Salah satu hal yang paling menyiksa adalah rasa bersalah. Saat ini sedang dirasakan oleh Kalla. Kalla merasa bersalah kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Gibran, Aksa, Meira, kini bertambah Natasha. Tak lupa juga keluarga Aksa yang tiba-tiba saja membenci Kalla. Padahal, hal paling menenangkan untuk Kalla adalah hadir di tengah-tengah keluarga Aksa. Sekarang, semua sudah tidak akan seperti itu lagi. d**a Kalla sangat sesak, penuh dengan perasaan yang sangat menyiksa itu. Terus menghantuinya, terus berkeliaran di kepalanya, pun mengajaknya untuk terus bertengkar dengan seluruh isi kepala.
Kalla ingin sendiri, akhirnya Kalla memutuskan untuk pulang tanpa Meira. Kalla membiarkan Meira pulang terlebih dahulu. Kalla tidak mau menjadi beban temannya lagi hari itu. Sudah cukup penuh perasaan bersalah Kalla, sepertinya tidak akan cukup jika harus ditambah. Ojek online menjadi pilihan Kalla untuk pulang ke rumah. Di jalan, Kalla menikmati setiap detik angin yang menerpa wajahnya. Seolah memberikan sedikit obat dari kepahitan hari itu.
"Apa permasalahan Mama dan Papa juga berawal dari aku? Aku yang menyebabkan pertengkaran tiada akhir di pernikahan mereka?" Kalla mulai kembali overthingking.
"Ahhh kenapa harus ada perasaan seperti ini di dunia? Kenapa tidak hilang saja?" Kalla menyalahkan perasaan bersalahnya yang sangat besar.
"Salah satu hal paling menyakitkan ketika kita tidak berbuat apapun, namun, dihantui rasa bersalah yang besar," Kallla menghembuskan nafasnya lebih panjang.
Sampai di rumah, Kalla langsung turun dari ojek online setelah menyelesaikan pembayarannya. Kalla berjalan memasuki rumah sambil melamun, sampai-sampai Kalla tidak tahu jika di depannya ada Gibran. Gibran menunggu di depan rumah Kalla. Gibran khawatir dengan keadaan Kalla seharian ini. Gibran juga merasa bersalah karena sudah terlalu keras dengan Kalla hari ini.
"Kalla, tunggu!" Gibran menarik tangan Kalla saat Kalla melewati Gibran tanpa sadar.
Kalla terkejut saat melihat Gibran ada di depan rumahnya, Kalla tidak menyangka Gibran akan ada di rumahnya malam itu.
"Kamus darimana? Kenapa sendirian malam-malam naik ojek? Bahaya, Kal," Gibran khawatir karena Kalla pulang sendirian naik ojek online.
"Kak Gibran ngapain malam-malam di rumah aku?" Bukannya menjawab, Kalla malah balik bertanya.
"Aku khawatir sama kamu, nggak tenang di rumah. Makanya aku ke sini," Gibran menjawab langsung pertanyaan dari Kalla.
"Aku kenapa?" Kalla heran kenapa Gibran khawatir dengan Kalla.
"Raut wajah kamu nggak bisa menyembunyikan semuanya, Kal. Raut wajah kamu nggak bisa bohong jika kamu sedang dalam perasaan yang sangat tidak enak," Gibran memberikan penjelasan tentang apa yang Gibran lihat dari Kalla saat itu.
"Kak, aku pengen sendiri. Lebih baik, Kak Gibran pulang, ya," Kalla meminta Gibran pulang, Kalla tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Oke, kalau memang kamu butuh waktu sendiri. Tapi kamu harus inget, aku selalu ada buat kamu. Kalau kamu butuh bahu, aku akan ada untuk kamu. Jangan merasa sendiri, dunia nggak akan sekejam itu untuk kamu, selama aku masih ada di sini," Gibran mengelus punggung tangan Kalla agar sedikit memberikan ketenangan untuk Kalla.
"Makasih, kak," Mata Kalla berkaca-kaca mendengar ucapan dari Gibran.
Kalla hanya butuh support saja saat ini. Hanya butuh seseorang ada untuk Kalla, mengerti Kalla, tanpa harus Kalla menceritakan apapun yang sedang Kalla rasakan. Akhirnya, Gibran salah satu orang yang mengerti bagaimana perasaan Kalla saat itu. Sebelum pulang, Gibran memberikan bingkisan makanan untuk Kalla. Karena Gibran tahu, pasti Kalla belum makan malam itu.
"Jangan lupa dimakan, ya. Aku akan sedih banget kalau sampai makanan ini kamu buang," Gibran memberikan bingkisan makanan untuk Kalla, lalu langsung masuk ke mobilnya dan bergegas pulang. Kalla melihat Gibran, menunggunya sampai hilang dari pandangan.
Masuk ke dalam rumah, sudah ada Mama dan Papanya. Mereka sedang ribut kecil soal makanan yang Mama Kalla beli. Namun, Kaya sedang tidak ingin mendengarnya. Kalla hanya menyapa Mama dan Papanya sebentar, berjalan berlalu begitu saja sambil menutup telinganya, tidak ingin mendengar keributan apapun di rumah.
Kalla naik tangga menuju ke kamarnya tanpa memperhatikan Mama dan Papanya. Mama dan Papanya sempat menyadari jika Kalla tidak memperhatikan mereka, tetapi, pertengkaran lebih penting daripada perhatian Kalla. Kalla tidak peduli dengan apa yang terjadi di rumahnya, dadanya sudah terlalu sesak menyimpan semua kesedihan. Jika Kalla menahan perpisahan, mungkin dadanya akan terus seperti itu.
Makanan dari Gibran menarik perhatian Kalla setelah Kalla mandi dan berganti pakaian. Setelah seharian menjalani drama kehidupan yang tak kunjung usai, drama pertemanan yang tidak ada ujungnya, Kalla mencoba menenangkan diri dan menghilangkan semua pikiran negatifnya dengan mandi dan berlama-lama di kamar mandi. Menangis di bawah shower, menikmati aliran air derasdari shower. Menenangkan dari segala kegaduhan dalam pikiran juga hati Kalla.
“Kamu laper, ya?” Kalla mengelus perutnya yang berbunyi.
Kalla menggeret kursi belajarnya agar bisa duduk di sana. Setelah itu membuka makanan dari Gibran.
“Huhhhh, kalau nggak dimakan, tandanya membuat orang lain kecewa dan sedih. Hmmmm apa bener?” Kalla menggumam sebelum menyantap makanan di depannya.
Ada pesan masuk di ponsel Kalla ketika Kalla sedang menikmati makanan dari Gibran.
“Selamat makan,” Gibran mengirimkan pesan singkat, meskipun Gibran tidak melihat jika Kalla memang sedang makan makanan darinya.
“Kenapa kak Gibran bisa tahu kalau aku sedang makan?” Kalla membalas pesan Gibran dengan penasaran.
“Karena aku tahu, kamu nggak mau bikin orang lain sedih,” Gibran membalas lagi pesan dari Kalla.
Pesan dari Gibran membuat Kalla tersenyum tipis. Lalu, Kalla meletakkan ponselnya, melanjutkan makannya sampai selesai. Kalla tidak ingin ada yang benar-benar sedih karenanya. Sambil memutar lagu favoritnya, Kalla menikmati suap demi suap makan malamnya.
“Terima kasih makanannya, malam ini aku bisa tidur dengan kenyang,” Kalla mengirimkan pesan kepada Gibran.
“Besok pagi aku akan membuat kamu bangun dengan kenyang juga,” Gibran membalas pesan yang Kalla kirimkan.
Kalla tidak lagi membalas pesan dari Gibran, Kalla memilih untuk melamun di dekat jendelanya sambil membawa buku diary kesayangannya.
“Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, kalau aku masih menyimpan semua rasa bersalah sendirian? Aku tidak tahu menahu tentang apa yang akan terjadi kedepannya, tapi, kenapa seolah memang aku selalu bersalah?” Kalla mempertanyakan kepada hembusan angin.
“Aku nggak bilang hidup aku paling menyedihkan, tapi, aku hanya ingin ada yang mengerti apa yang aku rasakan,” Kalla menutup buku diarynya juga jendela untuk bersiap mengistirahatkan badan serta pikirannya.
Mencoba memejamkan matanya, menarik selimut, memeluk guling, sampai mendengarkan lagu kesukaannya agar bisa terlelap malam itu. Namun, sulit sekali untuk Kalla merasakan tidur dengan nyaman malam itu. Semua seolah berlari-lari dipikirannya tanpa ingin berhenti. Hatinya terus berbicara, bagaimana besok Kalla bisa menjalankan kesehariannya. Bagaimana Kalla bisa berdampingan dengan semua rasa bersalahnya. Bagaimana Kalla bisa menerima semua yang tidak seharusnya Kalla terima. Pikiran dan hatinya masih terus bekerja, padahal, badan Kalla sudah memberikan sinyal tidak sanggup lagi.
“Aku Cuma ingin tidur dengan nyaman malam ini,” Kalla mulai menangis kesal karena tidak bisa tidur sama sekali.
“Kenapa susah banget sih?” Terus mengeluarkan air matanya tanpa menahan lagi sedikitpun.
“Ayo tidur, ayo istirahat. Aku capek, aku ingin lupa sejenak dengan semua kegaduhan.”
Isak tangis Kalla malah justru mengantarkan Kalla tidur. Setelah menangis kesal karena sulit untuk memejamkan mata, akhirnya Kalla berhasil tertidur. Meski harus dengan menangis terlebih dahulu. Mata terpejam, badan istirahat di atas kasur yang empuk, namun, pikiran masih saja menyimpan semua keributan. Ingin bangun, tapi, tidak siap harus kembali menjalani kesepian, ingin tidur, tapi dalam mimpi pun merasa sendirian. Sungguh sulit mengatakan apa yang ada di dalam perasaan Kalla saat itu.
“Aku nggak lemah, tapi kenapa aku selalu kalah?” Baru saja bangun, Kalla sudah memulai harinya dengan kesedihan yang tersisa.
~
Hari pertama menjadi mahasiswa baru di kampus, mahasiswa jurusan Tata Busana di kampus impiannya. Untuk sedikit menghibur dirinya sendiri, Kalla mempercantik wajah dan tampilannya memakai dress warna biru muda, dibawah lutut, lalu rambutnya dibiarkan terurai. Kalla juga mengaplikasikan make up di wajahnya, supaya wajahnya terlihat lebih segar, tidak sayu. Setelah semua selesai, Kalla memilih flat shoes navy di kamarnya, lalu mengambil tas di mejanya. Setelah itu, Kalla langsung keluar dari kamar, bergegas untuk berangkat ke kampus.
Turun dari kamarnya, Kalla sudah melihat Papa dan Mamanya di ruang makan. Mama dan Papanya kali ini tidak mengawali pagi dengan keributan atau pertengkaran. Mama dan Papa Kalla sedang menunggu Kalla turun dari kamarnya. Ada yang ingin dibicarakan di meja makan.
“Kalla,” panggil Mama Kalla.
Kalla menoleh ke arah Mama dan Papanya, padahal Kalla berniat untuk tidak menyapa Mama dan Papanya. Walaupun ini sebenarnya salah, tetapi, Kalla ingin bebas dari rasa ketakutan dan tidak nyamannya.
“Iya, Ma” Kalla menjawab, berhenti dari langkah kakinya.
“Kemari, Mama dan Papa ingin bicara,” Mama Kalla menyuruh Kalla menuju ke meja makan.
“Ada apa, Ma, Pa?” Kalla langsung ingin mendengar apa yang mau dibicarakan.
“Papa dan Mama mau minta izin untuk berpisah,” Papa Kalla memperlihatkan surat perceraian yang berada di dalam sebuah stopmap.
Kalla menatap wajah Mama dan Papanya sebelum melihat isi dari stopmap itu.
“Mama dan Papa sudah yakin?” Kalla menanyakan apakah Mama dan Papanya sudah yakin dengan keputusan mereka.
Mama dan Papa Kalla tidak ada yang menjawab, hanya ada anggukan kepala yang mewakili jawaban dari pertanyaan Kalla.
“Iya, silakan,” Kalla menjawab singkat.
“Kalla tidak bisa melarang sebuah perpisahan jika itu memang sebuah jalan,” Kalla kembali menambahkan ucapannya.
“Mama dan Papa tidak ingin bertengkar terus setiap harinya di depan kamu,” ujar Mama Kalla kepada Kalla seolah ingin membenarkan perpisahannya ini.
“Iya, Kalla nggak melarang. Silakan, Ma, Pap. Kalla tidak akan punya kekuatan untuk menahan. Bahkan keberadaan Kalla pun tidak bisa mencegah perpisahan Mama dan Papa, kan?” Kalla berbalik tanya kepada Mama dan Papanya.
“Jika butuh bantuan Kalla untuk mengurus semua ini, Kalla siap membantu,” ucap Kalla sebelum meninggalkan Mama dan Papanya di meja makan.
Langkah kaki Kalla gemetar menahan tangisnya ketika meninggalkan Mama dan Papanya. Kalla tidak ingin menangis di depan orang tuanya. Kalla sudah tidak ingin terlihat lemah. Terkadang menjadi lemah sungguh melelahkan. Kini, Kalla tidak ingin lelah lagi, Kalla ingin kuat.
“Bisa, aku bisa kuat!” Kalla menangis setelah membuka pintu dan keluar dari rumahnya.
Kalla menunduk, biar tangisannya mengalirkan semua beban yang ada. Baru beberapa langkah keluar dari rumahnya, tangan Kalla ditarik oleh seseorang. Kalla tidak ingin melihat siapa yang menarik tangannya, supaya tidak ada yang tahu jika Kalla menangis.
“Ada apa, Kal?” Suara Gibran menghiasi pagi Kalla.
Kalla masih belum berani menatap Gibran. Takut jika malah tangisnya semakin pecah saat Kalla menatap Gibran.
“Kal?” Gibran kembali memanggil Kalla, memegang tangan Kalla agar tetap berdiri di depannya. Mencoba membuat Kalla untuk menatapnya, namun, Kalla bersikukuh untuk menolaknya. Isakan tangisnya terdengar Gibran, Gibran tidak banyak bertanya lagi. Gibran hanya menarik badan Kalla, lalu memeluk Kalla.
“Aku boleh peluk kamu, kan?” Gibran izin memeluk Kalla sebelum melakukannya.
Lagi-lagi Gibran yang berhasil membuat Kalla menumpahkan semua tangisannya. Sampai sesekali Kalla sulit bernapas, terlalu sesak di dalam dadanya. Gibran mengelus lembut punggung Kalla, kepala Kalla, lalu membiarkan Kalla puas menangis. Gibran sama sekali tidak memberikan pertanyaan kepada Kalla. Setelah merasa sedikit lega, dengan wajah merah, mata terlihat lebih sipit, Kalla meminta Gibran untuk pergi dari rumahnya. Kalla mengajak Gibran segera pergi ke kampus.
“Kak, kita ke kampus sekarang!” Ajak Kalla masih dengan menundukkan kepalanya.
Gibran membukakan pintu mobil untuk Kalla, lalu melindungi kepala Kalla agar tidak terbentur bagian atas pintu mobil. Setelah memastikan Kalla aman dan sudah nyaman duduk di dalam mobil, Gibran menutup pintunya dengan hati-hati. Kemudian, segera Gibran masuk ke mobil dan menginjak gas, pergi dari rumah Kalla.
“Sudah sedikit lega? Boleh aku tanya?” Gibran memberanikan diri untuk bertanya.
Kalla tidak mengeluarkan suara, seperti biasa anggukan kepalanya menjadi jawaban atas pertanyaan Gibran. Kalla juga sudah mulai berani mengangkat kepalanya. Air mata yang menggenang di wajahnya sudah perlahan Kalla hapus. Make up Kalla sudah tidak seperti awal saat Kalla mengaplikasikan di wajahnya. Kini sudah mulai tertutup air matanya sendiri.
“Ada apa? Ada yang bisa kamu ceritain ke aku?” Gibran bertanya dengan sangat hati-hati.
“Mama dan Papa sudah bulat untuk berpisah, aku sudah mengizinkan. Walaupun rasanya sangat berat, kak,” jawab Kalla sambil kembali menahan tangisnya.
“Kamu yakin?” Gibran bertanya kembali.
“Aku sudah nggak bisa melakukan apapun untuk mencegah perpisahan Mama dan Papa. Bahkan keberadaan aku saja tidak bisa menjadi dinding perpisahan diantara Mama dan Papa. Aku mau apa lagi?”
“Huhhhhh,” Kalla membuang napasnya panjang supaya tidak terus-terusan menangis.
“Kita sarapan dulu, yuk!” Gibran mengajak Kalla sarapan, Gibran sama sekali tidak mau membahas terlalu dalam. Karena Gibran tahu, hal ini akan terus menyakiti Kalla.