Lalu, jenazah Serkan pun dibawa keluar dan hendak dibawa ke pemakaman. Aku langsung menangis histeris. Tak sanggup rasanya kehilangan Serkan. Baru dua bulan bersama, kini dia harus meninggalkanku. Aku langsung berlari ke arah Mas Evin yang menggendong Serkan. “Jangan bawa Serkan! Aku nggak mau kehilangan anakku!” teriakku histeris. Mbak Sinta dan Hesti mencoba menarikku. Mereka ingin mengajakku pergi dari sini. “Citya, Serkan harus dibawa ke tempat peristirahatannya. Kamu harus ikhlas, Cit. Istighfar.” Mbak Sinta menasihatiku. “Istigfar Cit. Kamu harus ikhlas. Relakan Serkan, kasihan dia.” Mas Evin ikut bersuara. Aku pun semakin histeris. Mbak Sinta dan Hesti terus memegangiku. Lalu, aku merasa sangat lemas. Setelah itu pandanganku gelap kembali. Sayup-sayup terdenga

