Setelah tiga hari aku berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran Althan kembali. Tentu saja Mama, Papa, dan Althan terlihat bahagia. Semua itu dapat kulihat dari sorot matanya. Althan menarik napas lega. “Alhamdulillah, terima kasih Cit kamu udah mau nerima aku kembali menjadi suamimu. Semoga kita akan menjadi jodoh dunia akhirat. Aamiin.” Althan menatapku sambil tersenyum, begitu juga denganku. Aku memutuskan untuk menerima Althan menjadi suamiku kembali, karena aku ingin hidup bahagia dengan orang yang kucintai. Toh, perceraian yang terjadi di antara kami juga hanya talak 1, dan sebenarnya juga belum jatuh talak karena Althan tidak pernah menjatuhkan talak padaku. Hanya aku yang mencari surat cerai karena desakan dari Mama. Namun, karena masa perceraian kami sud

