“Angkasa bakal laporkan semua perbuatan Papa ke polisi!” tandas Angkasa, dengan intonasi datar, namun amarah besar sudah tidak bisa terelakan lagi dari raut wajah dan sorot matanya. “Laporkan saja. Papa sudah puas akan semuanya. Jadi Papa sudah tidak peduli lagi. Tapi jangan salahkan Papa kalau sampai suatu hal terjadi pada gadis kedai itu.” Entah ini semacam ancaman atau bukan, untuk Angkasa, tetapi yang jelas tiba-tiba Andre mengeluarkan ponselnya, dan lansung mencari kontak kaki tangan kepercayaannya, yang sebelumnya sempat menelepon, kemudian memanggilnya ulang. “Bagaimana, Pak?” Sebelum menjawab pertanyaan seseorang di seberang sana, sesaat Andre melabuhkan pandangan piciknya tepat ke arah Angkasa. “Bunuh anak itu sekarang juga,” lantunnya, yang sukses besar menyulut emosi Angkasa.

