Sunyi di tengah keramaian, sepi di tengah hiruk pikuk. Ada di sana, tapi pikiran melayang kemaana-mana. Hanya bayangan yang ada di pikirannya, bukan yang ada di depan mata. Kalla memikirkan keadaan Aksa. Setelah kejadian perkelahian antar Aksa dan Gibran, Kalla belum berbagi kabar lagi dengan Aksa. Meski marah sekali dengan Aksa, namun, Kalla tetap saja pikiran Kalla tak lepas dari Aksa. Aksa sama sekali tidak memberi kabar Kalla, meski hanya mengirim sebuah pesan. Baru pertama kali Kalla dan Aksa sampai beberapa hari tidak berkabar. Kalla tidak fokus mengikuti ospek hari terakhir, karena memikirkan keadaan Aksa juga keluarganya. Kalla merasa bersalah sudah sangat marah dengan Aksa. Kalla berpikir jika itu akan melukai hati Aksa, tetapi, Aksa juga salah besar sudah salah paham dengan Gibran. Kalla merasa bersalah dengan 2 orang sekaligus. Gibran dan Aksa.
"Kal, Lo kenapa?" Tanya Meira tiba-tiba mengejutkan Kalla yang sedang melamun sendirian saat jam istirahat.
"Masih sakit ya, Lo? Astaga Kalla, lo kalo dibilangin bandel banget, sih. Kalo kaya gini ntar Lo kena marah lagi sama si senior cewek galak itu. Gue cari Kak Gibran, ya. Biar bawa Lo ke klinik atau apa gitu. Kalo Lo pingsan di sini kan gue nggak bisa gendongnya," Meira khawatir sekali melihat Kalla berdiam diri.
"Ehhhh, mau ngapain sih manggil Kak Gibran? Aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma lagi ngelamun aja, menikmati hari terakhir Ospek di kampus," Kalla mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Habisnya Lo diem aja kayak orang sakit. Panik lah gue," Meira menyalahkan Kalla diam saja.
Gibran melihat Kalla dari jauh, Gibran selalu memastikan Kalla dalam keadaan baik-baik saja meskipun hanya dari kejauhan. Gibran tidak mau Kalla menjadi bulan-bulanan Natasha lagi, pun akan menjadi pusat perhatian mahasiswa baru jika Gibran terlalu memperlihatkan perhatiannya kepada Kalla di kampus. Sebenarnya Gibran sangat khawatir melihat Kalla yang diam saja sendirian. Namun, selama ada Meira, Gibran masih bisa menahan kecemasannya itu.
"Cemas banget kayaknya?" Suara Natasha tiba-tiba ada di sebelah Gibran.
"Mau apa lagi sih, Nat? Udah deh jangan mancing keributan sama gue. Gue kan lagi diem-diem aja," Gibran mengeluh dengan sangat lembut.
"Engga, gue nggak mau ngajak Lo ribut. Gue cuma mau ngajak Lo makan aja. Lo belum makan, kan? Udah lama nih gue nggak makan sama ketua BEM gue ini," ujar Natasha sambil menggandeng tangan Gibran.
Dari kejauhan, wajah Gibran dan Natasha terlihat di mata Kalla. Natasha menggandeng tangan Gibran, Gibran juga tidak menolaknya. Ada perasaan aneh di hati Kalla. Seperti tidak terima, namun, pikirannya menolak perasaan itu. Kalla merasa belum memiliki hak untuk bersikap seperti itu kepada Gibran. Kalla menatap keduanya hingga keduanya hilang dari pandangan. Seperti ada tawa lepas yang sudah lama tertahan diantara mereka berdua. Kalla menjadi Insecure dengan dirinya sendiri. Apa boleh jika Kalla menyimpan perasaan yang lebih kepada Gibran.
"Dorrrrr!" Meira mengangetkan Kalla karena Kalla terlihat melamun lagi.
"Kenapa lagi, Kalla?" Meira gemas sekali melihat Kalla yang diam saja dari tadi.
"Makan aja, yuk?" Kalla melampiaskan perasaan anehnya mengajak makan Meira.
~
Tidak ada hal yang terlalu berkesan untuk Kalla di ospeknya kali ini. Kalla tidak banyak ikut kegiatan karena badannya tidak menyanggupi. Kalla juga harus dirawat di rumah sakit, Kalla harus bolos ospek, sampai tidak bisa menikmati ospek seperti mahasiswa baru lainnya. Tak ada yang terkenang indah di memori Kalla kecuali pertemuannya dengan Gibran. Gibran adalah salah satu hal berkesan yang Kalla temukan ketika ospek ini. Semua berubah saat Gibran ada dihidupnya, masuk dalam hatinya, selalu ada untuknya, sampai Kalla kadang bergantung dengan Gibran. Ospek kali ini Kalla menemukan perasaan yang berbeda, bukan hal lain seperti mahasiswa pada umumnya.
“Perhatian! Untuk para mahasiswa baru, silakan menuju ke lapangan basket kampus, kita akan menutup acara sekaligus menyaksikan kegiatan pensi,” ucap salah satu panitia memberikan pengumuman untuk juniornya.
Semua mahasiswa bergegas menuju ke lapangan basket sebelum ada senior yang mendatangi mereka. Kalla dan Meira juga ikut dalam rombongan itu, mereka tidak mau ada masalah dengan senior. Suasana sangat ramai, semua antusias dengan acara terakhir ospek. Hari ini semua sangat bahagia, ceria, terlihat dari raut wajah mereka, tidak seperti biasanya yang tertekan karena kegiatan yang sangat padat.
Kalla menikmati suasana di lapangan basket. Mengamati teman-teman satu angkatannya. Mereka semua ikut bernyanyi saat band tampil, ada yang ikut dance, ada yang hanya duduk sambil makan dan ngobrol dengan teman lainnya. Semua terlihat sangat menikmati hari itu. Musik ada dimana-mana, panggung, alat musik, artis-artis kampus, semua kumpul jadi satu di lapangan basket kampus. Suasana melebihi pasar dipagi hari.
“Kal, nggak nyangka ya sudah hari terakhir ospek saja. Besok ita sudah jadi mahasiswa di kampus!” Meira sangat antusias menjadi mahasiswa seutuhnya.
“Iya, Mei,” jawab Kalla sangat singkat.
“Ihhh, kenapa sih Lo, singkat bener jawabannya,” Meira protes dengan jawaban Kalla.
“Ehh iya, Mei. Pulang dari kampus kita ke rumah Aksa, yuk!” Kalla mengajak Meira ke rumah Aksa.
“Boleh!” Miera juga antusias untuk ke rumah Aksa, menengok Mama Aksa juga bertemu dengan Aksa.
“Oh iya, Kal. Malam-malam yang waktu itu Lo telepon gue, itu ada apa? Sorry banget gue nggak bis bantuin Lo. Itu sudah malem banget, lo bukannya tidur malah mau nginep di rumah gue. Sudah tahu bokap sama nyokap gue kayak bagaimana,” Meira penasaran dengan kejadian malam itu.
“Ohhh itu, nggak apa-apa kok. Gue Cuma ingin saja ketemu sama Lo, nginep di rumah Lo. Gue kan lagi sakit, jadi, nggak ingin kesepian, hehehehe,” Kalla menyembunyikan kejadian malam itu dari Meira.
Meira sama sekali tidak curiga, namun, tetap saja saat itu Meira khawatir dengan keadaam sahabatnya itu. Tidak biasanya Kalla ingin menginap di rumah Meira. Apalagi, sudah larut malam. Kalla akan sangat sungkan kepada orang lain jika Kalla mengganggu atau meminta bantuan. Tetapi, malam itu Kalla benar-benar terpaksa melakukannya.
Kalla dan Meira meyaksikan acara pensi dipaling belakang. Mereka tidak seheboh teman-temannya yang lain. Paling penting bagi Meira dan Kalla bisa duduk dengan tenang, dan menyaksikan acara ospek terakhir dengan nyaman. Kalla mencari keberadaan Gibran, semenjak Kalla ada di lapangan basket, Kalla belum melihat Gibran. Kalla masih khawatir dengan luka di wajah Gibran. Kalla belum bisa lupa dengan kejadian malam itu. Salah paham yang membuat Gibran menjadi babak belur. Kalla masih sangat merasa bersalah. Tidak lama setelah Kalla menengok ke arah sana sini, kanan kiri, depan belakang, Gibran akhirnya muncul di depannya. Gibran menuju ke panggung untuk mengecek apakah semuanya baik-baik saja. Kalla menatap Gibran, melihat luka di wajah Gibran. Mereka tidak bisa saling menyapa, hanya bisa saling memandang tanpa menyebutkan sepatah katapun. Wajah Gibran masih terlihat memar, terlihat jelas jika Gibran sedang tidak baik-baik saja. Namun, Gibran bisa menyembunyikan itu di depan semua orang.
“Kallll,” Meira ternyata juga melihat wajah Gibran yang babak belur.
“Kal, itu muka Kak Gibran kenapa babak belur kayak begitu? Habis maling dia?” Meira sangat terkejut melihat wajah Gibran.
“Haaa?” Kalla pura-pura tidak mendengar pertanyaan Meira karena Kalla tidak ingin jika Meira tahu tentang kejadian malam itu.
“Kalll, lo kok malah diam saja, sih. Gue kan tanya sama lo!” Meira menegaskan pertanyaannya untuk segera dijawab.
“Nggak, nggak tahu aku. Coba kamu tanya langsung sama Kak Gibran,” Kalla malah menyuruh Meira bertanya langsung kepada Kak Gibran.
“Ya kali, mau cari mati gue!” Meira sewot dengan jawaban Kalla.
Semakin siang semakin ramai, acara pun semakin meriah. Semua sangat menikmati acara hati itu, tidak ada yang tertekan, karena memang acara hari ini merupakan acara puncak dari ospek di kampus. Gibran terlihat masih sangat sibuk dengan tanggung jawabnya. Gibran memastikan semua akan baik-baik saja. Memastikan semua properti, alat-alat yang digunakan aman. Ada salah satu band senior yang juga ikut berpartisipasi dengan acara pensi ini. Para junior pun langsung menyerbu panggung, mereka menikmati penampilan seniornya. Ketika semua sedang sibuk memperhatikan senior yang manggung, Kalla hanya menikmati dipaling ujung. Kalla tidak terlalu suka dengan keramaian, makanya Kalla memilih di belakang, meski tidak terlalu ramai dan asyik, tapi asih bisa ikut menikmati.
Natasha terlihat datang dari arah kanan, Natasha mau menyusul Gibran yang sedang memastikan semuanya aman. Natasha menatap ke arah Kalla. Kalla juga sempat memperhatikan kedatangan Natasha. Meira meninggalkan Kalla sendirian karena penasaran dengan band seniornya itu. Kalla pun membiarkan Meira ikut memeriahkan di depan panggung. Kalla memalingkan pandangannya dari Natasha, fokus dengan band di depan panggung. Mendengar lagunya, Kalla sempat tersenyum malu. Lagu yang sering Kalla putar ketika sedang menggambar atau pun menulis.
“Kalla awas!” ada teriakan yang tiba-tiba mengejutkan Kalla. Kalla mencari sumber suara, tapi, tidak kunjung menemukan.
Natasha berlari ke arah Kalla, Gibram juga berlari sesegera mungkin menghampiri Kalla. Lampu yang tepat berada di atas Kalla lepas, akan jatuh ke kepala Kalla. Kalla sama sekali tidak tahu jika lampu itu lepas. Gibran dan Natasha berlari ke arah Kalla sambil berteriak agar Kalla menghindari area itu.
“Kalla awas!” Natasha mendorong Kalla, namun, justru Natasha sendiri yang tertimpa lampu dibagian kakinya.
Gibran menarik tangan Kalla, memastikan Kalla baik-baik saja. Setelah itu, Gibran langsung membawa Natasha ke klinik di kampusnya. Gibran menggendong Natasha, Natasha pingsan karena shock juga kakinya terluka. Kalla mengikuti Gibran di belakangnya. Meira melihat Kalla langsung berlari, mengejar Kalla. Meira takut Kalla terluka.