Natasha sedang ditangani oleh dokter yang biasa berjaga di kampus. Gibran keluar dari dalam klinik. Di luar sudah ada Kalla yang menunggu kabar dari Natasha.
“Kak,” panggil Kalla saat Gibran sudah berada di luar.
“Bagaimana Kak Natasha?” suara Kalla gemetar, Kalla masih ketakutan dengan kejadian tadi.
Gibran memegang tangan Kalla, menenangkan Kalla yang masih gemetaran.
“Heeii, tenang dulu, ya!” Gibran menenangkan Kalla, sambil menyuruh petugas yang berjaga untuk memberikan Kalla minum.
“Minum dulu,” Gibran memberikan Kalla minum supaya lebih tenang.
“Kak, bagaimana keadaan Kak Natasha?” Kalla menangis merasa sangat bersalah dengan kejadian tadi. Mekipun bukan salah Kalla.
“Masih ditangani dokter,” Gibran menjelaskan keadaan Natasha yang masih ditangani dokter.
Kalla menahan tangisnya karena malu banyak sekali mahasiswa yang berkumpul untuk melihat keadaan Natasha.
“Tolong semuanya kembali ke lapangan, biar Natasha saya yang urus!” Gibran menyuruh semua yang berada di area klinik pergi kembali ke lapangan.
“Kamu nggak ada yang luka, kan?” Gibran memastikan Kalla tidak terluka.
Kalla menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang terluka, hanya saja Kalla sangat syok melihat kejadian yang baru saja terjadi. Jika Kalla tidak berdiri di tempat itu, pasti Natasha tidak akan tertimpa lampu.
“Kamu ke lapangan saja, ya. Biar Natasha aku yang urus,” ucap Gibran menyuruh Kalla ke lapangan.
“Tapi, kak,” Kalla ingin menolak permintaan Gibran.
“Teman-teman kamu ada di sana semua. Aku nggak mau mereka anggep aku nggak profesional karena mengistimewakan kamu,” Gibran memberikan pengertian kepada Kalla.
“Iya, Kak. Aku ke sana,” Kalla kecewa dengan ucapan Gibran, karena Kalla sama sekali tidak ada maksud seperti yang Gibran ucapkan.
Kalla tidak pergi ke lapangan, Kalla lebih memilih pergi ke kantin untuk menenangkan diri dari rasa bersalahnya kepada Natasha. Kemarin, Kalla baru saja membuat Gibran babak belur di wajahnya, sekarang Kalla membuat Natasha terluka karena sudah menolongnya. Kalla semakin dihantui rasa bersalah kepada Gibran dan Natasha. Setelah ini, pasti Natasha akan semakin membenci Kalla. Mungkin Gibran juga demikian. Kalla akan kehilangan hal yang berkesan dalam masa ospeknya ini.
“Astaga Kalla, gue cariin lo kemana-mana. Lo nggak kenapa-kenapa, kan?” Tanya Meira sangat panik mencari keberadaan Kalla.
Kalla mengangguk, memberikan kode jika Kalla baik-baik saja.
“Lo kenapa di sini?” Meira penasaran kenapa Kalla memilih sendiri di sini.
“Gue jahat banget kayaknya ya, Mei,” Kalla menangis sangat merasa bersalah dengan Gibran dan Natasha.
“Lo kenapa?” Meira terkejut melihat Kalla menangis.
Menutupi rasa bersalah tidaklah mudah. Rasa bersalah kan selalu menghantui, dimana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaannya. Seperti Kalla sekarang, Kalla ketakutan menyimpan rasa bersalahnya sendirian. Melihat keadaan Gibran juga Natasha, semakin membuat Kalla merasa jika dia jahat sekali kepada orang lain. Kalla membuat orang lain celaka, Kalla membuat orang lain terluka, hanya untuk membantunya, hanya untuk menyelematkan Kalla.
“Kallll, lo kenapa? Jawab dong!” Meira kasihan melihat Kalla seperti ada yang disembunyikan.
~
“Bagaimana dok, Natasha?” Gibran menanyakan keadaan Natasha kepada dokter yang membantu Natasha di klinik.
“Nggak apa-apa, untungnya hanya mengenai kakinya saja. Natasha nya hanya syok, makanya sampai pingsan,” Dokter menjelaskan keadaan Natasha.
“Sudah boleh dijenguk, dok?”
“Silakan, saya sekalian permisi, ya,” Dokter pamit setelah membantu menangani Natasha.
Gibran masuk ke ruangan, ingin segera melihat keadaan Natasha. Natasha sudah sadar, sudah bisa duduk di kasurnya.
“Lo baik-baik saja, kan?” Tanya Gibran khawatir dengan Natasha, namun, Gibran ingin terlihat tenang di depan Natasha.
“Cewek lo nggak bisa ya kalau sehari saja nggak bikin masalah?” Natasha malah balik bertanya dengan Gibran.
“Nat, tapi kan ini bukan salah Kalla. Ini kan murni kecelakaan,” Gibran membela Kalla.
“Kemarin sudah bikin Lo babak belur, sekarang bikin kaki gue kayak begini. Besok mau bikin orang lain kenapa lagi?” Natasha ketus sekali dengan ucapannya.
“Nat, ini semua bukan salah Kalla. Ini murni kecelakaan. Nggak ada hubungannya sama muka gue yang babak belur,” Gibran terus membela Natasha.
“Gue kan pernah bilang sama Lo, selama Lo masih bucin sama dia, orang-orang terdekat Lo bakal terancam terluka gara-gara dia. Gue contohnya,” Natasha kembali menjelaskan kalimatnya ynang masih menyalahkan Kalla.
“Sudah deh, jangan nyalahin Kalla terus. Sekarang lo minum obatnya, makan, terus istirahat. Biar gue yang urus semuanya di kampus,” Ujar Gibran.
“Sekalian sama Kalla, kan?”
Gibran tidak menjawab apa-apa. Setelah menyiapkan semua obat dan makanan untuk Natasha, Gibran meninggalkan Natasha sendirian di klinik kampus. Gibran meminta rekan lainnya untuk menemani Natasha. Gibran kembali mengecek dan mengawasi kegiatan ospek, agar kejadian seperti tadi tidak terulang lagi.
“Tolong, ya. Pastikan semua alat dan properti yang digunakan sudah aman. Semua mahasiswa dan panitia juga harus berhati-hati, saling waspada, saling mengingatkan. Saya nggak mau ada kejadian seperti tadi terulang. Kita bisa disalahkan oleh pihak kampus jika memakan korban, terutama mahasiswa. Tolong kalian semua pastikan acara ini akan berjalan dengan aman sampai selesai,” ucap Gibran dalam briefing bersama teamnya.
Kalla dan Meira masih di kantin. Meira memberikan Kalla minum, supaya Kalla lebih tenang dan bisa menceritakan apa yang terjadi. Kalla masih ketakutan, masih dihantui dengan rasa bersalah yang besar.
“Lo sudah lebih baik, kan? Sekarang Lo bilang sama gue, kenapa Lo kayak gini? Ada apaan sih?”
“Gue ngerasa bersalah banget sama Kak Gibran dan Kak Natasha. Mereka berdua selalu melindungi gue, tapi, mereka yang kena getahnya. Gue baik-baik saja, sementara mereka harus terluka,” Kalla membuka curhatannya.
“Ini bagaimana maksudnya? Natasha nggak pernah ngelindungi Lo sama sekali, Lo gila kali ya. Dia yang ada bikin onar sama kita,” Meira tidak terima Kalla bilang jika Natasha selalu melindungi Kalla.
“Tadi, Mei. Kalau bukan karena gue, Kak Natasha nggak bakal sampai terluka kayak begitu, kan?” Kalla masih menyalahkan dirinya sendiri.
“Heiii, Kal. Itu bukan salah lo sama sekali, itu murni kecelakaan. Siapapun yang ada di poisisi lo tadi, pasti Natasha juga bakal nolongin. Natasha kan salah satu yang bertanggung jawab,” penjelasan Meira agar Kalla tidak terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
“Tunggu, deh. Lo bilang Kak Gibran juga, berarti muka dia babak belur kayak begitu ada hubungannya sama lo?”
Kalla menatap wajah Meira, Kalla ragu ingin bercerita tentang kejadian malam itu atau tidak.
“Wooyyy, hobi banget deh lo ngelamun,” Meira mengagetkan Kalla.
“Jadi,”
Kalla akhirnya menceritakan kejadian malam itu ketika Aksa memukuli Gibran karena kesalahpahaman. Semua berawal ketika Kalla meminta Gibran untuk mengajaknya pergi dari rumah, karena Kalla tidak betah dengan suasana di rumah yang sangat panas dan tegang. Kalla ingin suasana yang nyaman, karena baru saja pulang dari rumah sakit.
“Aksa mukulin Kak Gibran?”Meira terkejut dengan cerita Aksa.
“Tapi kan niat Aksa baik, Kal,” Meira membela Aksa.
“Iya, aku tahu, mungkin niat Aksa baik. Aksa nggak ingin aku kenapa-kenapa. Tapi, kekerasan bukan jalan keluar dari sebuah permasalahan. Apalagi Aksa sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa,” Kalla masih menyalahkan kesalahpahaman yang terjadi dengan Aksa.
“Pantes Natasha jadi makin jutek sama Lo, ya,” Meira mendapatkan jawaban kenapa Natasha semakin ketus dan jutek kepada Kalla.
“Ya bagaimana, yaaaa,” Meira bingung sendiri dengan keadaan sekarang.
“Sudah deh, mending lo jauh-jauh dari Kak Gibran. Lo mending sama gue saja, sudah diem nggak usah nengok ke sana kemari, yang penting lo ada gue,” Meira mencoba memberikan saran kepada Kalla.
“Tapi, Mei. Nggak bisa semudah itu, dong. Selama ini Kak Gibran sudah banyak bantu aku, masak setelah permasalahan ini aku harus jauhin Kak Gibran?” Kalla menolak untuk jauh dari Gibran.
“Lo jelasin saja deh sama Aksa, ya. Jangan ada salah paham diantara kalian, kalian sudah berteman, bersahabat belasan tahun. Jangan lo sia-siakan sama orang yang baru belasan hari lo kenal,” Meira mengingatkan Kalla.
“Aksa tetap sama seperti dulu di hati gue, tapi, hidup terus berjalan, kita akan bertemu dengan banyak orang. Kita nggak bisa menolak, kita nggak bisa menghindar, yang paling penting kan aku selalu menjaga persahabatan kita,” Kalla membela diri.
“Yaa ampun Kalla Kalla, nggak peka banget jadi cewek,” Meira heran dengan tidak pekaan Kalla.
“Satu lagi, perasaan itu nggak bisa dipaksain, Mei. Kamu mau status malah menghancurkan persahabatan yang sudah kamu jalanain belasan tahun?” Kalla masih membela dirinya.
Ospek terakhir sudah benar-benar berakhir. Kalla, Miera, dan seluruh mahasiswa lainnya samas-sama resmi menjadi mahasiswa baru di kampusnya. Setelah kemeriahan yang terjadi seharian, kampus perlahan ditinggalkan oleh mahasiswanya. Mereka satu persatu pulang ke rumah. Kampus akan menjadi sepi kembali seperti malam-malam biasanya.
Kalla pergi ke klinik kampus, ingin melihat keadaan Natasha. Sampai di klinik, tidak ada orang sama sekali di sana. Natasha sudah tidak berbaring lagi di kasur.
“Loh, kemana kak Natasha?” Kalla mencari Natasha ke sekeliling area klinik kampus.
“Gue di sini,” Natasha muncul di belakang Kalla.
“Kak Natasha, Kakak baik-baik saja kan?”
“Ya Lo bisa lihat sendiri bagaimana keadaan gue, kan. Gue duduk di kursi roda, lo tanya apa gue masih baik-baik saja?” Natasha menjawab dengan ketus.
“Kak, maafin aku. Aku sama sekali nggak tahu jika kejadiannya akan seperti ini,” Kalla minta maaf kepada Natasha.
“Bukan salah kamu,” Gibran datang membela Kalla.
“Kalau bukan salah dia, terus salah siapa? Salah gue yang nyelametin dia? Kalau dia nggak duduk di area tadi, nggak akan ada kejadian seperti ini,” Natasha masih berusaha untuk menyalahkan Kalla.
“Iya, memang salah aku, Kak. Apa yang bisa aku lakuin untuk menebus kesalahan aku kek Kak Natasha? Aku akan bertanggung jawab,” Kalla tegas akan tanggung jawab kepada Natasha agar Natasha mau memaafkan Kalla.
“Waaaaah, gentle juga lo!” Natasha tidak menjawab, hanya mengomentari omongan Kalla.
“Kal, sudah deh nggak usah memperpanjang masalah. Ini bukan salah kamu, jangan lemah di depan orang, dong. Ayolah, buang rasa nggak enak kamu, karena memang kamu nggak bersalah!” Gibran kesal dengan Kalla karena malah memperpanjang masalahnya.
“Memang ini semua salah dia, lo kenapa sih belain dia terus? Mau sampe kapan lo bucin ke dia, mau berapa orang lagi yang jadi korban dia? Lo sudah babak belur itu mukanya, sekarang gue sampe duduk di kursi roda, lo mikir deh. Ketua BEM masak kayak begitu saja nggak bisa mikir!”
“Hati lo yang sudah terlanjur benci sama orang, jadi orang itu akan selalu salah di mata lo!” Gibran juga kesal dengan Natasha.
“Pulang sekarang,” Gibran menarik tangan Kalla, mengajak Kalla pulang agar tidak melanjutkan kebodohannya dengan Natasha.
“Kak, Kak Gibran apa-apaan sih? Aku masih ada urusan sama Kak Natasha, nggak bisa main pergi begitu saja,” ucap Kalla.
“Urusan apa? Mau memperpanjang masalahnya? Sekarang mendingan kamu pulang ke rumah, aku antar. Natasha nggak akan pernah selesai sama ucapannya, kalau kamu ngeladenin,” Gibran menegaskan kepada Kalla.
“Kall!” Meira memanggil Kalla saat melihat Kalla di parkiran mobil bersama Gibran.
“Lo mau kemana? Kan kita mau ke rumah Aksa malam sekarang,” Meira bingung karena Kalla dan Gibran seolah akan pergi berdua.
“Malam ini?” Gibran tanya kepada Kalla yang belum merespon Meira.
“Iya, sekarang. Kita mau jenguk Mama Aksa sekalian ketemu sama Aksa,” Meira menjelaskan tujuannya.
“Aku antar,” Gibran menawarkan bantaun kepada Kalla dan Meira.
“Sudah dijemput sama supir gue, kak,” ucap Meira.
“Aku sama Meira saja, kak,” Kalla melepaskan tangan Gibran, lalu pergi bersama Meira.
~
Malam hari di rumah Aksa, terdengar sunyi dan sepi. Karena macet, sedikit terlambat sampai di rumah Aksa. Kalla dan Meira membawakan buah-buahan dan beberapa makanan untuk Aksa juga Mama dan Papanya.
“Tunggu ya, pak. Kita nggak akan lama, kok. Ini juga sudah malam, jadi biar bapak nggak bolak-balik jemput saya,” ucap Meira kepada supirnya.
Kalla dan Meira berjalan masuk ke rumah Aksa, namun, sudah beberapa kali mengetuk pintu, tidak ada yang membukanya. Meira memutuskan untuk membuka pintunya karena tidak dikunci. Sekitar ruang tamu rumah Aksa sepi, tidak ada orang di sana. Kalla dan Meira memutuskan untuk masuk, karena tidak ada yang mendengar mereka. Baru ingin beranjak dari ruang tamu, Kalla dan Meira mendengar ada keributan. Sepertinya keributan terjadi di salah satu kamar di rumah Aksa. Kalla dan Meira saling menatap.
“Ada apa sih?” Meira bisik-bisik di samping telinga Kalla.
Kalla geleng-geleng kepala, karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Biasanya keluarga Aksa sangat aman, nyaman, dan rukun. Ini seperti ada keributan besar, Mama Aksa sampai berteriak.
“Kita keluar dulu saja, yuk? Kita telepon Aksa, bilang kalau ada di depan rumah. Nggak kalau kayak gini,” Kalla mengajak Meira keluar.
Beberapa langkah berjalan, Mama Aksa kembali berteriak marah. Kalla dan Meira mau tidak mau mendengar teriakan itu.
“Ini semua pasti gara-gara Kalla, kan? Kalla yang bikin kamu nggak nurut lagi sama Mama, Kalla yang bikin kamu nggak jadi wujudin mimpi Mama dan Papa untuk kuliah di Amerika? Mama dan Papa yang memberi kehidupan buat kamu, bukan Kalla!”
Kalla tertegun mendengar kalimat Mama Aksa. Ada apa lagi ini, Kalla benar-benar sedang diuji batinnya. Permasalahan dengan orang tuanya belum selesai, masalah dengan Gibran, Natasha, hingga sekarang bertambah dengan Mama Aksa. Kalla tidak tahu menau apa yang sedang mereka bicarakan hingga membawa nama Kalla.
“Kalla itu bukan siapa-siapa kamu, dia yang selalu buat kamu jauh dari Mama, sekarang kamu masih mau bela-belain dia?”
Kalla mendengar lagi kalimat Mama Aksa, Kalla sudah tidak tahan. Kalla bergegas keluar dari rumah Kalla. Meira menyusul Kalla keluar, sebelumnya, Meira meletakkan makanan dan buahnya di meja ruang tamu.
“Kenapa sih, Kal?” Meira penasaran apa yang terjadi antara Kalla dan keluarga Aksa.
“Aku nggak tahu, Mei. Kita pulang saja ya sekarang.”
Kalla lelah dengan seharian ini. Banyak sekali yang menguji perasaannya. Ingin pulang, tapi di rumah bukanlah tempat yang nyaman. Tidak ada ketenangan di rumahnya, tapi, Kalla juga tidak mau lagi merepotkan orang lain. Kalla takut akan membuat lebih banyak orang terluka.