bc

MENUJU WISUDA

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
BE
fated
friends to lovers
drama
tragedy
sweet
kicking
campus
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Hari pertama bimbingan skripsi dengan pembimbing yang baru karena pembimbing sebelumnya sudah pensiun, banyak ketakutan dalam diri Sarah. Namun terbantahkan oleh revisian yang hanya di koreksi selama tiga menit. Sarah juga disarankan untuk mengerjakan skripsi bersama mahasiswa bernama Alvaro yang punya kemiripan topik penelitian dengan Sarah. Demi skripsinya, mau tidak mau sarah harus mengikuti saran pembimbing skripsinya yang baru

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Pembimbing Skripsi Baru & Teman Baru
Suasana di lorong fakultas siang itu terasa lengang. Beberapa mahasiswa berlalu-lalang, ada yang sibuk berbincang, ada juga yang tampak terburu-buru mengejar dosen sebelum mereka menghilang ke dalam ruang dosen masing-masing. Sarah duduk di kursi tunggu depan ruang Kaprodi. Benar, pembimbing skripsinya adalah Kaprodi. Ini hari pertamanya dibimbing oleh pak Herman, dosen pembimbingnya yang baru sebab dosen pembimbing sebelumnya sudah pensiun. Jemarinya menggenggam erat ritsleting tasnya yang sudah terbuka separuh. Di pangkuannya, laptopnya menyala, menampilkan dokumen skripsi yang entah sudah berapa kali ia baca ulang. Ia menarik napas dalam. Berbagai kemungkinan buruk berputar di kepalanya. Bagaimana jika dosen barunya lebih perfeksionis? Bagaimana jika revisinya bertambah banyak? Bagaimana jika ia tidak bisa lulus tepat waktu? Sarah menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. Saat itu, pintu ruang bimbingan terbuka. Seorang mahasiswa laki-laki melangkah keluar. Ia mengenakan jaket abu-abu yang bagian lengannya sedikit tergulung, memperlihatkan jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Dengan langkah santai, ia menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, lalu berhenti sejenak, menatap Sarah sekilas. Mereka sempat bertukar pandang. Namun, Sarah buru-buru menundukkan kepala, kembali berpura-pura sibuk dengan laptopnya. "Sarah Anindita?" Suaranya terdengar dari dalam ruangan. Sarah terlonjak kecil. Ia menutup laptopnya dan segera berdiri, mengatur napas sebelum melangkah masuk. Begitu pintu tertutup, matanya langsung menangkap sosok pria yang duduk di balik meja kerja besar di sudut ruangan. Dosen itu mengenakan kemeja biru dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya. Sarah tersenyum sopan. "Selamat siang, Pak." "Siang, silakan duduk." Sarah menurut. Ia merapatkan lututnya, menunggu dosennya berbicara lebih dulu. Dosen itu menatap berkas di tangannya sebelum melirik Sarah. "Saya sudah membaca skripsimu. Topiknya cukup menarik." Sarah mengangguk kecil. "Tapi ada satu hal yang membuat saya berpikir," lanjut dosennya. "Ternyata, topik ini cukup berkaitan dengan penelitian mahasiswa lain yang juga saya bimbing." Sarah mengernyit samar. "Kebetulan, mahasiswa yang baru saja keluar tadi—Alvaro—mengerjakan skripsi dengan tema yang hampir mirip dengan topik penelitianmu, Sarah," jelasnya. "Kamu meneliti dampak sosial dari limbah plastik terhadap masyarakat pesisir, sementara Alvaro meneliti pengelolaan limbah plastik berbasis ekonomi sirkular." Sarah mengangguk pelan. Ia belum bisa menebak arah pembicaraan ini ke mana. Dosen itu melanjutkan, "Saya rasa, akan lebih efektif jika kalian sering berdiskusi dan bertukar referensi. Ini bisa memperkaya perspektif kalian berdua." Sarah terdiam. Bertukar referensi? Berdiskusi? Seumur hidup, ia selalu terbiasa mengerjakan segalanya sendiri. "Saya menyarankan kalian bekerja sama dalam beberapa aspek," tambah dosennya. "Misalnya, jika kalian punya sumber bacaan yang relevan, kalian bisa saling berbagi. Atau jika ingin berdiskusi tentang metodologi, kalian bisa bertukar pikiran. Dua kepala pasti lebih baik daripada satu." Sarah melirik ke arah pintu tanpa sadar. Sosok mahasiswa yang tadi keluar kembali terbayang di benaknya. Alvaro. Pria itu tadi tampak santai, seolah pertemuan bimbingan adalah rutinitas biasa baginya. Bekerja sama? Ide itu terdengar asing bagi Sarah. Namun, mengingat ia tidak ingin kesulitan dengan pembimbing barunya, ia hanya bisa menurut saja. "Baik, Pak," jawabnya akhirnya. Dosen itu tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang, mari kita bahas revisimu." Sarah mengangguk, berusaha mengosongkan pikirannya sejenak dan fokus pada skripsinya. Tiga menit, tidak kurang tidak lebih dari tiga menit, Pak Herman merevisi skripsi milik Sarah. Mengingat beliau adalah orang sibuk di kampus, sebagai Kaprodi, Sarah bisa memaklumi. Sepanjang bimbingan Sarah bena-benar sesak napas. Tapi, untungnya tidak lupa dipasangnya perekam suara melalui ponselnya. Setelah sesi bimbingan selesai, Sarah keluar dari ruangan dengan kepala penuh revisi yang harus dikerjakan. Sambil menghela napas berat Sarah melirik jam tangan abu-abunya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Pukul 14.15 siang. Masih sempat untuk langsung revisian, pikirnya. Ia melangkah menuju tangga, berniat langsung ke perpustakaan untuk mengedit dokumennya sebelum semuanya menguap dari ingatannya. Namun, baru beberapa langkah, seseorang menepuk bahunya pelan. "Eh, Sarah, kan?" Sarah menoleh. Di sampingnya sudah berdiri seorang Alvaro—mahasiswa tadi. Sarah menangkap sekilas style Alvaro, jaket abu dengan dalaman kaus hitam polos dengan lengan sedikit digulung. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru memberi kesan santai. Dia juga lumayan tinggi untuk Sarah yang hanya 150 cm. "Iya?" "Gue Alvaro," katanya, sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Tadi dibilang dosen, kita punya topik yang mirip." Sarah mengangguk pelan, “Sarah,” balasnya sambil menjabat tangan Alvaro sebentar, lalu melepaskannya sesegera mungkin. "Mau ke mana sekarang?" tanyanya. "Ke perpus," jawab Sarah singkat. "Pas banget. Gue juga mau ke sana." Sarah menatapnya ragu. Seolah bisa membaca pikirannya, Alvaro mengangkat tangan sedikit, tanda tidak berniat mengganggu. "Santai aja, gue nggak maksa kerja sama kalau lo nggak mau. Cuma, kalau kebetulan kita ngerjain hal yang sama di tempat yang sama, kenapa nggak sekalian aja?" Sarah memandangi laki-laki yang berjalan beriringan dengannya lambat-lambat. Ia tidak menyangka Alvaro akan sefleksibel ini. Mungkin… ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan. "Ya udah," akhirnya ia berkata. "Ayo." Alvaro tersenyum tipis. "Oke. Let's go." Mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan, dan untuk pertama kalinya, Sarah merasa bahwa mungkin, perjalanan skripsinya kali ini tidak akan terasa seberat sebelumnya. Setidaknya dia punya teman untuk bertanya. Sarah terus mengikuti langkah Alvaro dari belakang, sedang menuju parkiran. Perpustakaan di kampus mereka lumayan jauh jaraknya, kalau tidak bertemu Alvaro, sudah pasti Sarah akan jalan kaki. Alvaro menstarter sepeda motornya, keluar dari jajaran motor yang tersusun rapi di tempat parkiran menuju posisi Sarah berdiri. Tangan kirinya langsung memberikan helm hitam pada Sarah. “Bintang lima ya, Mba!” seru Alvaro bercanda. Sarah hanya tersenyum. ** Gadis bernama Sarah itu benar-benar kaku. Dia tidak pernah memulai obrolan kalau bukan Alvaro yang lebih dulu memulai. Dia juga pelit ekspresi. Mukanya datar terus, untung cantik. Benar-benar tipe teman yang serius dan membosankan. Tapi untungnya teman barunya adalah Zein Alvaro, laki-laki ekstrover yang gampang berbaur dengan orang baru dan mudah beradaptasi. Pukul 16.00 sore, semua orang di dalam perpus langsung membenahi barang masing-masing, segera keluar dari gedung perpustakaan. Yap, jam operasional perpus kampus mereka dari jam 09.00-16.00. Langit sore mulai memerah ketika Sarah melangkah keluar dari gedung. Udara sedikit lembap setelah hujan gerimis yang turun tadi siang, menyisakan aroma tanah basah yang samar-samar tercium di udara. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi berbagai pikiran tentang skripsi. Hari itu, ia baru saja mendapatkan pembimbing baru, dan teman baru. Sarah senang, tapi perasaan senangnya itu pastilah tidak diketahui oleh sesiapapun melihat dari wajahnya yang selalu datar dan dingin. Bukan karena memasuki semester tua, Sarah memang begini dari sananya. Mungkin itu alasannya kenapa Sarah tidak mempunyai teman dekat, satu pun. Sarah selalu berpikir, kenapa dosen pembimbing sebelumnya, yang sudah memahami alur penelitian dan segala kesulitan yang ia hadapi, sudah harus pensiun—yang memang mengingat umur yang sudah mencapai ketentuan pensiun untuk para dosen. Tapi karena itu, segala progress yang sudah ia susun terasa seperti harus dimulai dari awal. “Sar,” ucap Alvaro. Sarah menoleh, “Yaa?” “Kos lu dimana? Biar sekalian gue antar.” “Ah, gausah. Ngerepotin.” “Aman aja. Ayoo naik,” Alvaro mengulurkan helm untuk Sarah. “Bisa?” tanya melihat Sarah kesusahan memasang helm. Sarah masih berusaha, berusaha memasang perekat untuk tali helm di bawah dagu. “Bisa,” balasnya kemudian dan langsung naik. Alvaro mulai menstarter motornya, keluar dari jalur parkiran dan segera berbaur dengan kendaraan yang berlalu Lalang. “Gimana revisian tadi? Banyak?” “Banyak.” Alvaro terkekeh. “Sama. Gue kira bakal gampang, ternyata nggak juga.” Sarah hanya diam, masih belum terlalu nyaman untuk banyak berbicara dengan orang yang baru ia temui. Tapi ada sesuatu dalam cara bicara Alvaro yang terasa… biasa saja. Seperti bukan basa-basi kosong. Sejenak Sarah memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sore. Lalu, tiba-tiba, Alvaro berbicara lagi membuat Sarah buru-buru membuka matanya. "Jadi, lo tipe yang ambisius atau yang santai dalam ngerjain skripsi?" Sarah menatapnya sekilas dari kaca spion sebelum menjawab, “Aku cuma pengen cepat selesai.” Alvaro mengangguk pelan. “Berarti lo bukan tipe yang santai, ya?” Sarah menghela napas. “Aku nggak punya banyak pilihan.” Kata-kata itu keluar begitu saja, dan Sarah tidak menyangka betapa dirinya terdengar jujur. Alvaro tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin, skripsinya masih penuh tantangan. Tapi setidaknya, ia tidak harus menghadapinya sendirian. Hari yang melelahkan, batin Sarah tersenyum dalam hati. Lumayan lelah dan lumayan seru, Alvaro yang membuat suasana menjadi seru. Tapi tidak dipungkiri bahwa Sarah harus menjaga sikapnya, takut kalau-kalau pacar Alvaro melihat atau sakit hati, siapa tahu? Bersikap sewajarnya saja, nasihatnya pada diri sendiri. Sarah benar-benar ahli dalam mengendalikan ucapan dan ekspresi wajahnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook