“CUKUUUP, BUUK!” Rastanti terlonjak kaget akan bentakan putranya. Ia menatap Yuda dengan ekspresi tak percaya. “Yuda, kamu bentak Ibuk? Ibuk liat-liat, semakin hari kamu makin tega bentak-bentak Ibuk, cuek sama Ibuk, dan gak mikirin perasaan Ibuk. Kamu sadar, gak, sih? Ibuk kaget, dan Ibuk sedih loh kamu begini, Yuda. Sekarang kamu selalu lebih bela istri ketimbang belain Ibuk. Dulu kamu gak gini, dulu kamu selalu belain Ibuk dibanding Aina. Bahkan kalau Ibuk ngelapor, ngadu sama kamu, pasti kamu langsung marahin Aina. Sekarang kamu malah berubah, sikap kamu yang dulu suka salahin Aina, sekarang kamu pindah ke Ibuk. Kamu tega, Yuda. Apa kamu gak takut kualat jadi anak? Kamu gak takut jadi anak durhaka?” Yuda mengurut keningnya yang terasa berdenyut. Luka-luka di wajahnya seakan semakin s

