“Tok tok tok!” Aksa mengetuk kaca pintu mobil Gibran dengan setengah tergesa. Ia tak sabar ingin meluapkan kemarahannya kepada Gibran yang kini sudah ada di depan mata. Rasanya, tangan Aksa ingin segera menghantam wajah Gibran. Tak ada kata ampun setelah apa yang telah Gibran lakukan kepada Kalla. Sahabat Aksa sekaligus perempuan yang sangat Aksa cintai. Gibran terkejut dengan apa yang ada di depannya. Geng motor sudah mengepung mobilnya. Dan di samping mobil, kini sudah berdiri seorang laki-laki muda, masih mengenakan helm dan lengkap dengan jaket kulit hitam pekatnya. Gibran awalnya memilih untuk tidak keluar dari mobil. Namun Aksa memaksa Gibran agar Gibran keluar dari mobil. “Turun! Cepet!” Aksa memaksa Gibran segera keluar dari mobilnya. Helm Aksa belum Aksa lepas. Masih aman di kep

