“Kenapa berenti di sini, Pak? Persimpangan ini belok kiri, Pak. Sini, masuk ke sini. Gak jauh dari sini tempat kerja saya.” Yuda menunjuk persimpangan yang ada di sebelah kiri. “Aduh, Mas. Saya ada keperluan mendadak ini. Istri saya telpon, jadi harus segera balik. Saya kasih diskon aja tagihannya. Jadi saya antar sampai sini aja, ya, Mas. Maaf banget. Lagi pula tempat kerja Mas udah gak jauh dari simpang ini ‘kan?” Yuda menganga mendengar itu. “Apa-apaan, sih? Kalo gak niat jadi supir, gak usah narik, Pak! Gak sopan banget turunin penumpang gak sampe tujuan gini.” “Maaf, Mas. Ini mendadak, bagi saya perintah istri itu adalah prioritas, apalagi ini mendesak. Mas bayarnya 35 ribu aja, itu udah saya kasih diskon, Mas.” Yuda mendengkus kesal. “Dasar laki takut istri.” Ia mengeluarkan uang

