Kalla menatap wajah Gibran dengan penuh kecemasan. Cemas akan apa yang terjadi di depan mereka. Gibran mencoba menenangkan Kalla dengan mengelus tangan Kalla dengan lembut, menggandeng tangannya. Gibran membiarkan Kalla berjalan di belakangnya. Kalla memegang erat tangan Gibran, pasrah dengan apa yang terjadi.
“Papa, Mama?” Kalla terkejut ternyata di luar sudah ada Mama dan Papanya. Di bawah sudah banyak kertas-kertas berserakan.
Kalla melepaskan genggaman tangan Gibran, maju di depan Gibran, ingin lebih jelas melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi.
“Ada apa Ma, Pa?” tanya Kalla dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kamu suruh Mama dan Papa kamu masuk saja, Kal. Aku akan tunggu di luar,” bisik Gibran kepada Kalla.
“Mama sama Papa lebih baik masuk saja di dalam. Nggak enak malam-malam ganggu tetangga,” ujar Kalla tanpa ada jawaban dari Mama dan Papanya.
“Sini kamu!” Papa Kalla menggeret tangan Mama Kalla masuk ke dalam rumah. Mama Kalla tidak bisa menghindar, hanya bisa mengikuti Papa Kalla berjalan masuk ke dalam rumah.
“Kamu masuk, saja. Aku akan tunggu di luar dulu. Aku takut ada apa-apa dengan kamu,” ucap Gibran menyuruh Kalla masuk ke dalam rumah mengikuti Mama dan Papanya.
“Ma, Pa, ini ada apa sih?” Kalla meminta penjelasan dari kedua orang tuanya.
“Ini kamu baca sendiri,” Papa Kalla memberikan berkas perceraian orang tuanya.
“Papa akan menuruti kemauan Mama kamu untuk bercerai, karena Mama dan Papa sudah tidak bisa akur lagi. Tapi, bukan berarti alasannya fitnah seperti ini. Papa tidak pernah selingkuh sama sekali, tetapi Mama kamu bilang kalau Papa selingkuh. Papa nggak terima!” Papa Kalla menaikkan suaranya.
“Ma, Pa, apa perpisahan ini sudah jalan terakhir?” Kalla bertanya dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
“Iya,” Mama Kalla menjawab dengan singkat karena sedang sangat marah dengan Papa Kalla.
“Kalla bisa bantu apa agar Mama dan Papa nggak berpisah?” tanya Kalla dengan suara tangisannya yang sudah mulai pecah.
“Kalla rasa, hidup kita sudah lebih baik daripada dulu. Semua sudah tercukupi, Ma, Pa. Semua sudah bisa Mama dan Papa beli. Rumah sudah lebih besar, mobil, barang-barang mewah. Apa lagi yang Mama dan Papa inginkan? Kenapa belum juga puas dengan materi yang selama ini sudah didapatkan?” Kalla berbicara panjang lebar.
“Ini semua salah Papa kamu, Kal. Kalau saja Papa kamu dari dulu sudah bisa memenuhi semua kebutuhan kita, Mama nggak akan seperti sekarang. Yang bekerja keras untuk mendapatkan semuanya ini Mama, bukan Papa kamu!” Mama Kalla ikut menaikkan suaranya.
“Aku juga kerja keras setiap hari, tapi nggak pernah kamu hargai. Kamu Cuma bilang kalau pendapatan aku dibawah kamu, kamu yang lebih segalanya daripada aku!” Papa Kalla emosi mendengar ucapan Mama Kalla.
“Ma, Pa cukup!” Kalla menaikkan sedikit suaranya diiringi dengan tangisannya.
“Sekarang, Kalla tanya. Apa ada yang Kalla bisa bantu untuk Mama dan Papa? Apa Kalla harus berhenti kuliah untuk kerja? Supaya Mama dan Papa nggak perlu kerja keras dan setiap hari hanya bertengkar karena saling curiga? Kalla harus bagaimana, Ma, Pa?” Kalla kembali bertanya.
Mama dan Papa Kalla tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Kalla. Mereka hanya diam, menahan emosinya masing-masing. Kalla juga bingung, harus bagaimana lagi menghadapi kedua orang tuanya.
“Apa Kalla harus ikhlasin kalau Mama dan Papa akan berpisah?” Kalla bertanya dengan nada yang sangat lembut, meskipun pertanyaan itu membuat Kalla sangat sakit hati.
“Papa mau cerai dari Mama kamu, tapi bukan berarti Mama kamu bisa seenaknya menuduh dan memfitnah Papa,” Jawab Papa Kalla.
“Mama nggak asal nuduh, Kal. Mama ada buktinya. Papa sering nggak pulang ke rumah, Papa juga sering pergi dengan teman kantor perempuannya. Apa itu nggak cukup bukti?” Mama Kalla coba membela diri dengan memberikan bukti seadanya.
“Aku nggak pulang karena memang ada pekerjaan. Ada projek yang harus aku selesaikan malam itu juga. Semua teman-teman kantor aku juga sama, ada di kantor. Kamu nggak bisa seenaknya menuduh tanpa bukti, ya!”
“Ehhh, aku sudah cukup tahu buktinya. Aku nggak butuh bukti lainnya!”
Papa dan Mama Kalla masih saling menyalahkan satu sama lain. Kalla sudah tidak punya senjata lagi untuk menghentikan pertengkaran Mama dan Papanya. Badan Kalla kembali lemas, kepalanya pusing sekali, hatinya juga rasanya sakit sekali melihat kedua orang tuanya yang dulu saling mencintai, kini saling mencari kesalahan agar bisa berpisah.
“Apa perpisahan itu akan membuat keadaan lebih baik? Kalau iya, silakan, Mama dan Papa lakukan saja,” ucap Kalla sudah putus asa.
“Kamu jangan belain Mama kamu dong, Kal. Jelas-jelas Mama kamu itu sudah fitnah Papa, kamu diam saja?” ujar Papa Kalla kesal dengan Kalla yang merasa sudah putus asa dengan keadaan.
“Aku harus apa, Pa? Kalau memang sudah seharusnya berpisah, Kalla bisa apa? Kalla juga bukan senjata agar Mama dan Papa bisa akur kembali kan?” Kalla membela diri.
Papa Kalla hampir saja menampar Kalla karena merasa omongan Kalla yang barusan tidak pantas.
“Ma, kalau Mama butuh bantuan apapun itu, bilang sama Kalla. Bukan melampiaskan dengan kemarahan. Kalla anak Mama, Kalla ada juga karena Mama dan Papa. Kalla bertahan karena ada Mama dan Papa. Kenapa Mama dan Papa nggak bisa melihat Kalla sedikit saja? Kenapa keberadaan Kalla tidak bisa menjadi tameng pertengkaran Mama dan Papa?”
“Ahhhhhh,” Papa Kalla sangat emosi, lalu menyobek berkas perceraian Mama dan Papa Kalla.
Mama Kalla terlihat sangat lelah, Mama Kalla tidak lagi mengejar Papanya yang pergi ke kamar di atas. Mama Kalla menuju ke dapur, untuk mengambil minum agar bisa sedikit lebih tenang.
Kalla menangis sendirian di ruang tamu, Kalla menjatuhkan lututnya ke lantai. Kalla tidak bisa menopang badannya yang sangat lemas, juga hatinya yang sangat cemas. Gibran datang setelah keadaan sudah mulai tenang, setelah tidak ada pertengkaran lagi.
“Kamu nggak apa-apa?” Gibran bertanya dengan Kalla sambil memegang bahu Kalla.
Kalla sama sekali tidak menjawab, Kalla hanya terus menangis, melampiaskan semua kesedihan.
“Kak, boleh bawa aku keluar dari rumah dulu?” pinta Kalla kepada Gibran.
“Tapi kan kamu masih sakit, Kal. Baru tadi pagi kamu pulang dari rumah sakit,” jawab Gibran cema dengan kondisi Kalla.
“Kak, Plissss,” Kalla memohon kepada Gibran untuk membawanya keluar dari rumah.
“Hmmm, oke,” Gibran mengangguk, mengabulkan permintaan Kalla untuk keluar dari rumahnya saat itu.
Gibran merangkul Kalla sampai ke mobil. Setelah itu, Gibran mengajak Kalla pergi dari rumahnya. Di dalam mobil Kalla hanya diam saja, melihat ke arah luar, melamun, tidak mau menjawab pertanyaan dari Gibran. Gibran mencoba memahami perasaan Kalla, sedang sangat berantakan.
“Kamu pakai jaket, dingin,” Gibran berhenti sejenak untuk memakaikan Kalla jaket agar tidak kedinginan di dalam mobil.
Kalla menengok ke arah Gibran, ingin menangis, namun Kalla masih ragu menjadikan Gibran sebagai sandaran.
“kalau kamu mau nangis, nangis saja. Aku nggak akan ngeliatin kamu, kok,” Gibran memalingkan pandangannya dari Kalla.
Kalla menangis, mengeluarkan emosi yang ditahannya. Kalla menyenderkan kepalanya ke bahu Gibran. Disaat seperti ini hanya bahu yang bisa menjadi pelampiasan Kalla. Gibran membiarkan Kalla menangis di pundaknya sampai Kalla puas dan lega. Sesekali Gibran hanya mengelus kepalanya, agar Kalla merasa jika Gibran peduli dan ada untuk Kalla.
“Kak, maaf, ya. Di rumahku sangat nggak nyaman,” Kalla meminta maaf kepada Gibran karena kejadian tadi.
“Ssssst, bukan salah kamu. Kamu nggak perlu minta maaf. Kita hidup pasti punya masalah, entah itu masalah keluarga, masalah dengan orang lain, atau masalah dengan diri kita sendiri. Itu semua bukan salah kamu,” jawaban Gibran sedikit menenangkan Kalla.
“Tapi, aku malu, kak,” Sambil menangis, Kalla sedikit berbagi cerita dengan Gibran.
“Kenapa harus malu, Kal? Yang harusnya malu Mama dan Papa kamu,” ujar Gibran kepada Kalla.
Kalla berhenti menangis, bangun dari sandarannya di pundak Gibran.
“Maaf, bukannya ikut campur. Tapi, seharusnya Mama dan Papa kamu tidak membiarkan semua orang tahu tentang masalah rumah tangga mereka, mereka masih punya banyak cara untuk menyembunyikannya,” Gibran menjelaskan tentang perkataannya sebelumnya.
“Aku bukan egois, Kak. Tapi, nggak akan ada anak yang mau kalau orang tuanya berpisah,” Kalla kembali berbicara dengan menangis.
“Aku tahu, Kal. Kamu nggak mau kehilangan sosok salah satu dari orang tua kamu. Tapi, kamu juga harus memikirkan perasaan mereka. Bagaimana bisa mereka bertahan jika pertengkaran yang menyelimuti rumah tangga mereka? Mungkin kamu sakit jika mereka berpisah, tapi, Mama dan Papa kamu juga akan lebih sakit jika masih terus bersama,” Gibran memberikan sedikit penjelasan tentang apa yang Kalla rasakan.
“Kak Gibran mendukung Mama dan Papa aku bercerai?” Kalla menanyakan tentang maksud dari penjelasan Gibran barusan.
“Bukan. Kalau memang ada jalan lain, kenapa harus berpisah?” Gibran kembali bertanya kepada Kalla.
Kalla tidak lagi menjawab omongan Gibran. Kalla diam saja, merenungi semua obrlannya dengan Gibran barusan.
“Kal, kamu nggak usah mikirin ini dulu, ya. Pikirin kesehatan kamu dulu, kalau kamu sakit, kamu juga nggak bisa berbuat apa-apa untuk Mama dan Papa kamu, kan?”
“Jaga kesehatan kamu. Kalau kamu ingin Mama dan Papa nggak berpisah, coba lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Kalau itu berhasil, berarti perpisahan bukan jalan satu-satunya atas masalah ini,” Gibran menyemangati Kalla untuk sembuh dan mencari carau agar orang tuanya tidak berpisaah.
“Makasih ya, Kak. Kak Gibran sudah selalu ada untuk aku akhir-akhir ini. Kak Gibran yang selalu di samping aku, padahal kita baru saja kenal,” Kalla berterima kasih kepada Gibran.
“Mungkin memang sudah takdirnya aku harus menjaga kamu, sekarang,” Gibran menjawab dengan sangat manis.
“Sudah kan nangisnya?” Gibran bertanya dengan nada yang lembut, meski masih dengan ciri khasnya dingin.
Kalla bersandar ke bahu Gibran, berterima kasih atas apa yang sudah Gibran berikan kepada Kalla akhir-akhir ini. Gibran juga menyenderkan kepalanya ke kepala Kalla. Mereka berdua sangat romantis di dalam mobil. Kalla sudah sedikit lega juga berhenti menangis. Gibran berhasil menghibur Kalla saat itu.
Dalam suasana romantis itu, ada saja masalah yang datang untuk Kalla. Dari jauh, Aksa mengenali mobil Gibran. Aksa mendekati mobil Gibran, lalu melihat Gibran dan Kalla yang sedang berduaan di dalam mobil malam-malam. Aksa bergegas turun dari mobilnya, menghampiri mobil Gibran. Aksa langsung melabrak Gibran.
“Turun lo!” Aksa mengetuk mobil Gibran dengan keras.
Gibran dan Kalla sangat terkejut dengan kedatangan Aksa. Tiba-tiba saja Aksa sudah ada di samping mobil Gibran dan mengetuk jendela mobil Gibran dengan sangat keras.
Kalla bangun dari senderannya, mengelap semua air mata yang tersisa. Gibran membuka pintu, keluar dari mobil.
“Maksud lo apa kaya gini?” Gibran keluar dari mobil langsung bertanya kepada Aksa dengan sikapnya yang seperti itu.
Aksa memukul Gibran tanpa basa-basi, Aksa melampiaskan semua kamarahannya kepada Gibran. Kalla yang melihat langsung keluar dari mobil dan berteriak.
“Aksa! Stop!”
Aksa sama sekali tidak mendengarkan ucapan Kalla, Aksa masih terus memukuli Gibran yang belum bisa berdiri kembali.
“Apa-apaan sih lo?” Gibran heran dengan kelakuan Aksa.
“Lo baru kenal sama Kalla, sudah berani bawa Kalla pergi malalm-malam? Berduaan malam-malam di dalam mobil? Maksud lo apa?” Aksa salah paham dengan Gibran.
“Ehhh lo salah!”
“Alaaaah, alesan!” Aksa tidak terima alasan apapun dari Gibran. Aksa terus melampiaskan kemarahannya kepada Gibran.
Aksa salah paham dengan Gibran juga Kalla. Aksa taunya, Gibran yang mengajak Kalla keluar malam-malam dan berduaan di mobil. Aksa khawatir dengan Kalla. Tapi, semua kecurigaan Aksa itu sama sekali tidak benar. Aksa salah paham, namun, Aksa tidak mau mendengarkan penjelasan.
“Kal, kamu nggak usah dekat-dekat lagi dengan dia! Sekarang kamu pulang sama aku!” Aksa menarik tangan Kalla agar masuk ke mobil Aksa.
“Nggak mau!” Aksa menolak untuk pulang bersama Aksa.
Kalla kesal dan kecewa dengan Aksa bisa berbuat segegabah ini. Kalla melepaskan tangannya dari Aksa, langsung menolong Gibran.
“Aksa, kamu itu kenapa sih? Kenapa kamu seenaknya mukulin orang kaya gini? Aku bener-bener nggak habis pikir sama kamu,” ungkapan kekecewaan Kalla kepada Aksa yang tiba-tiba saja memukuli Gibran sampai babak belur.
“Kak, ayo bangun. Kita pulang sekarang, ya,” Kalla membantu Gibran berdiri dan masuk mobil.
Kalla pergi begitu saja tanpa pamit lagi dengan Aksa. Kalla kecewa dengan sikap Aksa yang seperti ini. Kalla memilih untuk diam, dan membawa Gibran masuk ke dalam mobil.
“Kallll, dengerin aku dulu,” Aksa mencoba menjelaskan niat baiknya.
Setelah masuk ke mobil, Kalla keluar sebentar untuk berbicara dengan Aksa.
“Kamu nggak tahu apa yang sedang terjadi. Kamu nggak tahu apa yang sedang aku rasain. Jadi tolong, kalau kamu nggak bisa ngertiin, jangan menambah masalah seperti ini,” ucap Kalla kepada Aksa sebelum akhirnya masuk ke mobil Gibran lagi.
“Huhhhhhh,” Kalla menghela napas panjang saat duduk di dalam mobil.
“Kak,” Kalla merasa bersalah sekali dengan Gibran atas apa yang sudah Aksa lakukan kepadanya.