Pintu presidential suite di Ritz-Carlton tertutup di belakang Kang Woo-sung dengan bunyi klik yang nyaris tak terdengar, menelannya dalam keheningan yang mewah dan absolut. Di luar, Jakarta mulai bersiap menyambut fajar, namun di dalam ruangan yang luas ini, malam masih berkuasa. Woo-sung melepaskan dasinya dengan satu gerakan luwes, melemparkannya ke atas sofa kulit berwarna krem. Jasnya menyusul kemudian. Ia merasa seolah sedang melepaskan kostum dari sebuah pertunjukan yang panjang dan membosankan. Ia berjalan melewati ruang tamu yang megah menuju bar pribadi di sudut ruangan, setiap langkahnya terasa berat di atas karpet Persia yang tebal. Ia tidak menyalakan lampu utama, membiarkan ruangan itu diterangi hanya oleh cahaya keperakan dari jendela raksasa yang membentang dari lantai ke l

