Waktu terus berlalu, tibalah waktu yang kutunggu-tunggu. Surat cerai sudah waktunya diambil. Aku berangkat ke Bogor dari kemarin sore dan menginap di rumah Hesti. Aku berangkat sendiri tanpa Mas Evin. Aku tidak mau merepotkan Mas Evin terus. Kasihan Vilia kalau harus ditinggal. Cika senang sekali saat aku datang ke rumahnya kemarin. Dia bersorak riang. Dan pagi ini, aku diantar Hesti ke pengadilan agama. Hesti selalu siap kapan pun kubutuhkan. Dia rela izin tidak masuk kerja demi aku. Saat tahu aku akan pergi Cika merajuk ingin ikut. Tetapi, karena dibujuk mamanya karena memang Cika harus sekolah, akhirnya Cika pun menuruti apa yang dikatakan Hesti. “Tapi, Tante janji nggak boleh pulang cepat. Harus nginep lama di sini!” ancam Cika menatapku tajam. Aku hanya tersenyum

