Solo, Maret 2011 Pukul 9.54 malam. Sebuah malam yang dingin di pinggiran kota. Tanah, rumput dan jalan aspal hitam yang masih basah terlihat mengkilap di bawah cahaya lampu jalan atau sesekali sorotan lampu mobil yang melintas, menerangi tembok pagar tinggi dengan tatanan bebatuan alam di permukaannya. Malam terasa begitu pekat dan sunyi di sini. Meski dipenuhi banyak bagunan-bangunan bertingkat dengan atap abu-abu pekat yang senada. Tidak ada banyak suara di sini, selain gonggongan anjing dan mungkin sesekali suara mesin mobil yang melintas, dan pintu pagar yang dibuka. Hampir seperti tanah orang mati. Suram dan dingin. Tidak jauh berbeda dari raut wajah seorang wanita yang sedang duduk di dekat meja makan, dengan kaki ditekuk di atas kursi, membentuk huruf ‘X’. Telapak tangannya terl

