Takut

2330 Kata
Ruang BEM tertutup rapat, sebelumnya para pengurus BEM berbondong-bondong masuk ke ruangan untuk melakukan rapat dadakan yang diadakan oleh Natasha. Dari luar terlihat sepi, padahal di dalam mereka sedang memperdebatkan argumen mereka masing-masing. Untung saja, ketua mereka sangat bijaksana saat berada di organisasi. Semua kesalahpahaman, keributan, dan perbedaan pendapat bisa Gibran selesaikan dengan bijaksana. Setelah rapat selesai, Gibran dan Natasha pergi ke salah satu kelas di kampus. Gibran dan Natasha mencari seorang mahasiswa baru yang akan dibawa ke ruang dosen. “Kayaknya anak-anak BEM lagi pada sibuk banget ya, Kal,” ucap Meira ketika melihat ke arah ruangan BEM. Kalla tidak menjawab ucapan dari Meira, Kalla memperhatikan ruangannya, membayangkan jika Gibran tiba-tiba saja keluar dari ruangan. Namun, sayangnya sudah beberapa saat memperhatikan ruangan BEM Gibran tidak juga keluar dari ruangan. Kalla dan Meira melanjutkan jalannya menuju ke kantin, tetapi, saat Kalla menoleh ke arah ruangan BEM lagi, Kalla melihat Gibran sedang berjalan dengan Aksa. Kalla sangat panik melihat keduanya jalan bersama. Kalla bergegas menghampiri Gibran dan Aksa. Kalla tidak peduli dengan keadaan sekitar, Kalla berlari karena tidak ingin Gibran dan Aksa ribut di kampus. “Kal, Lo mau ngapain?” Meira panik sekaligus terkejut melihat Kalla yang tiba-tiba saja berlari ke arah Gibran dan Aksa. Gibran dari jauh melihat Kalla yang berlari ke arahnya, Gibran segera menghalangi Kalla. “Awassss!” Gibran menghalangi Kalla menabrak kursi roda Natasha. Natasha jatuh miring ke kanan karena menghindari dari Kalla. “Awwwwww,” Natasha mengeluh kesakitan, badannya tertimpa kursi rodanya. “Haaaahh, kak Natasha,” Kalla panik melihat Natasha jatuh karena menghindar dari Kalla. “Lo!” Natasha berteriak kesal kepada Kalla. Natsha reflek berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Kalla, Gibran, Aska, dan beberapa anak yang ada di sekitarnya terkejut melihat Natasha ternyata bisa berdiri sendiri. “Lo kok bisa berdiri?” Gibran langsung menembak pertanyaan kepada Natasha. “Eeeeeee...,” Natasha bingung harus menjawab apa. Natasha malu namun Natasha juga kesal dengan Kalla karena sudah membuat Natasha jatuh bersama kursi rodanya. “Lo bohong, Nat?” Gibran menyerang Natasha dengan pertanyaan lagi. “Engga kok engga!” Natasha membela diri. “Terus ini kenapa Lo bisa berdiri sendiri? Kenapa lo selama ini duduk di kursi roda? Selama ini ternyata Lo baik-baik saja?” Gibran mulai emosi dengan sikap Natasha. “Gue bisa jelasin,!” Natasha mau membela diri lagi kepada Gibran. “Nanti saja, masih ada urusan yang lebih penting daripada urusan pribadi kita.” Gibran pergi mengajak Aksa. Natasha tidak ada yang membantu, Gibran dan rekan lainnya sudah pergi meninggalkan Natasha sendiri bersama kursi rodanya. Kalla membenarkan posisi kursi roda Natasha. “Ada yang bisa aku bantu lagi?” Tanya Kalla sebelum meninggalkan Natasha sendirian. “Kenapa sih Lo selalu bikin masalah? Selalu bikin ulah? Bisa nggak Lo di kampus fokus saja kuliah, masuk kelas, pulang, nggak usah bikin banyak ulah. Gue yang jadi kena batunya!” Natasha marah-marah kepada Kalla. Natasha berniat pergi sendiri mendorong kursi rodanya. Namun, ternyata Natasha masih benar-benar kesulitan untuk berjalan sendiri seperti biasanya. Akhirnya, Kalla tidak tega melihat Natasha kesulitan berjalan. Kalla tanpa basa-basi langsung membantu Natasha berjalan. Meskipun ada perasaan kecewa di hati Kalla. Setelah sampai di depan kantor dosen, Kalla meninggalkan Natasha tanpa sepatah katapun. Sore hari, setelah selesai semua kelas hari itu, Kalla tidak langsung pulang. Kalla masih menunggu Gibran dan Aksa keluar. Kalla masih khawatir jika Gibran dan Aksa ribut di kampus.  Sambil menunggu, Kalla berkeliling kampus untuk mencari ide design barunya. “Kamu ngapain di sini sendirian sampai sore?” Gibran datang menghampiri Kalla yang sedang sibuk memotret tanaman-tanaman yang ada di sekitar kampus. “Eeeee, ini,” Kalla tidak menyelesaikan jawabannya. “Ini apa?” “Lagi cari inspirasi buat design baru,” Kalla menjawab dengan gugup. “Ohh,” Gibran balik badan mau kembali ke ruangan BEM untuk mengambil barangnya. “Kak,” panggil Kalla dengan nada ragu. Gibran membalikkan badan, lalu menaikkan alis. “Iya?” Suara Gibran berat namun lembut. “Ada yang ingin aku tanyakan,” Kalla sesekali menunduk karena gugup. Gibran menarik Kalla ke pelukannya, karena ada ranting yang tiba-tiba jatuh. Kalla menelan ludah, sekaligus salting berada di pelukan Gibran. “Kamu bisa nggak sih cari inspirasi di tempat yang aman saja?” Suara Gibran sedikit meninggi karena khawatir. “Sorry, kak,” Kalla menjawab sangat gugup. “Kita pulang saja, aku anter kamu ke tempat yang lebih bisa menginspirasi kamu,” Gibran melepaskan pelukannya lalu menggandeng Kalla pergi. Sembari jalan menuju ke ruangan BEM, Gibran memastikan Kalla baik-baik saja tidak ada yang terluka. Sebenarnya, Aksa juga sering melakukan hal yang sama. Selalu melindungi Kalla, menjaga Kalla, dan selalu memastikan Kalla baik-baik saja. Tetapi, entah kenapa Kalla merasa ada perasaan yang berbeda ketika Gibran melakukannya kepada Kalla. Kalla tersenyum ke Gibran menenangkan khawatirnya Gibran juga memberikan isyarat jika Kalla baik-baik saja. Gibran menggandeng tangan Kalla di kampus ke ruang BEM, banyak pengurus BEM yang melihatnya, namun, Gibran tidak mempedulikan. Natasha termasuk salah satu yang melihat Gibran dengan Kalla bergandengan. Natasha sangat heran dengan Gibran, kenapa sekarang Gibran bisa sebucin itu dengan perempuan. Padahal sebelumnya Gibran tidak pernah menggubris perempuan yang mendekatinya bahkan ngejar-ngejar Gibran. Berbeda dengan Kalla, bisa sampai membuat Gibran bucin dan tidak peduli dengan keadaan. “Mau kemana Lo?” Tanya Natasha mencegah Gibran keluar dari ruangan BEM. “Mau pulang,” Gibran menjawab singkat tanpa ada basa-basi seperti biasa. “Yang lain belum pulang, Lo sebagai ketua bagaimana sih?” Natasha kesal karena Gibran meninggalkan anggotanya begitu saja. “Rapat kan sudah selesaI, Nat. Gue juga sudah bubarin dari tadi, jadi, masalah mereka mau pulang atau enggak, bukan urusan gue,” Gibran menuju ke tempat Kalla menunggunya. “Hihhhhh, kesel banget gue sama Gibran. Sekarang jadi bucin banget sama junior!” Natasha marah-marah sendiri. “Ayok!” Gibran kembali menggandeng tangan Kalla dan mengajaknya pergi dari ruangan BEM. “Tapi, yang lain belum pulang, kak,” Kalla menarik tangan Gibran, melihat sekelilingnya masih banyak pengurus BEM yang belum pulang. “Rapatnya sudah selesai, masak aku harus tunggu mereka pulang dulu sih?” Gibran kesal karena pertanyaan Kalla sama dengan Natasha. “Nggak akan ada yang marah?” Kalla kembali meyakinkan Gibran untuk pulang bersama. “Ada. Paling juga Natasha,” Gibran menarik tangan Kalla untuk segera berjalan kembali. “Terus?” “Terus apanya sih?” “Kalau Kak Natasha marah bagaimana?” Kalla mulai kembali merasa tidak enak. “Kal, rapat sudah bubar dari tadi. Terserah anak-anak dong kalau masih mau nongkrong di kampus, yang penting aku sudah selesai tanggung jawabnya. Mereka juga ngobrol doang,” Gibran menjelaskan kepada Kalla supaya merasa biasa saja. “Ohhh,” Kalla mencoba mengerti jawaban Gibran. Di parkiran mobil, Kalla bertemu dengan Aksa. Aksa menghampiri Kalla, namun, Kalla justru ingin menghindar dari Aksa. Kalla tidak ingin ada keributan seperti yang terjadi beberapa saat lalu. Rasa bersalah Kalla kepada Gibran belum juga sembuh, Kalla tidak ingin menambahnya lagi. “Kal, tunggu!” Aksa menarik tangan Kalla saat Kalla mau masuk ke mobil Gibran. Gibran belum membukakan pintu untuk Kalla karena sedang meletakkan barang-barangnya di bagian belakang mobil. “Apa?” Aksa bertanya dengan Aksa dengan sangat gugup. “Ada banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu,” Aksa seperti memohon kepada Kalla supaya mendengarkannya. “Mau apa lagi Lo?” Gibran langsung mendekati Kalla dan Aksa. “Gue ada urusan sama Kalla,” Aksa memaksa Kalla untk berbicara dengannya. “Kallanya nggak mau kan? Jangan dipaksa, dong!” Gibran memperingatkan Aksa agar tidak memaksa Kalla untuk bicara dengannya. “Kamu mau kan?” Aksa bertanya dengan nada setengah memaksa. Kalla sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kalla. Kalla masih bingung dengan semua yang terjadi diantara Kalla dan Aksa. Sekarang juga tiba-tiba Mama Aksa jadi menyalahkan Kalla karena Aksa menolak untuk kuliah di luar negeri, padahal Kalla tidak pernah sekalipun menghasut Aksa demikian. Kalla selalu mendukung Aksa apapun itu keputusannya. Aksa juga semakin emosian, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan bertengkar. Kalla heran dengan sikap Aksa sekarang. “Kenapa sih Kal semenjak ada dia, kamu nggak pernah mau ketemu sama aku, ngobrol sama aku, bahkan kamu selalu menghindar dari aku. Apa selama ini hubungan kita ini nggak ada artinya buat kamu? Dia baru saja kamu kenal, Kal. Sedangkan aku? Aku sudah belasan tahun sama kamu, dan kamu sekarang ninggalin aku begitu saja demi orang baru?” Aksa mulai emosi dengan sikap Kalla yang selalu menghindari Aksa. “Aksa,” Kalla mencoba menghentikan Aksa. “Apa? Memang bener kan apa yang aku bicarakan ini?” “Lo bisa nggak, nggak usah pakai emosi ngomongnya?” Gibran tidak suka melihat Aksa marah-marah dengan Kalla di depannya. “Diem lo! Nggak usah ikut campur!” Aksa mulai emosi dan mendorong Gibran. “Aksa!” Kalla berteriak dan menjauhkan Aksa dari Gibran. “Kamu kenapa sih jadi emosian kayak gini?” “Mendingan kamu sekarang pulang dulu, kita bicara lain waktu,” Kalla menyuruh Aksa pulang, lalu, Kalla memilih untuk masuk ke mobil Gibran. Aksa sangat kecewa dengan sikap Kalla. Kenapa semuanya jadi berubah semenjak Kalla mengenal Gibran. “Hahhhhhh!” Aksa berteriak melampiaskan emosinya. “Kak, maafin Aksa ya tadi,” Kalla minta maaf karena Aksa sudah melampiaskan emosinya ke Gibran. “Kenapa sih teman kamu itu?” Gibran heran dengan Aksa yang selalu emosi dengannya. “Maafin Aksa ya, Kak. Aksa Cuma emosi tadi, tapi, Aksa itu aslinya baik, nggak seperti itu,” Kalla mencoba membela Aksa di depan Gibran karena tidak mau jika Gibran tambah benci dengan Aksa. ~ Gibran tidak menanggapi pembelaan Kalla terhadap Aksa. Cukup mendengarkan apa yang Kalla bicarakan, agar masalahnya tidak semakin panjang. Diperjalanan, Kalla lebih banyak diam. Gibran juga tidak banyak bicara, supaya Kalla merasa nyaman dan tidak merasa canggung. Gibran membiarkan Kalla diam, agar moodnya membaik. “Kayaknya nggak bisa hari ini, deh,” Gibran membuka obrolan diantara mereka. “Hah, apanya, Kak?” Kalla terkejut dengan ucapan Gibran itu. “Yaudah besok saja, ya,” Gibran menambahkan ucapannya dan jutsru membuat Kalla semakin bingung. “Makan, yuk!” Gibran mengalihkan pembicaraannya, mengajak Kalla makan malam di restoran yang sekarang sudah ada di depan mata mereka. “Kok ke sini?” Kalla kebingungan. “Memangnya mau kemana lagi?” Kalla hanya tersenyum menampilkan giginya yang rapi dan bersih. Setelah itu mengiyakan ajakan Gibran untuk makan malam bersama di restoran. Saat Kalla mau turun dari mobil, Gibran menahan Kalla turun dari mobil. “Kenapa, kak?” Kalla bingung kenapa Gibran malah menahannya di dalam mobil. “Pakai jaket ini, ya. Dress kamu kan pendek lengannya, ini sudah malam,” Gibran memberikan jaket jeans nya kepada Kalla. Gibran tahu Kalla merasa kedinginan, namun menahannya. Kalla tersenyum sambil memakai jaket Gibran. “Makasih, ya,” Sambil tersenyum manis, Kalla berterima kasih atas perhatian kecil Gibran. Sampai di dalam restoran, ternyata sangat ramai. Kalla dan Gibran hampir saja tidak mendapatkan tempat duduk untuk mereka.   “Tempatnya rame banget, aku gandeng tangan kamu nggak apa-apa, kan?” Gibran meminta izin untuk menggandeng tangan Kalla. Lalu Kalla menggandeng tangan Gibran terlebih dahulu, setelah itu Gibran melanjutkan mencari meja untuk mereka makan. “Kak, di sana!” Kalla menunjukkan tempat duduk yang masih kosong. Kalla dan Gibran seperti sepasang kekasih pada umumnya. Saling menggenggam tangan, makan malam bersama, seperti lainnya. “Kalla?” Tiba-tiba saja ada yang menyapa Kalla, suaranya tidak asing bagi Kalla. Kalla menoleh ke belakang. “Om?” Ternyata sapaan itu dari Papa Aksa. “Tante?” Kalla melepaskan tangannya dengan Gibran sejenak, lalu, menyalami Mama dan Papa Aksa. Papa Aksa masih welcome dengan Kalla, namun, berbeda dengan Mamanya. Mama Aksa terlihat seperti kecewa dengan Kalla. “Tante apa kabar?” Kalla mencoba baik-baik saja setelah tangannya ditolak oleh Mama Aksa. Mama Aksa sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Kalla. Hanya diam dan menoleh ke arah lain. Papa Aksa paham, pasti karena masalah Aksa yang gagal untuk study di Amerika. “Tante sama Om baik, kok. Kamu apa kabar? Kok nggak pernah main ke rumah sih,” Papa Aksa basa-basi dengan Kalla. “Syukur, deh,” ucapan Kalla ketika mendengar jawaban kabar dari Papa Aksa. “Sibuk ya?” Celetuk Mama Aksa. “Sibuk dengan pacar baru,” Mama Aksa menambahkan ucapannya. Ucapan Mama Aksa itu menambah kecanggungan antara Kalla dan Mama Aksa. “Aku belum punya pacar tante,” Kalla menjawab dengan suara gemetar karena takut salah bicara. “Duh, kasihan kamu, nak. Pasti nantinya kayak anak tante, dibuang ketika sudah menemukan yang baru,” ucap Mama Aksa kepada Gibran. “Mama,” Papa Aksa melarang istrinya untuk melanjutkan pembicaraannya. “Tante,” Kalla mencoba untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi, tapi, Mama Aksa malah memilih untuk pergi dan mencari restoran lain. “Mama nggak mau makan di sini, Pa. Mau cari restoran lain,” Mama Aksa memaksa untuk makan malam di restoran lain. “Kasihan nanti kalau Aksa ke sini pasti ketemu dengan mereka,” ucapnya kembali. “Iya deh, kita cari restoran yang lebih sepi, ya,” Papa Aksa menutupi kemarahan istrinya itu. “Kalla, Om sama tante pamit dulu, ya. Lain kali kita makan bareng lagi, ya,” Papa dan Mama Aksa pergi dari restoran. Gibran menatap Kalla, seolah bertanya tentang ada apa yang terjadi. Kalla mengalihkan tatapannya dari Gibran. Menghindari Gibran melihat kesedihannya di raut wajahnya. Kalla sedih sekali dengan sikap Mama Aksa. Sekarang sikapnya sangat dingin kepada Kalla, padahal, Kalla merasa tidak pernah melakukan apapun yang membuat Mama Aksa kecewa. Kini, apapun yang Kalla lakukan seperti mengundang kemarahan untuk orang lain. “Heiiii, kenapa?” Gibran menarik Kalla untuk menatapnya. Kalla menggeleng dan masih diam saja. “Oke oke, kita duduk dulu saja, ya,” Gibran tidak banyak bertanya seperti biasa, sebelum Kalla tenang dan siap menjelaskan perasaannya. “Kamu tunggu di sini, ya. Aku pesan makanan sekalian mau ke toilet,” Pamit Gibran kepada Kalla. “Takut banget jadi dewasa. Kehilangan kenyamanan yang dulu ada, mencari kebahagiaan yang entah dimana, menghadapi masalah yang kadang bukan kita yang memulai. Takut banget jadi dewasa, terkadang nggak salah tapi harus mengalah, pahit tapi tidak boleh mengeluh sakit. Ahhhh,” Kalla mengeluh dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN