Keributan Selalu Ada

1928 Kata
“Lo kan mau ke kampus, Kalla nggak ada yang jagain, jadi, gue ke sini untuk jagain Kalla,” ucap Aksa ketika turun dari mobil dan membuat Kalla juga Gibran terkejut. Aksa masih tidak rela jika Kalla memiliki waktu lebih dengan laki-laki lain, Aksa juga belum rela jika yang selalu ada dan di samping Kalla itu orang lain. Maka dari itu, Aksa memaksa datang ke rumah Kalla untuk menemani Kalla. Gibran hanya mengangguk mendengar ucapan dari Aksa. Tidak memberi komentar apapu, karena memang Gibran harus pergi ke kampus. “Gue titip Kalla, ya. Tolong jagain Kalla, nanti kalau memang lo ada keperluan mendadak lo bisa kabarin gue,” Gibran berpesan kepada Aksa sebelum pergi meninggalkan Kalla bersama Aksa. “Aku ke kampus dulu ya, Kal. Kalau ada apa-apa dan butuh aku, langsung hubungin aku. Kamu istirahat, jangan banyak kegiatan dulu. Obatnya jangan lupa diminum ya siang ini,” Gibran juga berpesan kepada Kalla. “Iya, Kak. Makasih, ya,” jawab Kalla sambil melengkungkan senyumnya yang sayu. Kalla dan Gibran sudah lama tidak bertemu berdua. Sejak kabar tentang kuliah Gibran di luar negeri, Kalla dan Gibran seperti sudah terpisahkan. Mereka tidak sedekat dulu lagi. Apalagi sejak kedatangan Gibran. Kedekatan Aksa dan Kalla kalah dengan kedekatan Gibran dengan Kalla. “Kamu apa kabar?” tanya Aksa membuka pembicaraan diantara mereka berdua. “Maksudnya?” “Kita sudah lama nggak ngobrol berdua, sudah lama nggak kayak gini. Semenjak kabar aku akan kuliah di luar negeri, setelah aku ngungkapin perasaan aku ke kamu, semenjak kehadiran Gibran di hidup kamu. Kita sudah nggak sedekat dulu,” ujar Aksa kepada Kalla. Kalla tidak bisa menjawab semua yang diucapkan oleh Aksa. “Apaan sih kamu. Kita masih sama seperti dulu, kok. Cuma bedanya kita punya kesibukan masing-masing. Aku kuliah di sini, sedangkan kamu memilih buat kuliah di luar negeri. Kamu juga sibuk jagain mama kamu yang lagi sakit, kan. Jadi istilah kita nggak sedekat dulu itu salah. Kita hanya dipisahkan oleh kesibukan sesaat,” jawab Kalla mengelak jika Kalla dan Aksa sudah tidak sedekat seperti dulu lagi. “Oke, kalau itu menurut kamu. Sekarang aku mau tanya sama kamu,” Aksa memasang mode serius. “Apa itu?” Kalla sangat penasaran dengan pertanyaan dari Aksa. Aksa sudah terlihat sangat serius. “Bagaimana hubungan kamu sama Gibran? Sudah sejauh mana?” tanya Aksa kepada Kalla dengan raut wajah yang serius. “Hubungan apa? Ya seperti yang kamu lihat saja,” jawab Kalla, lalu memalingkan wajahnya dari Aksa. “Ini salah satu alasan kenapa aku bilang kita sudah nggak sedekat dulu lagi. Kita sudah ada batas,” Aksa menegaskan kembali perkataannya tadi. “Batas apa? Bantal?” Kalla mencoba mencairkan suasana. “Kal, aku serius dengan pertanyaanku,” Aksa tidak mau jawaban receh dari Kalla. “Ya apa? Hubungan apa yang kamu maksud? Kita juga baru kenal belakangan ini, kan,” Kalla kembali menjawab dengan santai dan tidak mau menganggap serius. “Oke, aku ganti pertanyaannya. Bagaimana perasaan kamu ke Gibran sekarang?” Kalla tertegun sejenak. Memikirkan jawaban apa yang pantas dan pas atas pertanyaan yang Aksa ajukan. Kalla mengingat semua perlakuan Gibran kepada Kalla. Meskipun sikap Gibran itu terkadang dingin, dan tidak suka dengan banyak konflik, namun dibalik semua itu Gibran sangat perhatian, baik, juga memberikan rasa yang berbeda kepada Kalla. Gibran juga memberikan ketenangan juga kenyamanan yang sebelumnya tidak pernah Kalla dapatkan. Termasuk perasaan, Gibran menghadirkan rasa yang berbeda, tapi, Kalla belum mau mendalami perasaan apa itu sebenarnya. “Kal?” Aksa mengejutkan Kalla dari lamunannya. “Kamu sakit? Masih pusing?” Lemas, atau?” Aksa malah khawatir dengan keadaan Kalla yang sejenak diam saja tanpa menjawab pertanyaan Aksa. “Ehhhh enggak, kok.” “Aku mau istirahat, Sa. Kamu nggak apa-apa di sini sendiri?” Kalla meminta izin untuk meninggalkan Aksa sendirian di ruang bawah rumah Kalla. “Iya, nggak apa-apa. Aku bakal jagain kamu dari ini,” jawab Aksa sambil mengangguk. “Beneran?” Kalla meyakinkan Aksa kembali. “Kalau kamu mau pulang atau balik ke rumah sakit lagi nggak apa-apa, kok. Lagian kan aku juga sudah sembuh, Cuma butuh istrahat saja,” Kalla menambahkan ucapannya. “Sssssttt, sudah deh. Kalau mau istirahat, ke atas sana. Mau aku anter? Bisa naik tangga sendiri?” Aksa menanyakan kesanggupan Kalla menaiki tangga di rumahnya. “Bisa, kok.” Aksa memperhatikan Kalla yang berjalan ke atas menuju ke kamarnya. Aksa tidak mengalihkan pandangannya sampai Kalla masuk ke kamarnya dengan aman. Kalla juga sesekali menengok ke arah Aksa, untuk meyakinkan Aksa jika Kalla baik-baik saja. Kalla merebahkan badannya ke kasur, menarik selimutnya dengan lembut, lalu menutup sebagian badannya dengan selimut. Belum mulai memejamkan mata, Kalla sudah mendapatkan pesan dari Aksa juga Gibran. Kalla sampai salah membalas pesan untuk mereka. Pesan untuk Aksa, Kalla kirim untuk Gibran, sedangkan pesan untuk Gibran Kalla kirim untuk Aksa. Kalla tidak memberi penjelasan atas balasan yang Kalla kirim. Kalla langsung memejamkan mata untuk beristirahat karena badannya masih terasa sangat lemas. “Masih di sini lo?” tanya Gibran saat datang ke rumah Kalla dan menemukan Aksa masih di rumah Kalla. “Dimana Kalla?” Gibran menambahkan pertanyaan lagi untuk Aksa. Belum sempat Aksa menjawab pertanyaan dari Gibran, Meira juga datang ke rumah Gibran. “Kalllaaaaaaa,” Meira berteriak, namun berhenti ketika melihat Aksa dan Gibran ada di ruang tamu rumah Kalla. Meira sangat terkejut melihat Aksa dan Gibran yang berada di rumah Kalla. “Lo berdua apa di sini?” Meira bertanya heran, kenapa mereka bisa-bisanya ada di rumah Kalla. “Kalla di mana?” tanya Meira lagi. “Kalla ada di atas, di kamarnya. Lagi istirahat, jangan lo gangguin!” Aksa melarang Meira mengganggu Kalla yang sedang istirahat. “Terus gue suruh di sini sama lo berdua?” Meira bertanya dengan sinis. “Mending gue ke atas, melihat keadaan sahabat gue. Daripada kumpul sama kamu bucin,” Meira pergi meninggalkan Aksa dan Gibran sambil meledek. “Eehhhh dasar lo!” Meira meninggalkan Gibran dan Aksa berduaan di ruang tamu rumah Kalla. Aksa dan Gibran pun mulai canggung, bingung harus apa. “Bagaimana keadaan nyokap lo?” tanya Gibran mencoba membuka obrolan diantara mereka. “Semakin baik, kok. Besok juga sudah boleh pulang,” jawab Aksa tanpa melihat ke arah Gibran sama sekali. “Lo ada hubungan apa sama Kalla?” tanya Aksa yang membuat Gibran terkejut. “Hubungan apa? Maksud lo?” “Nggak usah pura-pura nggak tahu, lah,” Aksa tidak mau memperjelas pertanyaannya, karena menurut Aksa sudah cukup jelas untuk dimengerti. “Nggak ada hubungan apa-apa,” jawab Gibran santai. “Jangan macem-macem sama sahabat gue lo, ya!” Aksa mulai emosi karena jawaban Gibran tidak sesuai dengan dugaannya. “Maksud lo apa sih?” Gibran menekankan jika Gibran tidak paham dengan pertanyaan Aksa. “Semua orang tahu kalau lo punya perhatian lebih untuk Kalla. Lo juga salah satu orang yang dekat dengan kala akhir-akhir ini. Makanya gue tanya sama lo, ada hubungan apa sama Kalla? Nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa, tapi kalian bisa dekat padahal sebelumnya kalian nggak kenal satu sama lain. Nggak mungkin tanpa tujuan lo kenalan dengan Kalla,” Aksa menjelaskan maksud dari pertanyaannya. Sebenarnya Aksa hanya tidak ingin jika kedekatan Gibran dan Kalla hanya akan membuat Kalla sakit hati. Aksa juga takut jika Kalla sudah baper dengan Gibran, namun, Gibran menganggap semua biasa saja. Aksa tidak mau sampai Kalla terluka sedikitpun. “Gue sama Kalla baru saja kenal. Gue peduli sama dia juga karena dia juniro gue di kampus. Untuk selanjutnya, mau bagaimana pun hubungan gue sama Kalla, biar gue sama Kalla yang menentukan nanti,” Gibran menjawab dengan sinis. Gibran tidak suka jika Aksa ikut campur dengan kedekatannya dengan Kalla. Kedekatan dengan Kalla pun tidak Gibran sengaja sama sekali. Gibran selama ini membantu dan memeberi perhatian untuk Kalla karena mengalir begitu saja. Jika ada perasaan yang berbeda nantinya, Gibran hanya ingin membicarakannya dengan Kalla. Bukan dengan yang lainnya. Tidak lama setelah obrolan mereka berakhir, Aksa mendapat telepon dari rumah sakit. Aksa diminta untuk menemani Mamanya karena Papa Aksa harus bertemu dengan klien. Aksa harus cepat kembali ke rumah sakit, meski sebenarnya Aksa tidak rela jika yang menjaga Kalla adalah Gibran. “Tenang saja, gue bisa kok jagain Kalla sampai Mama dan Papanya pulang,” ujar Gibran sebelum Aksa memberitahu sesuatu kepadanya. “Gue nggak mau nitipin Kalla ke lo, gue mau nitipin Kalla ke Meira. Kalau urusan gue sudah selesai, gue juga bisa jagain Kalla di sini seperti biasa,” Aksa terpancing emosi. Gibran dan Aksa sama-sama berisitegang. Entah kenapa Gibran dan Aksa tidak bisa merasa nyaman jika mereka dekat. Seperti musuh yang lama tidak bertemu, lalu sekarang dipertemukan. Padahal, sebelumnya Aksa dan Gibran sama sekali belum pernah bertemu. Saat Aksa dan Gibran sedang ngobrol dengan tegang, tiba-tiba ada yang berteriak kepleset di tangga. Mereka mengira jika yang jatuh adalah Kalla. Gibran dan Aksa langsung berlari untuk melihat apa yang terjadi. Namun, ternyata yang jatuh adalah Meira. Meira kepleset di tangga terakhir. Teriakannya memang teriakan Kalla, Kalla berteriak melihat Meira yang jatuh di tangga terakhir. “Lo Mei, gue kira Kalla yang jatuh,” ujar Aksa tidak yang terkejut melihat Meira. Gibran melihat ke atas, Kalla ada di atas sambil memperhatikan mereka bertiga. Kalla tersenyum dan memberi kode jika Kalla baik-baik saja. “Terus kalau yang jatuh gue, lo nggak mau nolongin gue?” Meira ketus. “Ya bukan begitu, kan Kalla yang lagi sakit. Kasihan dong kalau sampai jatuh,” jawab Aksa ngeles. “Lagian tadi yang teriak juga suara Kalla bukan lo!” Aksa menambahkan pernyataan. “Tahu itu si Kalla, yang jatuh gue kenapa yang teriak dia!” Meira sinis sambil bangun sendiri karena Gibran dan Aksa tidak ada yang membantu. “Sini gue bantuin,” Gibran menawarkan bantuan, lalu menarik tangan Meira agar Meira ada topangan untuk berdiri. “Makasih, Kak. Gini dong jadi cowok, peka sedikit!” Miera ngomelin Aksa. “Lo mau kemana sih?” Tanya Aksa mengalihkan omongan Meira barusan. “Gue mau pulang, lah. Gue disuruh pulang sama nyokap gue, ini,” Meira mengeluh. “Yaudah bareng gue sekalian saja. Gue juga mau balik ke rumah sakit dulu,” ujar Aksa. “Kamu mau pulang? Ke rumah sakit? Mama kamu kenapa?” tanya Kalla cemas dengan keadaan Mama Aksa. “Engga, kok. Papa mau ada urusan, jadi, aku harus ke sana buat nemenin Mama. Nggak papa kan aku pulang dulu? Nanti kalau semua sudah selesai, aku balik lagi ke sini,” ucap Aksa. “Iya nggak papa dong, Sa. Kamu mendingan jagain Mama kamu saja, ya. Kasihan Mama kamu kalau sendirian,” ucap Kalla sambil menyusul yang lainnya di bawah. Aksa dan Meira pun pergi dari rumah Kalla. Gibran masih setia menemani Kalla. Sudah tidak ada canggung dan kikuk lagi diantara mereka. Justru kalau tidak ada salah satunya, pasti mencari satu sama lain. “Makan, yuk!”Ajak Gibran kepada Kalla. “Kamu harus minum obat malam ini,” Gibran menambahkan. Kalla mengangguk, lalu mengajak Gibran masuk ke dalam rumah untuk makan bersama. Gibran dan Kalla makan bersama. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba ada yang datang. Kalla pikir itu Mama dan Papanya pulang dari kantor. Kalla dan Gibran melanjutkan makannya, Kalla juga minum obat malam hari. “Braaaak!” suara pintu terbuka namun sangat kencang membuat Kalla dan Gibran terkejut. Mereka berdua langsung menuju ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Kalla berjalan dengan sedikit sempoyongan. Badannya masih lemas, sekarang jantungnya berdebar sangat kencang karena tiba-tiba ada yang seperti mendobrak pintu rumahnya. Kalla tidak tahu harus senang atau sedih Gibran masih ada di rumahnya. Disatu sisi Kalla masih ada yang menjaga, namun disisi lain, Kalla juga tidak mau kegaduhan di rumahnya diketahui oleh orang baru. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN