Hari-hari kini kulalui dengan jiwa yang berdebar-debar. Sungguh aku tak tenang, waktu pernikahan makin dekat. Meskipun ini bukan pernikahan pertamaku dengan Althan, tetapi rasanya seperti pernikahan pertamaku. Sebab, kali ini persiapannya benar-benar matang. Mama begitu antusias mempersiapkan pernikahan kami kali ini. Tanpa kutahu ternyata Mama juga sudah menyiapkan undangan dan ternyata bukan hanya keluarga Mama dan Papa, tetapi juga kolega-kolega bisnis Papa. Sunguh aku merasa ini pernikahanku yang pertama. Aku begitu terharu. Waktu pernikahan kurang satu minggu, dan Althan pun untuk sementara tinggal di rumah pakdenya. Sebab, katanya kami harus dipingit. Ah, seperti baru pertama menikah. Malam ini, aku berdiri di balkon kamar Althan. Di rumah ini sudah banyak persiapan, terma

