Setelah dengan gegabah Aksa memukuli Gibran, Aksa pun akhirnya memilih untuk pergi dan meninggalkan mobil Gibran. Kalla juga tidak mau lagi mendengar semua penjelasan dari Aksa. Kalla tidak habis pikir dengan Aksa, kenapa bisa gegabah seperti itu. Aksa tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Kalla, bukannya menenangkan sekarang malah menambah masalah baru untuk Kalla.
"Kak, kamu baik-baik aja?" Tanya Kalla sangat cemas dengan keadaan Gibran setelah masuk ke dalam mobil.
Gibran mengangguk, tidak menjawab pertanyaan Kalla. Gibran terlihat memegang area yang sakit.
"Kak, coba aku lihat lukanya" Kalla melihat luka di wajah Gibran.
"Maafin Aksa ya, Kak. Maafin aku juga, ini semua salah akun kalau saja aku nggak ngajak kak Gibran keluar malam, pasti Kak Gibran nggak akan jadi luka seperti ini," Kalla sangat merasa bersalah dengan Gibran.
"Bukan salah kamu. Kenapa kamu yang minta maaf?" Gibran sama sekali tidak menyalahkan Kalla atas apa yang terjadi kepadanya.
"Maafin aku ya, kak," Kalla kembali minta maaf kepada Gibran.
"Kamu ada kotak obat di mobil?" Kalla mencari kotak obat untuk memberikan pertolongan pertama pada luka Gibran agar tidak infeksi.
"Aku bantu obatin lukanya ya, kak" Kalla izin membantu mengobati luka di wajah Gibran.
Kalla serius sekali mengobati luka di wajah Gibran. Gibran terlihat kesakitan saat Kalla mengobati lukanya. Kesalahpahaman ini sangat Kalla sesali. Andai saja tadi Kalla tidak memaksa mengajak Gibran pergi dari rumahnya malam-malam sepeti ini, pasti Gibran tidak akan terluka dan dituduh sembarangan oleh Aksa.
"Kak, i'm so sorry," ucap Kalla sambil mengobati luka Gibran dengan sangat hati-hati.
"Udah, ini bukan salah kamu. Aku nggak nyalahin kamu, kok. Yang harusnya minta maaf bukan kamu, Kal. Tapi teman kamu, Aksa.
Kalla merasa sangat tidak enak atas tindakan Aksa yang sangat gegabah ini. Kalla tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Mungkin, ini akan menjadikan hubungan antara Aksa dan Gibran semakin tidak baik.
"Udah, kak" Kalla selesai mengobati luka Gibran, lalu kembali menyimpan kotak obatnya.
Kalla diam sejenak, merenungi semua yang terjadi hari ini. Badannya masih belum fit seperti biasa, masih lemas, pusing, dan kadang masih terasa sangat mual. Namun, semua itu tidak Kalla rasakan, Kalla lebih merasakan patah hatinya karena Mama dan Papanya akan bercerai. Ditambah lagi malam ini kejadian salah paham antara Aksa dan Kak Gibran.
"Kamu kenapa diem aja?" Tanya Gibran melihat Kalla sedang melamun dan diam.
"Hmmmm, nggak apa-apa. Lukanya sakit banget ya, kak?" Tanya Kalla sangat mencemaskan keadaan wajah Gibran.
"Udah ngggak apa-apa, cuma luka kayak gini. Aku masih bisa tahan," jawab Gibran sambil memberikan senyum sedikit untuk Kalla agar tidak terlalu cemas dengannya.
"Kak, maafin aku, ya," Kalla kembali minta maaf kepada Gibran.
"Mau berapa kali kamu minta maaf sama aku, Kal?"
"Aku nggak tahu harus merasakan yang mana dulu, kak. Kondisi badan aku yang tidak enak, atau patah hati aku karena orang tua aku mau bercerai, atau yang barusan terjadi," Kalla menangis tiba-tiba.
"Heiii kenapa kamu nangis lagi?" Gibran melihat Kalla menangis semakin cemas.
Gibran memiringkan kepala Kalla agar bisa bersandar di pundaknya.
"Nggak usah rasain semuanya secara bersamaan, kamu rasain sekarang yang sedang kamu rasakan aja. Contohnya sama aku," ledek Gibran kepada Kalla mencoba menghibur Kalla ketika Kalla menangisi semuanyang terjadi hari ini.
Gibran tahu, bagaimana sulitnya Kalla menyembunyikan kesedihannya hari ini. Rasanya tidak ada kesanggupan lagi untuk Kalla terlihat baik-baik saja. Akhirnya, Kalla menumpahkan semuanya di bahu Gibran.
"Maksudnya?" Tanya Kalla penasaran dengan jawaban Gibran.
"Ya kamu seneng nggak bisa senderan di bahu aku?" Gibran berbalik tanya kepada Kalla sambil melempar senyum isengnya.
"Ihhh kak Gibran," Kalla langsung bangun dari senderannya di bahu Gibran dengan senyum malu-malu. Wajahnya juga memerah.
"Hehehe," Gibran terkekeh melihat Kalla yang memerah wajahnya.
Gibran dan Kalla diam sejenak di dalam mobil. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat di jalan itu karena sudah larut malam. Sepi, sunyi, menemani mereka berdua di pinggir jalan. Sesekali ada mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi, seolah dikejar sesuatu yang mendesak.
"Kamu mau aku antar sekarang?" Tanya Gibran kembali membuka obrolan diantara mereka berdua.
Kalla lama tidak menjawab pertanyaan Gibran. Kalla bingung harus bagaimana. Rasanya Kalla ingin menginap lagi RI rumah sakit. Lebih tenang, damai, dan tidak ada keributan yang Kalla dengar.
"Kal?" Gibran memanggil Kalla agar Kalla segera menjawab pertanyaannya.
"Aku telepon Meira dulu ya, kak," jawab Kalla sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Halo," terdengar suara Meira dari seberang sana.
"Halo, Mei," jawab Kalla sedikit antusias.
"Hmmm kenapa,Kal?" Meira bertanya kenapa Kalla menelepon Meira larut malam.
"Aku boleh nggak nginap di rumah kamu malam ini saja?" Kalla to the point.
"Haaaa? Lo kenapa?" Meira yang tadinya mengantuk jadi segar karena terkejut dengan pertanyaan Kalla.
"Engga, aku cuma lagi pengen tidur di luar aja," jawaban Kalla agar Meira tidak panik.
"Sorry, kal. Bukannya gue nggak mau kasih tumpangan sama Lo. Tapi kan lontahu sendiri nyokap bokap gue kayak gimana," Meira merasa bersalah karena tidak bisa memberi tumpangan malam itu kepada Kalla.
"Ohhh gitu, iya deh nggak apa-apa. Yaudah selamat istirahat ya, Mei," ucap Kalla sebelum menutup telepon.
Meira belum selesai berbicara dengan Kalla, namun, Kalla sudah menutup telepon.
"Gimana? Tanya Gibran kepada Kalla.
Kalla menggelengkan kepalanya.
"Yaudah, aku antar kamu pulang aja, ya. Kamu nggak perlu takut, aku akan selalu ada buat kamu. Kalau ada apa-apa, kamu langsung telepon aku aja," Gibran memberikan jalan keluar untuk Kalla.
Tapi, kak," Kalla ingin menolak saran dari Gibran.
"Kal, ini udah malam. Kamu juga lagi sakit, nggak baik buat kesehatan kamu. Aku antar kamu pulang sekarang, pokoknya kamu harus inget aku akan selalu ada buat kamu."
Kalla mengangguk, mengiyakan tawaran Gibran. Akhirnya Gibran mengantarkan Kalla pulang kembali ke rumahnya.
"Masuk, ya. Udah malam, angin malam nggak baik buat kesehatan kamu. Nanti kalau kamu tambah sakit, nggak bisa masuk ke kampus," nasihat Gibran kepada Kalla sebelum turun dari mobil.
"Iya."
Gibran membukakan pintu untuk Kalla. Merangkul Kalla sampai ke depan pintu rumahnya.
"Kamu masuk, ya. Aku pulang dulu, kalau kamu butuh sesuatu atau kamu ada apa-apa, langsung kabarin aku," Gibran menyuruh Kalla langsung masuk ke rumah.
Gibran berjalan setelah selesai mengantar Jalal ke depan pintu rumahnya. Namun, Kalla menarik tangan Gibran.
"Kenapa?" Gibran langsung khawatir.
"Makasih, kak. Makasih untuk semuanya," ucap Kalla sambil sedikit mengelus tangan Gibran.
"Sama-sama," Gibran membalas memegang tangan Kalla.
"Selamat istirahat ya," Gibran pamit pulang ke rumah.
"Hati-hati ya, kak. Tolong kasih kabar ke aku kalau kak Gibran udah sampai di rumah," pinta Kalla kepada Gibran.
Gibran berlalu di hadapan Kalla. Kalla juga masuk ke dalam rumah, dan segera masuk ke kamarnya. Kalla mengganti semua pakaiannya hari itu, rasanya tidak ingin memakai pakaian itu jika teringat dengan kejadian hari ini. Terlalu menyedihkan untuk Kalla.
"Haaah, ternyata menyedihkan juga hidup aku hari ini," ucap Kalla sambil melemparkan badannya ke kasur.
"Ahhh tapi, apa aku salah kalau aku mengeluh terus seperti ini?" Kalla berbalik badan dan merasa bersalah karena terlalu meratapi hidupnya yang buruk hari ini juga terlalu banyak mengeluh.
Ketika sedang melamun dengan badan tengkurap, Kalla menerima pesan di ponselnya. Kalla langsung buru-buru bangun mengambil ponselnya yang ada di atas meja belajarnya. Kalla membaca pesan itu dari Gibran. Gibran memberi kabar, jika Gibran sudah sampai di rumah dan sekarang Gibran sudah bersiap untuk tidur. Kalla hanya membaca pesan Gibran, tidak membapesan Gibran dengan buru-buru. Kalla tersenyum setelah mendapat pesan Gibran.
Gibran sudah bersiap untuk tidur, tiba-tiba adiknya masuk ke kamar Gibran. Adik Gibran sangat terkejut melihat wajah kakaknya yang babak belur. Gibran mencoba menutupi wajahnya dengan selimut, lalu, mengusir adiknya dari kamar. Namun, tenaga adik perempuan Gibran itu ternyata besar juga bisa membuka selimut Gibran yang dipegang kedua tangan Gibran.
"Lo kenapa, kak?" Tanya adik Gibran sangat khawatir setelah melihat wajah Gibran.
"Engga nggak apa-apa," jawab Gibran malas diganggu.
"Gue bukan anak kecil lagi, kak. Gue tau kalo wajah Lo habis digebukin orang, kan? Lo berantem? Sama siapa?" Adik Gibran semakin penasaran dengan penyebab wajah Gibran babak belur.