Aku menghela napas dalam. Aku memang sebenarnya tidak akan kembali ke Malang dulu. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Mama, itu saja. Aku tak menyangka kalau Mama akan mengalami hal ini. “Kalau kamu memang sayang sama kami, batalkan rencana kamu itu. Dan kamu tinggal di sini. Nggak perlu tinggal di rumah sahabat kamu.” Papa menatapku tajam. Aku menghela napas dalam. Aku gamang. Kemudian, aku mengirimkan chat w******p pada Hesti, memberi tahu kalau masih ada masalah sebentar dan meminta Hesti pulang terlebih dahulu. [Kalau sekiranya nggak lama, aku tunggu Cit,] balas Hesti. [Kamu pulang aja dulu Hesti. Entah ini aku jadi nginep di rumah kamu apa nggak malam ini. Mama tiba-tiba sesaknya kambuh. Aku dilarang pergi dari sini.] Aku mencoba memberi pengertian pada Hesti. [Oh kalau

