Setelah Althan sembuh, aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke kota kelahiranku kembali. Aku bersiap-siap, setelah itu baru berpamitan pada Mama, Papa, dan Althan. Althan istirahat di kamar tamu di lantai bawah karena kamarnya aku tempati. Saat aku sedang memasukkan baju-bajuku ke tas besar, Mama tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Aku menoleh dan melihat Mama membelalakkan mata. Dia tampak kaget. “Citya! Apa-apaan ini? Kenapa kamu masukkan semua bajumu ke dalam tas?” tanya Mama dengan menatapku dalam. “Maaf sebelumnya, Ma, kan, tugas saya sudah selesai, jadi saya harus pulang. Althan sudah sembuh.” Aku menjawab sambil tersenyum. Mama menggeleng. Dia langsung memelukku dengan erat. “Nggak, kamu nggak boleh pulang. Kamu harus tetap di sini sampai kapan pun.” Mama terdengar t

