Waktu terus berlalu dengan begitu lambat. Baru delapan hari lamanya aku hidup tanpa Serkan, tetapi rasanya sudah berbulan-bulan. Althan pulang di hari ketiga kematian Serkan. Saat Althan pulang semua hanya diam, termasuk aku. Aku sama sekali tak menyapa ataupun menyambut Althan. Aku ingin agar Althan tahu kalau aku begitu marah dan membenci Althan yang sekarang. Setiap kali Althan berusaha mendekat, aku selalu menghindar. Aku malas berkata apa pun kalau sedang marah. Hari kedelapan, Hesti meneleponku saat aku sedang membaca sebuah novel untuk menghilangkan rasa sedihku. Althan sebenarnya ada di rumah, karena dia memutuskan cuti untuk beberapa hari demi menebus kesalahannya padaku. Namun, aku tak menganggapnya ada. Aku segera menerima panggilan telepon dari Hesti. “Iya Hesti, ada a

