Keesokan paginya, aku pun berniat pergi ke rumah Hesti. Aku ingin menceritakan semuanya pada Hesti. Jika lewat w******p atau telepon aku tidak akan lega. Aku bersiap-siap dan berpamitan pada Bi Ijah. Namun, sebelumnya aku menghubungi Hesti via w******p. [Hesti, aku mau ke rumahmu pagi ini boleh?] tanyaku pada Hesti. Sekarang Minggu, makanya aku berani datang ke rumahnya. Chat yang kukirimkan masih centang abu. Aku dengan sabar menunggunya. Setelah beberapa detik kemudian, ponselku berdering, ada notif WA. Aku berharap itu balasan dari Hesti. Namun, ternyata malah dari Mas Evin. [Citya, kamu baik-baik saja, kan? Ini aku Mbak Sinta. Semalam kata Mas Evin kamu ngehubungi Mas Evin. Kamu beneran nggak apa-apa, Sayang?] Ternyata yang mengirim w******p istri Mas Evin. Ya Allah, ternyata Mbak

