Keesokan paginya, aku melihat kondisi Serkan. Alhamdulillah demamnya sudah turun, semalam dia juga tidak rewel. Aku segera menyu***inya karena Serkan sudah bangun. Dia berceloteh, membuatku tersenyum. Setelah itu, aku segera mengecek ponselku ternyata tak ada balasan dari Althan. Masih sama dengan kemarin, centang dua abu-abu. Aku mendesah pelan, aku jadi berpikir macam-macam tentang Althan. Air mataku kembali mengalir. “Citya, air hangat untuk Serkan udah siap.” Suara Hesti mengagetkanku. “Eh, kok, repot-repot, sih, Hesti. Aku bisa siapin sendiri.” “Nggak apa-apa, kok. Tadi sekalian nyiapin buat Cika. Kamu masih mau di sini, kan? Nggak apa-apa kalau aku tinggal kerja, ya?” tanya Hesti padaku. “Aku pulang aja, Hes. Serkan udah nggak demam. Kasihan Bi Ijah juga.” Aku ter

