Hesti hanya diam. Mungkin dia tak bisa menanggapi ucapan mamanya. Ternyata mertua Hesti orangnya sangat baik. Mantan mertuanya meneteskan air mata. Hesti hanya sesekali menggoda anak dari mantan suaminya itu. Ah, kalau aku jadi Hesti mana mau aku memegang anak dari pelakor yang sudah merebut suami dan kebahagiaanku. Aku menggerutu sendiri dalam hati. Namun, Hesti memang orang baik, jadi ya dia masih bersikap baik pada anak mantan suaminya. Tak bisa disamakan denganku. “Maafin anak Mama, Hesti. Maafin Mama yang nggak bisa mendidik Riyan jadi suami yang baik, sampai dia selingkuh. Maafin Mama.” Mantan mertua Hesti pun menangis. “Loh, Mama nggak salah, kok, yang salah itu Mas Riyan. Mama nggak salah sama sekali.” Hesti tersenyum pada wanita tersebut. “Hai, Sayang, namanya siapa?” tanyak

