Keesokan harinya, cerita Riska masih berlanjut. Hanya saja ditambah dengan keberadaan Asep, Fatur, Galih, dan Naysa yang menambah keramaian. Mereka sibuk bercerita masing-masing dan Riska hanya diam menyimak. Tanpa ada keinginan untuk menimbrung. "Rif, itu Riska kenapa? Jangan bilang dia sakit hati gara-gara ditolak cintanya sama kamu?!" celetuk Asep yang langsung mendapat lemparan batu dari seorang gadis. Semuanya melepas tawa, kecuali Riska dan Asep yang tengah mengelus-elus kepalanya. "Ck, kalian masih ketawa, sedangkan gue sebentar lagi angkat kaki dari desa." tutur Riska bernada sendu. "Ya baguslah, kalo kamu mau angkat kaki!" sahut Galih enteng. Riska menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia memandang Galih lamat-lamat. Membuat pemuda yang ditatapnya menjadi s

