Aku menghela napas dalam, Mas Evin begitu baik padaku, meskipun aku sering menyakitinya. Mas Evin dan Hesti sama-sama baik, sepertinya mereka cocok kalau dijodohkan. Aku tersenyum sendiri. “Citya, kamu kenapa? Hei.” Hesti menepuk pundakku pelan membuatku terkaget. “Eh, nggak apa-apa.” Aku menjawab dengan gugup. “Yang telepon barusan Mas Evin?” tanya Hesti padaku. “Iya. Dia baik banget sama kayak kamu, suka memberiku nasihat.” Aku mencoba memancing Hesti. “Kalian kayaknya cocok,” godaku pada Hesti. “Duh, kamu bisa aja Cit. Kalau Mas Evin baik kenapa nggak kamu terima aja cintanya. Bukannya dia begitu menyayangi kamu?” Hesti berbalik menggodaku. Aku menghela napas dalam. “Cinta nggak bisa dipaksa Hesti. Entah, aku sama sekali nggak bisa men

