Kejadian Yang Sangat Menyedihkan

1544 Kata

Keesokan paginya, aku melihat kondisi Serkan. Alhamdulillah demamnya sudah turun, semalam dia juga tidak rewel. Aku segera menyu***inya karena Serkan sudah bangun. Dia berceloteh, membuatku tersenyum.   Setelah itu, aku segera mengecek ponselku ternyata tak ada balasan dari Althan. Masih sama dengan kemarin, centang dua abu-abu. Aku mendesah pelan, aku jadi berpikir macam-macam tentang Althan. Air mataku kembali mengalir.   “Citya, air hangat untuk Serkan udah siap.” Suara Hesti mengagetkanku.   “Eh, kok, repot-repot, sih, Hesti. Aku bisa siapin sendiri.”   “Nggak apa-apa, kok. Tadi sekalian nyiapin buat Cika. Kamu masih mau di sini, kan? Nggak apa-apa kalau aku tinggal kerja, ya?” tanya Hesti padaku.   “Aku pulang aja, Hes. Serkan udah nggak demam. Kasihan Bi Ijah juga.” Aku ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN