Hal Tak Terduga

1148 Kata
Esok hari, setelah perdebatan dengan Mamanya, Aksa memberanikan turun ke bawah untuk sarapan bersama Mama dan Papanya. Hati Aksa serasa sangat berat untuk mendengar keputusan dari Mamanya. Tetapi, apapun itu, Mama Aksa adalah prioritas. “Pagi Ma, Pa,” sapa Aksa kepada Mama dan Papanya yang sudah lebih dulu berada di meja makan. “Pagi, Sa!” Hanya Papa Aksa yang menjawab sapaan dari anaknya. “Selamat makan Pa, Ma,” Aksa kembali mencoba berbicara. Tetapi Mamanya masih diam saja. “Mama mau makan apa? Biar Aksa ambilin?” Aksa menawarkan makanan untuk Mamanya. “Enggak,” Mama Aksa menolak tawaran dari Aksa. Aksa dan Papanya langsung bertatapan. Papanya memberi kode ke Aksa untuk bersabar, karena Mamanya butuh waktu. Saat Aksa mau pergi dari meja makan, Mamanya memanggil dan menahan Aksa agar tetap di meja makan. “Ada yang ingin Mama bicarakan,” ucap Mama Aksa. Aksa kembali duduk di ruang makan, siap mendengarkan pembicaraan Mamanya. “Mama dan Papa sudah bicara semalam. Ini semua karena Papa kamu, kalau bukan karena Papa, Mama nggak mau mengizinkan kamu untuk membatalkan study kamu di Amerika. Karena itu impian Mama dan Papa sejak dulu,” Mama Aksa berhenti bicara karena masih sedih sekali Aksa membatalkan studynya di Amerika. “Biar Papa yang jelasin ya, Ma,” Papa Aksa mengambil alih pembicaraan di meja makan. “Aksa, mungkin tidak semudah itu melepaskan impian Mama dan Papa begitu saja. Tapi, Mama dan Papa memang tidak seharusnya mengekang. Mama dan Papa hanya bisa support dan mendampingi kamu. Kali ini, Mama dan Papa mau memberikan kesempatan untuk kamu memilih masa depan kamu sendiri,” Papa Aksa mengakhiri pembicaraannya itu. “Haaaah? Ini serius Ma, Pa?” Aksa senang sekali mendengar jawaban dari Mama dan Papanya. Papanya mengangguk sambil memberikan senyuman agar Aksa tenang mendengar jawabannya. “Mama dan Papa nggak terpaksa, kan?” Aksa meyakinkan Mama dan Papanya lagi. “Mama terpaksa,” jawab Mama Aksa singkat. “Ma....” Papa Aksa sangat lembut dan sabar menghadapi Mama Aksa yang terkadang ingin sesuatu untuk anaknya. Bijaksananya Papa Aksa membuat keluarga Aksa menjadi lengkap dan diinginkan oleh keluarga lain. “Maaa, Pa, makasih ya,” Aksa berdiri memeluk Mamanya dan lanjut memeluk Papanya. “Makasih banget sudah percaya sama Aksa. Aksa janji akan membuat Papa dan Mama bangga dengan Aksa. Aksa akan berusaha semaksimal mungkin. Walaupun kuliah di Indonesia, Aksa yakin Aksa bisa sukses,” Aksa berjanji di depan Mama dan Papanya. “Kuliah yang rajin, ya. Semangat terus, kejar cita-cita kamu,” Papa Aksa menimpali. “Jangan pikirkan cinta yang belum tentu memilih kamu,” Mama Aksa mulai membahas soal Kalla. “Hmmmm, Mama tenang saja. Aksa pasti akan bikin Mama bangga dengan Aksa,” Aksa kembali memeluk Mamanya. “Aksa ke kamar dulu ya, Ma, Pa. Aksa mau siap-siap untuk daftar kuliah di kampus yang sudah Aksa pilih,” Aksa sangat bersemangat. Akhirnya, Aksa bisa bernapas lega. Setelah penantian semalam, kini Aksa bisa tersenyum lebar. Mama dan Papanya memberikan kesempatan untuk Aksa kuliah di Indonesia. Aksa sangat senang, selain bisa menjaga Mamanya, Aksa juga berpikir bisa melindungi Kalla seperti saat SMA dulu. “Akhirnyaaaaaa. Yesssss!” Aksa kegirangan ketika memasuki kamarnya. Aksa mempersiapkan berkas untuk mendaftar di kampus yang sudah dijanjikannya bersama Kalla dulu. Aksa tidak sabar memberikan kejutan untuk Kalla. Mungkin ini salah satu yang bisa membuat Kalla memaafkan Aksa dari kekecewaannya. “Semoga kejutan ini bisa membuat Kalla maafin gue,” gumam Aksa sembari menata semua berkas. Setelah menceritakan kejadian kemarin tentang Mama Aksa memberikan izin untuk kuliah di Indonesia, Aksa giliran mengintrogasi sahabatnya itu. Aksa penasaran, kenapa Kalla dan Meira tidak masuk ke rumahnya, namun memilih untuk pulang dan meninggalkan makanan di meja ruang tamu. “Jadi, Mama kamu marah sama aku?” tanya Kalla tiba-tiba kepada Aksa. “Marah kenapa?” Aksa malah tanya balik kepada Kalla. “Karena kamu nggak jadi kuliah di Amerika.” “Engga, Kal. Ini keinginan aku, bukan karena siapapun. Ini juga bukan salah kamu, jadi, kamu nggak perlu berpikiran kalau Mama aku marah sama kamu. Kamu tahu sendiri kan, Mama aku sayang banget sama kamu?” Aksa mencoba memberi alasan kepada Kalla jika memang Mamanya tidak marah dengan Kalla. “Tapi, Sa. Kemarin waktu gue sama Kalla ke rumah Lo, gue denger nyokap Lo lagi marah-marah.  Dan itu bawa-bawa Kalla,” Meira membuka pernyataan yang sudah terjadi. “Kalian berdua denger?” Raut wajah Aksa berubah menjadi khawatir. “Iya, denger,” Kalla menjawab dengan singkat lalu meninggalkan Aksa dan Meira. “Kal, Kallaaa!” Aksa mengejar Kalla. “Ini berdua kenapa sih, malah pada kejar-kejaran kayak anak SD saja,” Meira kesal ditinggal sendirian. Kalla meninggalkan Aksa karena merasa tersudutkan. Kalla tidak berbuat apapun, tetapi bisa sampai dibenci oleh Mama Aksa yang dulunya sangat menyayangi Kalla. Sekarang seolah semua orang menyalahkan keberadaan Kalla. Padahal, Kalla tidak melakukan apapun. “Brak!” Kalla menabrak seseorang di depannya sampai Kalla tersungkur dan hampir jatuh dari tangga. Untung saja Gibran sigap menangkap badan Kalla, akhirnya Kalla tidak jadi jatuh. “Kamu kenapa sih? Kok bisa nggak lihat ada tangga di depan kamu. Bahaya, Kal!” Gibran kesal dengan Kalla yang tidak hati-hati. “Huhhhhh,”Kalla lega karena Gibran menolongnya sebelum Kalla menggelinding jatuh ke bawah tangga. “Makasih, Kak,” Kalla mengucapkan terima kasih kepada Gibran dan meninggalkan Gibran begitu saja. “Heiii,” Gibran menahan tangan Kalla. “Kenapa?” Gibran kembali menanyakan keadaan Kalla. Kalla belum sempat menjawab, Aksa sudah datang. Aksa melihat Gibran memegang tangan Kalla. “Ada apa ini?” Gibran langsung bertanya dengan Aksa yang sudah ada di depannya. “Bukan urusan Lo!” jawaban Aksa sangat sinis. “Kalla hampir celaka karena menghindari Lo, makanya gue tanya ada apa. Gue juga nggak mau ngurusin hidup Lo!” Gibran membalas jawaban Aksa dengan lebih sinis. Gibran mengajak pergi Kalla dari hadapan Aksa tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Aksa. “Ehhh mau kemana lo? Gue mau ngomong sama Kalla!” Aksa melarang Gibran membawa Kalla pergi. “Kalla nggak mau ngomong sama lo. Buktinya dia menghindar dari Lo!” Gibran langsung pergi saja dengan Kalla. Kalla juga tidak menimpali apapun. “Kak, aku mau masuk kelas,” Kalla melepaskan tangan Gibran dan pamit ingin masuk ke kelas. “Kenapa lagi sama dia?” “Dia siapa?” Kalla bingung dengan pertanyaan Gibran. “Tadi?” “Nggak ada apa-apa kok,” jawab Kalla, lalu Kalla pergi masuk ke kelasnya. ~ “Gibran!” Suara Natasha terdengar oleh Gibran, Gibran pun menoleh ke belakang menghampiri Natasha. “Iya, kenapa?” Gibran jongkok di depan kursi roda Natasha. “Cowok yang tadi sama Kalla itu nggak ikut ospek, kan?” Natasha membicarakan Aksa. “Kok Lo tahu?” “Gue yang punya ini kampus, jadi, gue tahu semuanya,” jawab Natasha sombong. “Dorong gue!” Natasha meminta Gibran mendorong Natasha. “Kemana?” “Rapat,” Natasha ingin mengadakan Rapat Bem dadakan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN