Gibran sudah berusaha untuk menghindari adiknya saat pulang larut malam dengan wajah yang babak belur. Namun, semua usahanya itu ternyata sia-sia ketika adiknya bisa masuk ke kamarnya dan memaksa Gibran untuk membuka selimut. Gea, adik perempuan Gibran satu-satunya ini sangat sayang dan posesif dengan Gibran. Begitu juga dengan Gibran ke Gea. Gea jarang sekalie melihat Gibran pulang hingga larut malam, pulangnya pun seperti sembunyi-sembunyi. Gea merasa ada yang aneh, lalu, Gea memutuskan untuk menginterogasi Kakak kesayangannya itu.
“Aduhhh dek, ini sudah malem. Jangan ganggu kakak, deh. Kakak mau istirahat, besok harus berangkat ke kampus pagi-pagi,” jawab Gibran ketika Gea terus menanyakan alasan wajah Gibran bisa sampai babak belur seperti itu.
“Nggak! Gea harus tahu dulu, kenapa wajah kakak bisa sampai babak belur kayak begitu? Sebelumnya Kakak nggak pernah loh sampai seperti ini. Kakak kan juga ketua bem, nggak pantas lag kak besok ke kampus dengan keadaan seperti ini,” omelan Gea menambah Gibran semakin malas meladeni adiknya itu.
“Sudah, ya. Besok Kakak ceritain kenapa wajah Kak Gibran bisa sampai babak belur. Tapi, sekarang Kak Gibran mau istirahat dulu,” Gibran tetap menolak untuk bercerita kepada adiknya.
Awalnya Gea sudah mau pergi ke luar kamar Gibran, namun, ada pesan masuk di ponsel Gibran. Pesan masuk dari Kalla yang mengucapkan selamat istirahat juga permintaan maaf karena sudah membuat wajah Gibran babak belur.
“Siapa itu?” Gea semakin penasaran dengan Gibran.
“Bukan siapa-siapa,” Gibran menjawab sambil terburu-buru mengambil ponselnya.
“Coba lihat!” Gea sangat penasaran dengan pesan dari Kalla.
“Kayaknya itu pesan dari cewek!” Gea sedikit menaikkan suaranya.
“Gea, ini sudah malam, sekarang kamu tidur, ya!” Gibran mengusir Gea kembali dari kamarnya.
“Kak, tapi kasih tahu aku dulu, siapa itu yang kirim pesan malam-malam. Nggak mungkin teman biasa jam segini kirim pesan ke Kakak,” Ucap Gea sinis.
“Ya terserah teman Kakak dong, mau kirim pesan jam berapa,” Gibran membalas tak kalah sinis.
“Kak Gibran punya pacar ya?” Gea sedikit berteriak, antara antusias dan terkejut.
“Sssssttt, sudah malam. Jangan teriak-teriak ah!”
“Ohhh, jadi berantem habis rebutan cewek ya?” tanya Gea dengan penuh penasaran.
“Apaan sih, engga dong! Sekarang mendingan kamu keluar dari kamar Kakak, terus kamu masuk kamar dan tidur, ya!” Gibran mendorong adiknya pelan-pelan keluar dari kamarnya.
“Huhh, siapa sih cewek yang bisa membuat Kak Gibran sampai berantem kayak begitu?” Gea bertanya dengan dirinya sendiri.
Selama ini, Gibran sama sekali tidak pernah mengejar perempuan. Sebab, banyak sekali perempuan yang Gibran tolak. Biasanya Gibran selalu didekati terlebih dahulu oleh perempuan. Jadi, kali ini Gea penasaran dengan perempuan yang sudah membuat Gibran bertengkar sampai babak belur.
“Ahhh, mendingan aku telepon Kak Natasha saja, deh! Pasti Kak Natasha tahu, siapa cewek yang dekat dengan Kak Gibran,” Gea mendapatkan ide setelah berpikir sejenak.
Gea langsung menuju ke kamarnya, mengambil ponsel dan menelepon Natasha. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 23.45, namun, Gea tetap menelepon Natasha demi tidak tidur dengan rasa penasaran malam itu.
“Haloo!” Gea menyapa Natasha dengan antusias setelah Natasha menjawab telepon darinya.
“Iya, Halo. Ada apa, Ge?” tanya Natasha dengan suara yang terdengar sangat ngantuk.
“Kak Natasha, ada yang mau aku tanyain ke Kakak,” Gea langsung to the point.
“Apa, Ge? Ada apa? Tumben banget malme-malem begini?” Natasha sangat penasaran dengan apa yang ingin Gea tanyakan kepadanya.
“Kak Natasha tahu siapa pacar Kak Gibran yang baru?”
“Pacar?” Natasha terkejut dengan pertanyaan Gea. Natasha menjadi tidak ngantuk, malah ingin mengulik apa yang sebenarnya terjadi.
“Setau aku, Gibran nggak punya pacar di kampus,” Natasha menjawab pertanyaan Gea.
“Masak sih, kak? Kalau nggak punya pacar terus kira-kira apa yang yang bikin Kak Gibran berantem sama orang?”
“Haahhhh? Bagaimana maksud kamu?”
“Iya, kak Gibran habis berantem sama orang,” jawab Gea belum memberi penjelasan lebih.
“Berantem sama siapa? Gibran nggak pernah berantem sama orang lain. Apa lagi dia kan ketua BEM di kampus, nggak mungkin sampai berantem,” Natasha semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
“Jadi, tadi Kak Gibran itu pulang tengah malem. Baru banget pulang ke rumah dia, Kak. Terus, diam-diam begitu pulangnya. Langsung masuk ke kamar. Waktu Gea masuk ke kamar Kak Gibran dan mau lihat wajah Kak Gibran, Kak Gibran tutup wajahnya pakai selimut. Gea tarik selimutnya, dan tahu nggak kaakkk.....,” kalimat Gea gantung.
“Nggak tahu dong Gea, cepet buruan kasih tahu ada apa?” Natasha tidak sabar dengan lanjutan kalimat Gea.
“Kak Gibran wajahnya babak belur,” Gea langsung memberikan jawabannya.
“Haaaaa? Kok bisa?” Natasha nggak habis pikir dengan Gibran.
“Ya Gea nggak tahu dong, Kak. Kak Gibran juga nggak mau jawab Gea tanyain. Makanya, Gea cari tahu lewat Kak Natasha. Ehhh malah Kak Natasha juga banyak tanya ke Gea,” Gea sedikit bad mood karena Natasha banyak tanya ke Gea, bukannya memberi informasi.
“Hmm, kayaknya gue tahu siapa yang bikin Gibran sampai berantem sama orang,” Natasha memberi pernyataan kepada Gea yang sekaligus membuat Gea sangat penasaran.
“Serius, Kak? Siapaaaa?” Gea menaikkan volume suaranya.
“Geaaaaaaa! Sudah malam tidur!” Suara Gibran terdengar dari kamar sebelah berteriak karena Gea masih belum tidur juga.
“Iyaaa, iya ini Gea mau tidur,” Gea menjawab Gibran sambil menutup ponselnya dengan tangan.
“Kak, kasih tahu Gea cepetan, siapa orang yang sudah bikin Kak Gibran babak belur,” Gea tidak sabar mendengar jawaban Natasha.
“Gea, kamu nggak tahu siapa orangnya. Kamu juga nggak kenal orangnya, jadi, percuma gue kasih tahu,” Natasha tidak mau memberi tahu siapa orang yang sudah membuat Gibran babak belur.
~
Pagi hari di kampus sudah sangat ramai. Sudah banyak yang berlalu lalang, berkegiatan di kampus meski terbilang masih sangat pagi. Mereka sudah tidak sabar dengan kegiatan terakhir dihari ospek mereka, para mahasiswa baru. Hari ini tidak terasa sudah memasuki hari terakhir masa ospek. Banyak yang menganggap ini adalah hari yang membahagiakan, namun, tak sedikit juga yang menganggap jika hari ini hari yang menyedihkan dan akan sangat dirindukan.
Ditengah ratusan mahasiswa baru yang sedang wara-wiri di kampus, salah satunya ada Kalla. Kalla sudah siap mengikuti ospek hari terakhir. Kalla berjalan sendirian, menuju ke lapangan, tempat di mana mahasiswa baru akan dikumpulkan sebelum memulai acara. Meira belum terlihat sama sekali, Kalla hanya ditemani oleh tas kesayangannya dan keramaian yang ada di sekitar.
“Kalla!” panggil Gibran yang baru saja datang ke kampus.
Kalla menoleh ke arah sumber suara.
“Kak Gibran,” Kalla balik menjawab Gibran.
“Kamu kenapa ada di kampus?”
“Aku mau ikut ospek, Kak. Lagian ini juga hari terakhir, kan. Jadi, aku ingin ikut kemeriahan hari ini,” jawab Kalla sedikit bersemangat menjawabnya.
“Iya, tapi kan kamu masih sakit. Masih belum fit,” ucap Gibran.
“Engga, kok. Aku sudah sembuh, kak. Aku akan lebih sakit dan sulit sembuh kalau aku ada di rumah terus,” jawab Kalla sambil berkaca-kaca.
“Oh iya, bagaimana luka kamu, kak? Masih sakit banget?” Kalla memeriksa luka di wajah Gibran.
“Engga, sudah baikan kok,” jawab Gibran tanpa menolak Kalla melihat luka di wajahnya.
“Pagi-pagi sudah berduaan saja!” Natasha datang dengan suara menahan emosi karena cerita Gea tadi malam.
“Sejak kapan lo ada di sini?” Tanya Gibran yang terkejut karena Natasha tiba-tiba saja datang.
“Ya kira-kira sudah ngelihat adegan pegang-pegangan tangan sama pipi,” Jawab Natasha ketus.
“Apaan sih, lo!” Gibran protes.
“Kenapa muka lo?” tanya Natasha dengan wajah sinis melihat ke arah Gibran dan Kalla.
“Pasti gara-gara sok baik sama junior lo yang satu ini, kan?” Natasha menambahkan ucapannya dengan ketus.
“Ikut gue sekarang,” Gibran menarik tangan Natasha agar Natasha tidak ribut dengan Kalla.
“Engga, gue nggak mau. Gue mau lo jawab di sini!”
“Emmmmm,” Kalla mulai ingin bicara.
“Kenapa Gibran bisa sampai babak belur kayak gini? Pasti gara-gara lo, kan?” Natasha langsung menyerang Kalla dengan pertanyaan menyudutkan.
“Bukan, bukan gara-gara dia,” Gibran membela Kalla.
“Gue kenal Gibran itu sudah lama. Gibran nggak pernah berantem sama siapapun, apalagi sampai babak belur kayak gini. Tapi, semenjak Gibran kenal dan deket sama Lo, dia jadi banyak berubah.”
“Nat, pagi-pagi kenapa sih sudah cari masalah saja sama junior?” Gibran bersikap tegas kepada Natasha.
“Lo ini ketua Bem di kampus. Kalau junior lo lihat muka lo babak belur kayak gini, bagaimana? Lo mau kasih alesan apa ke mereka? Nggak mungkin kan Lo ngeles kalau Lo habis kepeleset di kamar mandi?” Natasha semakin kesal dengan Kalla dan Gibran.
“Nggak akan ada yang tanya dan peduli sama keadaan gue, Nat,” Gibran membela diri.
“Lo boleh jatuh cinta sama cewek, tapi jangan bucin kelewatan. Terserah kalian mau deket, pacaran, atau apalah, yang penting jangan sampai mengganggu dan bikin kacau di kampus!” Natasha menegaskan kepada Gibran dan Kalla.
“Kak, maaf, ini semua salah aku,” Kalla minta maaf kepada Natasha.
“Iya memang salah Lo! Gibran saja yang b**o masih mau belain Lo. Padahal dia sudah babak belur kayak begitu!”
Kalla merasa sangat bersalah dengan semua yang terjadi dengan Gibran.
“Gue nggak pernah ikut campur sama masalah pribadi lo ya, Nat. Tapi Lo seakan harus tahu dan harus ikut campus sama semua masalah pribadi gue,” Gibran mulai angkat bicara karena tidak suka Natasha yang terlalu ikut campur dengan masalah pribadi Gibran.
“Iya, masalah pribadi Lo merugikan gue!” Natasha ngegas.
“Tapi selama ini kan Kak Gibran nggak pernah merugikan kampus, Kak. Kak Gibran juga masih bersikap profesional, kok. Jadi tolong jangan sangkut pautkan masalah organisasi di kampus dengan masalah pribadi Kak Gibran. Kak Gibran juga punya hak untuk punya kehidupan pribadi di luar kampus, Kak,” Kalla membela Gibran dan berani melawan Natasha.
“Lo?” Natasha bertambah kesal dengan Kalla.
“Aku rasa semua juga tahu, siapa yang nggak bisa bersikap profesional,” Kalla mulai sinis dengan Natasha.
“Kak Natasha,” Kalla melewati Natasha sambil memberikan jawaban atas ucapannya tadi.
“Kenapa sih Nat, semua haru dijadikan masalah? Apa nggak capek Lo?” Gibran juga meninggalkan Natasha.
“Huhhhh, kenapa jadi gue yang salah?” Natasha kesal sekali dengan Gibran juga Kalla.
Sebelum acara dimulai, ada sambutan dari ketua dan wakil ketua untuk para mahasiswa. Natasha dan Gibran diminta untuk memberikan semangat kepada junior mereka di kampus, agar mereka tetap mengikuti ospek dengan baik, sesuai dengan peraturan kampus.
Gibran memberikan sambutan kepada seluruh mahasiswa baru. Suara Gibran disambut meriah oleh para mahasiswa baru, terutama perempuan. Mereka senang sekali melihat Gibran berada di atas podium, akan memberikan sedikit sambutan. Setelah Gibran selesai, mahasiswa pun memberikan tepuk tangan meriah untuk ketua BEM itu.
Selanjutnya, tak kalah dengan Gibran. Natasha juga berdiri di atas podium, akan memberikan sambutan kepada mahasiswa baru yang hari ini akan menjalani ospek terakhir. Namun, tidak ada yang menyambut hangat Natasha.
“Hahaha, memang enak nggak ada yang suka sama lo!” ucap Meira meledek Natasha.
“Ssstttt,” Kalla menyenggol Meira.
“Ya abisnya, jadi senior galak plus resek banget. Kita kan di sini juga bayar,” Meira semakin sinis dengan Natasha.
“Di sini saya Cuma mau mengingatkan kalian semua,”
Ucapan Natasha menarik perhatian semua yang ada di lapangan, termasuk Gibran, Kalla, juga Meira. Gibran tahu apa yang ingin Natasha sampaikan di depan semua mahasiswa baru. Gibran tidak mau acara penutupan ospek yang harusnya berjalan dengan baik dan menyenangkan, malah sebaliknya. Gibran langsung naik ke podium, meminta Natasha turun ke bawah dengan cara yang baik, agar Natasha tidak membeberkan jika sang ketua Bem sedang dalam masalah percintaan.
“Kak Natasha, ada yang butuh bantuan Kakak, jadi, biar saya saja yang memberikan sambutan juga penyemangat untuk junior kita,” ucap Gibran sambil menarik tangan Natasha turun ke bawah.
Gibran langsung memberi kode kepada panitia agar acara segera dimulai. Gibran menarik Natasha ke ruangan mereka.
“Apa-apaan sih Lo? Nggak pantes kalau Lo bawa-bawa masalah gue dan Kalla di depan umum kayak tadi. Lo nggak mikirin Kalla nantinya akan bagaimana? Dia akan malu selama dia kuliah di kampus ini,” Gibran kesal dengan perilaku Natasha.
“Gue Cuma mau ngingetin ke mahasiswa lainnya biar nggak kayak Lo dan Kalla. Belum apa-apa sudah bikin masalah di kampus. Sudah bikin ketua Bem babak belur. Bagaimana nanti kalau dia bikin masalah yang lebih besar lagi? Dia juga nggak ikut ospek, kan? Dengan alasan sakitnya itu,” Natasha masih membela diri, malah menyalahkan Kalla dan Gibran.
“Lo kenapa sih bersikap nggak profesional kayak gini? Lo nggak suka gue deket sama Kalla?” Gibran bertanya serius kepada Natasha.
“Iya, gue nggak suka lo deket sama Kalla dan Lo jadi bucin!” Natasha menaikkan nada bicaranya.
“Ya itu hak Lo, tapi Lo juga harus inget. Gue juga punya hak untuk dekat dengan siapapun itu, termasuk Kalla!” Gibran skak Natasha.