Selesai sholat Zuhur, kami pun bercengkerama di ruang tengah sambil menunggu Nisa dan suaminya. Kami mengobrol banyak hal, termasuk aku yang ingin menjodohkan Hesti dengan Mas Evin. “Cika kalau punya ayah baru mau apa nggak?” tanyaku memancing tanggapan Hesti. “Mau Tante! Cika mau banget!” teriak Cika kegirangan. “Nanti Tante kenalin sama orangnya mau, ya?” tanyaku lagi. “Eh, Citya apa-apaan sih kamu ini! Nggak usah aneh-aneh deh!” Hesti menatapku dengan tajam. “Aku nggak aneh-aneh, kan, aku tanya baik-baik sama Cika. Cika mau, kok, punya ayah baru.” Aku tersenyum pada Hesti. Hesti tampak cemberut. Dia seperti tak suka saat aku bertanya soal ayah baru. Aku terkekeh melihat ekspresi wajah Hesti. Dia sungguh lucu sekali. Lalu, terdengar bel berbunyi. Tak lama kemudian, terdengar

