Sebuah Kejutan

1202 Kata
"Baju cantik, modis, tapi kok make up-nya kayak gitu sih? Kurang masuk lah, Kalo," Meira menggoda Kalla saat melihat wajah Kalla beda dari biasanya karena habis menangis. "Harusnya kan lo juga dandan yang cantik, biar matching sama outfit lo hari ini!" Meira menambahkan godaannya. "Ihh apaan sih, Mei. Siapa sih yang dandan, aku kan mau ke kampus, mau kuliah bukan mau mejeng," jawab Kalla kesal karena Meira masih terus menggodanya. "Ehhh beneran tauk. Lagian kenapa sih Lo tumben deh dandan kayak begini. Ada siapa sih di kampus?" Meira malah mengintrogasi Kalla. "Kan ada kamu, Mei" "Yahh harusnya sih Lo dandan yang cakep,ini malah mata Lo bengkel,"Meira kembali meledek Kalla. Kalla kesal dengan Meira karena menambah rasa percaya diri Kalla hilang dihari itu. Kalla tidak mau masalahnya tadi pagi jadi konsumsi obrolan mereka hari itu. Kalla ingin hiburan saja, tidak ingin yang sedih-sedih saja. "Ke kelas, yuk!" Ajak Kalla. "Semangat bener kuliahnya," Miera kembali meledek Kalla. "Kamu tuh ya, ngeledek terus dari tadi. Liat aja, aku bakall gantian ngeledek kamu!" Kalla mengejar Meira yang mau kabur darinya. Di depan Kalla sudah ada Natasha, Natasha duduk di kursi roda sambil menatap Meira juga Kalla yang sedang bergurau. Natasha menatap Kalla dengan semua rasa dendamnya. Natasha duduk di kursi roda itu karena Kalla. Natasha selalu menganggap seperti itu. Kalau bukan karena menolong Kalla siang itu, Natasha tidak akan duduk di kursi roda sekarang. Kalla juga tidak akan dihantui rasa bersalah kepada Natasha. Kalla berhenti di depan Natasha, diam sejenak. Tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Meira sudah ada di depan Kalla lebih dahulu. "Kak Natasha," sapa Kalla kepada Natasha yang sedari tadi sudah menatapnya. "Enak ya, pagi-pagi udah bisa lari-lari sama bestie," Natasha menyindir Kalla yang sedang bercanda dengan Meira. "Ini orang ngapain sih gangguin Kalla terus," Meira kesal melihat Kalla diganggu terus oleh Natasha. "Iya dong, enak. Kan punya bestie," Meira menjawab sindiran Natasha. Natasha kesal sekali menatap wajah Meira. Meira tidak menghargai sebagai senior. Meira sangat berani untuk menjawab setiap omongan Natasha. "Aku ke kelas dulu ya, kak," Kalla pamit kepada Natasha masuk ke kelas. Kalla menghindari konflik di kampus. Karena Kalla merasa ini semua bukan salah Kalla, hanya sebuah kecelakaan saja. Kalla sudah berterima kasih juga meminta maaf kepada Natasha, jadi rasanya semua ini sudah cukup. "Lo nggak mau dorong kursi roda gue? Bukannya gue kayak gini gara-gara Lo, ya?" Natasha mencegah Kalla pergi dari hadapannya. Kalla diam, tidak melanjutkan langkahnya meninggalkan Natasha. Tadinya Kalla sudah ingin bodo amat dengan semua sikap yang membuat Kalla merasa sangat bersalah. Tetapi, omongan Natasha yang barusan kembali menimbulkan rasa itu. Kalla berpikir beberapa saat, mungkin ini saatnya untuk Kalla menebus kesalahannya kemarin. Ketika Kalla mau mendorong kursi roda Natash, Gibran datang. Gibran langsung mendorong kursi roda Natasha sebelum Kalla mendorongnya. "Gue aja nggak sih yang dorong? Kan lo sama gue satu kelas. Ngapain Lo minta tolong sama junior Lo?" Gibran datang membela Kalla. "Huhhhh, Lo lagi Lo lagi. Kenapa sih Lo ngebelain junior yang satu ini terus?" Natasha kesal sekali dengan Gibran yang selalu menjadi pahlawan kesiangan untuk Kalla. "Udah deh nggak usah banyak tanya. Sekarang kita masuk ke kelas aja!" Ajak Gibran sambil mulai mendorong kursi roda Natasha. "Kalla," lamunan Kalla pecah saat mendengar sapaan dari Aksa di kampusnya. Kalla berpikir jika dia sedang halusinasi, ternyata memang Aksa ada di depannya. "Aksa?" Kalla sangat terkejut dengan kedatangan Aksa di kampusnya. "Lo ngapain di sini? Bawa tas, rapi banget bajunya kayak mau kuliah? Ngapain Lo?" Meira langsung mencerca Aksa dengan banyak pertanyaan. Gibran berhenti sejenak, melihat siapa yang memanggil Kalla. Gibran juga terkejut saat melihat Aksa ada di kampusnya. "Gue kuliah di sini lah," Aksa menjawab pertanyaan Meira yang membuat semua orang di sana terkejut. "Kuliah?" Kalla tidak percaya dengan jawaban Aksa. Gibran menoleh ke arah Aksa, heran dengan jawaban Aksa. Kalla memperhatikan gerak-gerik Gibran juga Aksa, akhirnya Kalla pun menarik Aksa dan mengajak Aksa ke kantin kampus bersama Meira. Kalla ingin meminta penjelasan dari apa yang Aksa ucapkan baru saja. “Kamu kenapa masih di sini?” tanya Kalla masih dengan nada kecewa karena Aksa sudah membuat wajah Gibran babak belur. “Kal, gueee....” “Gue sama Kalla kemarin ke rumah lo,” Meira nimbrung pembicaraan Kalla dan Aksa. “Jadi?” Aksa mengingat kejadian malam kemarin setelah perdebatan dengan Mamanya. ~ Mama Aksa masih tidak terima jika Aksa membatalkan studynya di Amerika. Ini sudah menjadi mimpi Mama dan Papa Aksa sejak dulu. Semua juga sudah disiapkan sejak lama. Namun, Aksa malah meminta Mamanya untuk membatalkan semuanya. Mama Aksa sangat kecewa dengan Aksa, meskipun alasan Aksa tidka jadi berangkat adalah Mamanya sendiri. Aksa tidak ingin meninggalkan Mamanya dalam keadaan seperti ini. Aksa ingin menemani Mamanya sampai sembuh. Sampai bisa jalan kembali. “Ma, Aksa bisa jelasin semua. Aksa melakukan ini juga demi Mama. Aksa ingin nemenin Mama di sini, biar Mama nggak sendirian. Aksa juga mau dampingin Mama sampai Mama sembuh,” Aksa mencoba menjelaskan apa maksud dan tujuannya membatalkan studynya di Amerika. “Bohong!” Mama Aksa kecewa sambil menangis, Mama Aksa marah sekali dengan Aksa. “Pasti ini semua karena Kalla kan? Kenapa harus Kalla yang jadi alasannya? Mama sudah memperjuangkan semua ini dengan Papa kamu, tapi, kamu malah lebih mementingkan perempuan yang belum memilih kamu,” Mama Aksa tambah marah kepada Aksa ketika membahas tentang Kalla. “Ma, sabar dulu. Dengerin penjelasan Aksa dulu,” Papa Aksa mencoba memberikan pengertian kepada Mama Aksa. “Mama nggak akan mau mengerti kalau alsan itu hanya karena perempuan yang jelas-jelas belum tentu memilih Aksa sebagai pasangannya, Pa,” Mama Aksa menolak lagi penjelasan dari Aksa. “Ma, Aksa nggak melakukan semua ini demi Kalla. Aksa tulus demi Mama,” Aksa kembali memberikan penjelasan sambil menekuk kakinya di bawah tempat tidur Mamanya. “Ma, percaya sama Aksa. Aksa akan membuat Papa dan Mama bangga dengan cara Aksa sendiri,” ucap Aksa membela diri. “Pa,” Aksa menoleh ke Papanya untuk meminta bantuan agar Papanya bisa membantu Aksa untuk menjelaskan semuanya kepada Mama. “Kamu keluar dulu, ya. Biar Papa yang bicara sama Mama,” Papa Aksa menyuruh Aksa untuk keluar terlebih dahulu. Aksa pasrah dengan semua keputusan Mamanya. Jika memang harus berangkat ke Amerika demi membahagiakan Mamanya, akan Aksa jalani. Aksa tidak ingin tetap tinggal di sini, namun, Mamanya malah membenci Kalla yang tidak tahu apa-apa tentang ini. Aksa juga coba mengikhlaskan jika memang ada laki-laki yang lebih pantas untuk Kalla. Aksa berjalan keluar kamar menuju ke ruang tamu. Aksa ingin menenangkan dirinya sendiri dari rasa egois yang mungkin baru saja mengelabuhi isi pikirannya. Buah dan makanan di meja ruang tamu membuat Aksa bingung dan heran. Siapa yang meletakkan makanan di sana, siapa yang membawa, dan dimana orangnya menjadi pertanyaan Aksa. “Siapa yang bawa buah dan makanan sebanyak ini?” Aksa bertanya sambil mengecek apakah ada nama pengirim makanan. “Jangan-jangan Kalla datang,” Aksa langsung berlari ke luar rumah untuk memastikan apakah Kalla datang. Di luar sudah tidak ada siapa-siapa. Hanya ada angin dan sunyi tanpa suara lainnya. Aksa sangat berharap yang datang adalah Kalla, namun, sepertinya tabu untuk Aksa. Sebab, Aksa membuat kecewa Kalla. “Haaaaaah!” Aksa kesal sendiri dengan dirinya. “Kenapa sih gue bisa gegabah kayak begitu!” Aksa melampiaskan kemarahannya dengan memukul yang ada di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN