Dihari yang sama, waktu yang sama, namun tempat yang berbeda. Aksa kesepian, merasa kehilangan sosok Kalla di dalam hidupnya. Kalla sudah tidak lagi terbuka kepadanya, tidak lagi menganggapnya dekat, dan seakan memberi jarak. Mungkin memang tidak ada hubungan yang jelas diantara Kalla dan Aksa, namun, setidaknya belasan tahun yang mereka lewati bersama itu tidaklah mudah untuk digantikan oleh siapapun. Aksa sudah berusaha untuk menjaga Kalla, menemani Kalla saat Kalla terpuruk, selalu ada saat Kalla butuh, dan menjadi teman satu-satunya Kalla saat Kalla tidak memiliki siapapun dalam hidupnya. Tapi itu semua akan kalah dengan sosok yang datang dan berhasil merebut hati Kalla menjadi kekasihnya. Aksa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa lagi. Hanya sahabat, yang akan Kalla datangi ketika Kalla sedih, kesepian, atau saat Kalla membutuhkan bantuan. Sahabat salah satu orang yang paling penting dalam hidup. Namun entah kenapa tahtanya masih kalah dengan sosok kekasih.
"Ahhhhh, kenapa sih gue harus galau seperti ini," Aksa emosi dengan diri sendiri yang terus memikirkan Kalla.
"Gue hanya sahabat, harus ikhlas jika ada yang bisa memberikan cinta, kebahagiaan, dan kasih sayang lebih buat Kalla. Gue nggak bisa memaksa perasaan seseorang. Gue nggak bisa memaksakan kenyamanan, yang terpenting gue masih bisa ada di dalam hidupnya," Aksa terus memandangi foto Kalla dan Aksa di ponselnya.
Lebih sakit akan kehilangan sahabat, padahal dia masih bersama. Rasanya seperti menginginkan, tapi bukan haknya. Aksa sangat tersiksa dengan perasaan yang ada di dalam hatinya. Kalau saja Aksa bisa menggunakan sifatnya yang tempramen seperti dulu, bisa saja Aksa melarang Kalla dekat dengan siapapun termasuk Gibran. Kalla tidak akan bisa jauh dengan Aksa, namun sayangnya, Aksa tidak bisa memenuhi janjinya akan selalu ada dan bersama dengan Kalla. Harapan orang tuanya kini menjadi prioritasnya.
"Aksaaa," Mama Aksa memanggil.
"Iya, Ma," Aksa menjawab, bersiap menghampiri Mamanya, merapikan pakaian, rambut, juga tatanan hatinya agar Mamanya tidak khawatir.
"Brakkkkk!" Diperjalanan Aksa menghampiri Mamanya, tiba-tiba ada suara sesuatu yang jatuh.
"Mamaaaa," Aksa sangat panik, Aksa berlari mencari keberadaan Mamanya.
"Ma, Mama dimana?" Aksa belum menemukan Mamanya.
Mama Aksa kini harus duduk di kursi roda karena jatuh dari tangga beberapa waktu yang lalu. Ada yang bermasalah dengan kaki Mama Aksa. Mau tidak mau, Mama Aksa harus menggantikan kakinya terlebih dahulu dengan kursi roda. Mama Aksa sangat sedih, terpuruk, dan merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, Papa Aksa juga Aksa selalu memberikan support terbaik kepada Mamanya. Sehingga Mama Aksa merasa lebih tenang, juga lebih bisa menerima keadaan sekarang.
"Astaga Mama!" Aksa berteriak ketika melihat Mamanya sudah jatuh di dekat meja makan.
"Mama, Mama mau apa? Biar Aksa yang ambilin,Mama nggak perlu kemana-mana," ucap Aksa sambil membantu Mamanya bangun dan duduk di kursi roda.
"Huuuuuhhh," Mama Aksa kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan aktivitas yang mudah sekalipun.
"Aksa, maafin Mama, ya. Mama sekarang hanya bisa merepotkan kamu dan Papa. Mama nggak bisa apa-apa," Mama Aksa bertambah nangis setelah meminta maaf kepada Aksa.
"Sssst, Mama ini ngomong apa, sih. Mama sama sekali nggak pernah merepotkan Aksa dan Papa. Mama selalu menjadi malaikat di rumah ini. Event Mama sekarang duduk di kursi roda, Aksa dan Papa akan selalu merasa seperti itu," Aksa menenangkan Mamanya dengan memeluknya.
Mama Aksa masih menangis, belum bisa menerima sepenuhnya apa yang terjadi sekarang. Sebab, Mama Aksa adalah salah satu orang yang sangat rajin, suka sekali berkegiatan. Suka sekali mengurus suami, anak, juga rumah. Sekarang, rasanya sulit untuk Mama Aksa menjalani kebiasaannya itu.
"Ma, it's oke! Ini semua tidak akan merubah apapun di rumah ini. Mama akan tetap jadi bidadari untuk Aksa dan Papa, menjadi malaikat di rumah ini, menjadi orang yang paling kita sayangi di rumah ini," Aksa menenangkan Mamanya kembali.
Mama Kalla mengangguk,sedikit terhibur dengan apa yang Aksa ucapkan kepada Mamanya.
"Sekarang, Mama istirahat dulu di kamar, ya. Aksa antar ke kamar," Aksa mengajak Mamanya untuk istirahat di kamarnya.
Aksa kembali ke kamar Mamanya, untuk membawakan makanan juga minuman untuk Mamanya. Aksa tidak meninggalkan Mamanya, Aksa akan menyuapi Mamanya makan dan menjaga Mamanya sampai Mamanya tertidur.
"Sekarang waktunya makan buah," Aksa menyiapkan buah untuk Mamanya.
"Aduhh Aksa, ini terlalu besar dong untuk mulut Mama," Mama Aksa protes karena buah yang Aksa berikan terlalu besar.
"Hehehe, iya-iya maaf, Ma. Biasanya kan ini potongan buah untuk Aksa, ya. Beda ya Ma ukurannya sama Aksa," Aksa menghibur Mamanya. Mamanya pun tertawa mendengar ucapan anak semata wayangnya itu.
"Mama mau makan apa lagi?" Tanya Aksa setelah habis semua buah yang Aksa bawakan.
"Hmmm engga, Mama udah kenyang. Nanti kalau Mama kebanyakan makan, gendut dong!" Mama Aksa mengeluh karena Aksa terlalu banyak memberikan makanan untuk Mamanya.
"Mama aku yang paling cantik, baik, perhatian, dan bisa melakukan segalanya. Padahal Mama bukanlah seorang magister, maupun profesor. Tapi, Mama selalu bisa apa yang Aksa nggak bisa. Mama hebat, ya!" Aksa memuji Mamanya.
"Duhh anak Mama ini gombal banget, deh!" Celetuk Mama sambil mengelus pipi Aksa dengan lembut.
"Beneran, ma. Sangat sangat true!" Aksa kembali menghibur Mama Aksa lewat celetukannya.
"Mau minta apa sih anak Mama?" Mama Aksa malah balik bertanya.
"Nggak minta apa-apa, kok. Aksa cuma ingin Mama selalu merasa bahagia dan cukup. Mama selalu punya Aksa dan Papa," Aksa memeluk Mamanya agar tidak bersedih lagi.
Aksa keluar dari kamar Mamanya. Mencari keberadaan Papanya, ada yang ingin Aksa bicarakan. Aksa merasa Papanya sudah pulang dari kantor, makanya Aksa bergegas mencari Papanya karena Mamanya sedang beristirahat.
"Pa," Aksa memanggil Papanya ketika sudah menemukan Papanya di taman belakang rumahnya.
"Hei, kenapa, Sa?" Tanya Papanya sangat santai.
"Papa udah pulang? Kok nggak masuk ke kamar?"
"Kan Mama lagi ngobrol sama kamu. Papa nggak mau ganggu. Biar kamu juga ada waktu untuk Mama," jawab Papanya bijak.
"Ohhh, oke deh."
"Pa, ada yang ingin Aksa bicarakan," Aksa membuka obrolan.
"Kenapa? Apa yang bisa Papa bantu?" Nada Papa Aksa sangat menenangkan.
"Pa, sepertinya Aksa nggak akan sanggup untuk menuruti kemauan Mama dan Papa untuk kuliah di Amerika. Papa tahu kan, Aksa nggak mungkin ninggalin Mama dalam keadaan seperti ini. Aksa bisa membanggakan Mama dan Papa, tapi dengan cara Aksa sendiri, Pa," Aksa mulai membicarakan maksudnya.
"Hmmmmm," Papa Aksa belum menjawab apa-apa.
"Pa, Aksa juga mau nemenin Mama di sini, bantu ngerawat Mama. Nggak harus Amerika kan Pa untuk bisa banggain Mama dan Papa?" Aksa menahan tangisnya.
"Pa, Aksa pengen punya jalan sendiri untuk membanggakan Mama dan Papa. Aksa bukannya mau mengecewakan Mama dan Papa, tapi sepertinya Aksa nggak sanggup untuk jauh dari Mama dengan kondisi Mama yang seperti ini," Aksa menjelaskan kenapa Aksa menolak keinginan Mama dan Papanya untuk kuliah di luar negeri.
"Aksa," Papa Aksa mulai membuka suara.
Jantung Aksa sangat berdebar kencang, menunggu jawaban dari Papanya. Entah berpihak pada keinginannya, atau sekarang akan memberi kebebasan kepada anak semata wayangnya ini. Aksa menunduk,tidak berani menatap mata Papanya. Takut sekali mendengar ucapan yang tidak ingin Aksa dengar. Takut kecewa akan harapan serta ekspektasi yang Aksa buat sendiri. Namun akhirnya, Aksa mencoba menegakkan kepalanya, menatap mata Papanya. Setegar mungkin akan mendengar jawaban dari Papa untuk semua permintaannya.
"Papa paham apa yang kamu rasakan sekarang, Papa sangat mengerti," Papa Aksa menggantung pembicaraannya.
Aksa terus menatap Papanya, menunggu jawaban yang pasti akan semua permintaannya kali ini.
"Pa, Aksa nggak pernah minta apapun yang berat kan, Pa selama ini? Aksa kali ini mohon banget sama Papa," Aksa memohon, sampai memegang tangan Papanya.
"Papa akan serahkan keputusannya kepada kamu. Papa tidak akan memaksa kamu untuk pergi ke Amerika. Papa akan membebaskan kamu atas masa depan yang telah kamu tentukan. Tugas Papa dan Mama hanya mengarahkan dan mendukung saja, bukan menentukan," Papa Aksa sudah memberikan jawaban kepada Aksa meski belum terlalu jelas.
"Ini berarti Aksa?" Aksa sangat antusias dengan ucapan Papanya.
"Papa akan mengizinkan kamu untuk kuliah di Indonesia. Papa akan selalu support kamu, asal apapun yang kamu kerjakan dengan sungguh-sungguh," Papa Aksa tersenyum memberikan jawaban yang lebih jelas.
"Beneran, Pa? Serius?" Aksa sangat senang sekali mendengarnya. Aksa memeluk Papanya erat, mengucapkan terima kasih karena Papanya selalu mengerti Aksa.
"Iya serius, tapi janji sama Papa. Kamu akan selalu sungguh-sungguh dengan apa yang kamu kerjakan, ya. Serius, fokus, supaya kamu bisaenih berhasil dari Papa juga Mama," kata-kata Papa Aksa selalu memberikan ketenangan serta kenyamanan untuk Aksa.
"Iya, Pa. Aksa janji akan selalu fokus dan serius sama semua tujuan dan masa depan Aksa."
"Terus bagaimana dengan, Mama?" Aksa mengkhawatirkan Mamanya.
"Nanti kalau Mama lebih baik keadaannya, kita bicara sama-sama dengan Mama, ya."
Aksa menurut dengan semua perkataan Papanya. Selama ini, Papa Aksa tidak pernah mengekang Aksa, Papa Aksa selalu membebaskan Aksa dengan segala kesehariannya. Tentunya dengan tahap yang wajar. Aksa selalu nyaman dan tenang jika sudah bercerita dengan Papanya, semua seakan memiliki jalan keluar. Sekarang, Aksa tinggal berusaha untuk memberikan pengertian kepada Mamanya. Karena Aksa tahu, Mamanya lebih sulit memberikan kebebasan daripada Papanya.
Aksa sedang cemas, menunggu waktu untuk bicara dengan Papanya. Aksa takut akan memberikan luka di hati Mamanya, namun, Aksa juga tidak bisa menjalani ini semua dengan terpaksa. Aksa tidak akan nyaman, juga tidak akan sanggup jauh di negeri orang sendirian. Apalagi tanpa Kalla. Kalla salah satu orang yang bisa memberikan motivasi Aksa untuk menjadi laki-laki yang tanggung jawab, terutama bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Kalla selalu mengingatkan Aksa agar selalu mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukan. Kalla tidak pernah melarang, namun, Kalla selalu memberi pengertian. Kalla juga tidak pernah menyalahkan, Kalla lebih sering memberikan serta menunjukkan pelajaran dari apa yang sudah terjadi.
Setalah makan malam, Aksa dan Papanya masuk ke kamar untuk berbicara dengan Mamanya. Aksa sangat gugup, takut sekali menanti respon dari Mamanya tentang apa yang Aksa minta kali ini.
"Ada apa ini, tumben malam-malam berduaan ke kamar?" Tanya Mama Aksa sambil mencoba bangun dari tidurannya.
"Ma, ada yang ingin kamu bicarakan sama Mama," ucap Papa Aksa dengan tenang.
"Oh iya? Apa itu?" Mama Aksa sangat penasaran dengan ucapan Papa Aksa.
"Ayo Aksa, coba kamu jelaskan maksud kamu ke Mama," Papa Aksa memberikan kesempatan untuk Aksa menjelaskan maksudnya.
"Eeee, Ma... Jadi..."
Aksa sangat gugup sampai sulit memulai percakapannya dengan sang Mama.
"Ma, Papa dan Mama selama ini kan sepakat dan selalu ingat dengan prinsip kita kan, Ma. Untuk tidak pernah membebani anak dengan permintaan atau kemauan kita. Kita akan selalu mendukung apapun keputusan anak, karena tugas kita hanya support dan mengarahkan, bukan memaksakan?" Papa Aksa membuka obrolan di kamar dengan nada yang sangat tenang.
"Heeem, iya. Terus? Coba lanjutkan, Mama belum paham apa maksud kalian," ujar Mama Aksa.
"Ma, kita batalkan saja ya kirim Aksa ke Amerika," Papa Aksa langsung to the point.
Aksa kali ini benar-benar tegang. Bingung harus menghadap kemana, harus bagaimana, harus mengucapkan apa di depan Mama dan Papanya. Aksa diam, menunduk, tidak ingin melihat mata Mamanya, Aksa takut sekali ada air mata di sana.
"Batal? Kenapa?" Mama Aksa sudah mulai panik juga menaikkan volume suaranya.
"Iya, Ma. Aksa nggak mungkin meninggalkan Mama dalam kondisi seperti ini. Aksa ingin nemenin Mama, ngerawat Mama sampai Mama sembuh, sampai Mama bisa jalan lagi. Aksa pengen Aksa yang mendampingi Mama sampai Mama kembali bisa jalan."
"Stop!" Mama Aksa berteriak menghentikan Aksa berbicara.
Aksa dan Papa Aksa terkejut.
"Apa kamu bilang? Kamu mau membatalkan semua yang sudah Papa dan Mama kamu siapkan dari dulu, hanya karena Mama sekarang tidak bisa jalan? Kata kamu, semua akan baik-baik aja, kan? Tapi kenapa sekarang seakan Mama nggak bisa hidup tanpa campur tangan orang lain. Kenapa sekarang kamu seakan bilang ke Mama kalau Mama hanya bisa bergantung sama Kamu!" Mama Aksa menangis, sedih dengan kondisinya sekarang.
"Ma, bukan gitu maksud Aksa, Ma," Aksa mencoba menjelaskan maksudnya.
"Ini semua bukan kemauan Mama, Sa. Mama juga nggak ingin duduk di kursi roda seperti ini. Mama juga pengennya sehat, bisa melihat kamu, mengantar kamu sukses kuliah di Amerika. Mama pengen,Sa. Tapi nasib Mama seperti ini, Mama cuma bisa duduk di kursi roda sekarang. Tapi tolong, jangan hapus harapan Mama yang sudah Mama berikan kepada kamu untuk kamu wujudkan," Mama Aksa terisak dalam ucapannya.
"Ma, udah jangan teriak-teriak, ya. Mama tenang dulu, sabar," ujar Papa Aksa sambil memeluk Mama Aksa untuk menenangkannya.
"Tapi Aksa ada benarnya, Ma. Aksa dan Papa akan bergantian untuk nemenin Mama,"
"Itu bukan alasan kamu kan? Kamu punya alasan lain, kan?" Mama Aksa tiba-tiba nyeletuk.
Papa Aksa dan Aksa terkejut juga bingung atas ucapan Mamanya.
"Kalla. Iya Kalla kan pasti alasan kamu nggak mau kuliah di Amerika?" Mama Aksa bertanya dengan wajah sangat kecewa.