Beyza menatapku tajam, dia mengangkat tangan dan seperti ingin menamparku. “Kamu memang selalu membuatku kalah! Setelah Althan yang berhasil kamu kuasai, sekarang orang tuanya!” sentak Beyza sambil menampar pipi kiriku. Aku mengaduh, lalu memegang pipiku yang sudah ditampar oleh Beyza. “Kamu? Beraninya kamu menampar Citya!” sentak Mama. Mama pun membalas menampar Beyza. “Mama?” Mata Beyza berkaca-kaca. “Itu tamparan keras buatmu supaya kamu sadar kalau kamu sudah nggak kami harapkan lagi! Sekarang pergi!” bentak Mama. “Aku nggak akan pergi. Aku ke sini karena masih sayang sama Althan. Althan, maafin aku, ya? Tolong maafkan aku.” Beyza memohon pada Althan. Althan dari tadi hanya diam, sepertinya dia masih belum begitu merespons apa yang terjadi. “Maaf, Beyza. Kamu pergi dari s

