“Ibu, aku pulang!” Sampai tiba-tiba teriakan Sakura terdengar, membuat Yuli sontak menoleh. Suara antukan besi menandakan bahwa putrinya itu baru saja pulang, dan kini sedang menutup kembali pagar rumahnya yang hanya setinggi d**a anak-anak. Di luar, tampak dua ujung alis Sakura sedikit tertaut. Heran. Merasa asing akan suasana rumahnya senyap seperti ini. Karena biasanya, tiap kali ia berseru pulang setelah kembali dari mana pun, tak lama ibunya langsung segera menyambutnya di depan pintu. Sejenak Sakura melirik jam tangannya. Baru pukul 19.45 malam. Tidak mungkin kan jam segini ayah ibunya sudah tidur? Keanehan yang dirasa, entah mengapa membuat Sakura mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam. Sakura sangat terkejut saat ia menemukan banyak ceceran darah segar di lantai rum

