?” “Kita masih telusuri.” Angin malam terasa lebih dingin. “Ini bukan lagi soal perusahaan,” bisik Aluna. “Tidak pernah sesederhana itu,” jawab Arka. Hening sejenak. Lampu kota berkelip di kejauhan. “Aku tidak ingin kamu sendirian malam ini,” lanjut Arka pelan. Aluna mengangkat wajah. “Ini bukan karena kasihan, kan?” Arka menatapnya dalam. “Ini karena kamu terlalu berharga untuk dijadikan target.” Jantungnya bergetar lagi. Sial. Kenapa pria ini selalu mengatakan hal yang tepat di saat paling rapuh? Sebelum ia sempat menjawab— Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari mereka. Lampunya mati. Mesinnya tetap menyala. Arka langsung bergerak refleks, berdiri sedikit di depan Aluna. Protektif. Mobil itu tidak bergerak. Hanya diam. Mengawasi. “Masuk ke mobilku,” ujar Arka rendah. Aluna menelan ludah. Untuk pertama kalinya, rasa takut itu nyata. Bukan hanya tentang cinta. Bukan hanya tentang masa lalu. Tapi tentang keselamatan. Saat mereka masuk ke mobil, Aluna sempat melihat bayangan seseorang di kursi depan mobil hitam itu. Samar. Tak jelas. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Permainan ini tidak lagi sekadar manipulasi bisnis. Ini sudah menjadi ancaman. Dan untuk pertama kalinya— Aluna menyadari satu hal. Musuh sebenarnya mungkin bukan hanya ingin menjatuhkan mereka. Tapi menghancurkan mereka sepenuhnya. Sementara itu, di tempat lain— Surya Mahendra menutup teleponnya perlahan. “Saya sudah bilang,” ujarnya tenang pada seseorang di seberang sana, “anak-anak itu mulai terlalu jauh.” Ia tersenyum tipis. “Waktunya mengingatkan mereka… siapa yang memegang papan catur.” Dan di layar laptopnya— Terpampang satu file. Judulnya: Aset – Eliminasi Tahap Awal Permainan naik ke level berikutnya. Dan kali ini— Taruhannya bukan hanya hati. --- Mobil Arka melaju meninggalkan apartemen Aluna. Mobil hitam itu tidak langsung mengikuti. Tapi juga tidak benar-benar pergi. “Kamu lihat?” tanya Arka pelan tanpa menoleh. “Iya.” “Kita tidak bisa kembali ke apartemenmu malam ini.” “Aku tidak takut,” jawab Aluna refleks. “Aku tahu,” balas Arka. “Itu yang justru membuatku khawatir.” Aluna menoleh padanya. Lampu jalan menerangi sisi wajah Arka bergantian. Tegas. Tenang. Tapi jelas waspada. “Kita ke mana?” tanyanya akhirnya. “Ke tempat yang tidak terdaftar atas namamu.” “Kedengarannya seperti rencana penculikan.” Arka mengangkat satu alis tipis. “Kalau aku mau menculikmu, tidak perlu usaha sejauh ini.” Meski situasi tegang, sudut bibir Aluna sedikit terangkat. Detik berikutnya, ponselnya kembali bergetar. Pesan masuk. Dari Adrian. Jangan ikut Arka ke mana pun tanpa pengawasan. Kalau Surya mulai bergerak, orang pertama yang akan dia singkirkan adalah dia. Aluna menegang. Arka melirik sekilas. “Dia lagi?” Aluna tidak langsung menjawab. Ia menatap pesan itu. Lalu menatap Arka. Lalu kembali ke layar. “Adrian bilang… kamu dalam bahaya.” Arka terkekeh pelan. “Dia tiba-tiba peduli padaku?” “Katanya, kalau Surya mulai bergerak, kamu target pertama.” Arka terdiam beberapa detik. Ekspresinya berubah lebih serius. “Itu masuk akal,” gumamnya. “Masuk akal?” Aluna membalikkan tubuhnya menghadap Arka sepenuhnya. “Kamu bilang itu masuk akal dengan santai?” “Aku yang mengambil alih perusahaan. Kalau ada sesuatu yang perlu dibungkam, aku yang paling tahu datanya.” Aluna merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ketakutan. Dan sesuatu yang lebih personal dari itu. “Kamu tidak boleh meremehkan ini,” katanya pelan. “Aku tidak meremehkan.” “Kalau terjadi sesuatu padamu—” Ia berhenti. Terlambat. Arka menoleh perlahan. “Kalau terjadi sesuatu padaku… apa, Luna?” Keheningan memenuhi mobil. Jantung Aluna berdetak tidak karuan. Ini bukan waktunya. Bukan situasinya. Tapi emosi selalu memilih momen yang salah untuk muncul. “Aku tidak ingin kehilangan orang lain lagi karena permainan ini,” katanya akhirnya, lebih pelan. Bukan jawaban penuh. Tapi cukup. Tatapan Arka melembut. Untuk pertama kalinya malam itu, bukan hanya protektif. Tapi tersentuh. “Aku tidak akan semudah itu dikalahkan,” katanya rendah. “Jangan buat janji yang tidak bisa kamu tepati.” “Aku tidak pernah janji kosong.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai di kawasan yang tenang. Tidak mencolok. Tidak mewah. Tapi jelas aman. “Tempat siapa ini?” tanya Aluna. “Teman lama. Dia berutang padaku.” Arka turun lebih dulu, memastikan sekitar aman sebelum membuka pintu untuk Aluna. Gerakan kecil. Tapi penuh perhatian. Saat mereka melangkah masuk, Aluna tidak bisa mengabaikan satu hal— Ia merasa lebih aman berdiri di samping Arka. Dan itu menakutkan. Karena dulu, pria ini adalah orang yang ia tuduh menghancurkan hidupnya. Sekarang— Dialah yang berdiri di antara dirinya dan bahaya. Di sisi lain kota, Adrian berdiri di balkon apartemennya. Ponsel masih di tangan. Pesan terakhirnya pada Aluna belum dibalas. Ia menatap ke bawah, ke jalan yang mulai sepi. “Aku tidak pernah berhenti melindungimu,” gumamnya pelan. “Tapi kamu selalu memilih berdiri di dekat api.” Wajahnya mengeras. Kalau Surya benar mulai bergerak, waktu mereka tidak banyak. Dan kalau harus memilih antara menyelamatkan Aluna atau menjatuhkan Surya— Ia sudah tahu jawabannya. Kembali ke rumah persembunyian. Aluna berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam. Arka mendekat, berdiri tidak terlalu jauh. Tidak terlalu dekat. Menjaga jarak. Menjaga batas. “Kita mungkin tidak bisa kembali ke kantor untuk beberapa hari,” katanya. “Artinya?” “Kita selidiki dari luar. Diam-diam.” Aluna mengangguk. “Arka.” “Hm?” “Kalau ternyata semua ini lebih besar dari yang kita kira… kamu tetap di sisiku?” Tidak ada sindiran kali ini. Tidak ada ego. Hanya pertanyaan jujur. Arka tidak ragu. “Selama kamu tidak mengusirku.” Napas Aluna tertahan. Garis tipis itu— Semakin kabur. Antara rekan. Musuh lama. Dan sesuatu yang perlahan berubah menjadi perasaan yang lebih dalam. Di layar laptop Surya, satu notifikasi muncul. Target berpindah lokasi. Ia tersenyum tipis. “Tidak apa,” gumamnya. “Permainan ini baru dimulai.” Dan untuk pertama kalinya— Bukan hanya hati yang menjadi taruhan. Tapi nyawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN