Salah Paham

2194 Kata
Aksa sudah memutuskan untuk tetap berada di Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di sini. Meskipun Mamanya sangat kecewa dengan keputusan yang Aksa ambil, namun, Aksa tetap bersikukuh untuk berada di Indonesia. Hati Aksa ada di Indonesia, tidak mungkin Aksa bisa menjalani harinya dengan baik di Amerika. Terlebih keadaan Mama Aksa yang sekarang tidak bisa jalan karena jatuh dari tangga. Aksa ingin menemani Mamanya sampai Mamanya bisa jalan kembali. Papa Aksa mendukung penuh apapun yang menjadi keputusan Aksa, asalkan itu tidak merugikan orang lain. Dari permasalahan itu, timbullah rasa kekecewaan Mama Aksa kepada Kalla. Mama Aksa yang dulunya sangat menyayangi Kalla, kini berubah menjadi benci. Beliau sangat kecewa karena menurutunya, Kalla yang telah membuat Aksa mengubah keputusannya. Padahal Kalla sama sekali tidak tahu tentang keputusan Aksa. Kalla semakin merasa tidak memiliki siapapun. Dulu, jika Kalla butuh bercerita tentang masalah wanita, Mama Aksa selalu siap untuk Kalla. Kalla juga sudah dianggap sebagai anak perempuan oleh Mama Aksa. Namun, semenjak kejadian ini, semuanya hilang. Seolah tidak akan lagi ada titik cerah bagi Kalla merebut hati Mama Aksa kembali. Kini, Aksa sudah menepati janjinya untuk kuliah di kampus yang sama dengan Kalla. Hal itu sudah tidak penting lagi bagi Kalla. Karena semua ini hanya mengundang masalah baru dalam kehidupan Kalla. Semenjak rencana keberangkatan Aksa ke Amerika sikap Aksa juga berbeda. Aksa suka memaksakan kehendaknya, lebih gegabah, emosian, dan bertambah posesif dengan Kalla. Itu semua tidak cukup membuat Kalla menaruh hatinya kepada Aksa lebih dari seorang sahabat. Mungkin dari situ, Aksa mulai merasa cemburu dengan siapapun yang berada di dekat Kalla, termasuk Gibran. “Kal, pulang dari kampus ke cafe biasa, yuk! Gue kangen ini ngumpul bareng sama Lo sama Aksa,” Meira mengajak Kalla untuk nongkrong di cafe kesukaan mereka bersama Aksa. “Nanti?” Kalla memperjelas waktunya. “Iya, nanti,” Meira menekankan jawabannya. “Eemmmmm,” Kalla bingung karena sudah ada janji dengan Gibran. “Kenapa? Lo nggak bisa ya? Ada acara? Sama siapa?” Meira mencerca Kalla dengan banyak pertanyaan dan semakin membuat Kalla takut menjawab. “Eeeeee,” Kalla masih belum mau menjawab pertanyaan dari Meira. “Sudah jawab saja kenapa sih, Kal. Kayak sama siapa saja. Gue kan juga sahabat Lo. Hal kayak gini saja Lo nggak mau ngasih tahu gue,” Meira mulai bad mood dengan sikap Kalla. “Bukan begitu, Mei,” Kalla mencoba menjelaskan kepada Meira karena mulai ngambek. “Kal, jujur ya. Ada yang mau gue omongin sama Lo,” Meira mengalihkan pembicaraannya. “Hmmm? Apa?” Kalla terkejut karena tiba-tiba Miera berubah menjadi serius. “Kenapa sih, semenjak Lo kenal sama Kak Gibran, Lo lupa sama sahabat lo sendiri?” Meira langsung to the point dengan jawabannya. “Lupa? Sama siapa? Ini gue kan dari tadi sama Lo, Mei,” Kalla tidak terima. “Bukan, bukan gue!” Meira menolak jawaban Kalla. “Terus?” “Aksa,” Hening sejenak setelah Meira menyebutkan nama Aksa diobrolan mereka. “Ada apa sama Aksa?” Kalla malah balik tanya. “Lo nggak sadar apa? Lo sekarang ini seolah sudah buang Aksa, setelah Lo nemuin laki-laki baru,” Meira mulai sedikit menaikkan nada bicaranya. “Mei!” Kalla tidak terima dengan ucapan Meira. “Apa maksud kamu ngomong kayak begitu?” “Kal, Lo sudah belasan tahun sama Aksa. Bahkan Aksa jauh lebih mengenal Lo daripada gue. Dan sekarang Aksa sama sekali nggak pernah ada dalam pikiran dan hari-hari Lo. Aneh nggak sih? Nggak salah kan kalo gue ngomong Lo sudah buang Aksa saat Lo sudah nemuin orang baru?” “Aku nggak paham sama kamu deh. Kenapa tiba-tiba jadi bahas ini sih?” Kalla masih tidak terima dengan pembicaraan Meira. “Kall, udahlah jangan pura-pura nggak tahu. Gue tahu, Mama Aksa marah karena Aksa membatalkan kuliahnya di Amerika. Padahal, itu impian Mama dan Papa Aksa. Lo pikir Aksa ngelakuin itu demi dirinya sendiri? Enggak lah, itu demi lo!” Meira tambah emosi bicara dengan Kalla. “Nggak mungkin lah, Mei,” Kalla menjawab dengan singkat, Kalla juga menghindari kontak mata dengan Meira yang sudah mulai emosi. “Astagaaa, Lo itu bener-bener nggak peka banget, ya,” Meira kesal dengan Kalla karena tidak peka dengan keadaan. “Apaan sih, Mei. Kok kamu jadi bahas masalah ini?” Kalla masih saja tidak terima karena Meira tiba-tiba membahas masalah persahabatan mereka. “Gini ya Ayudya Kalla yang paling baik, cantik. Gue jelasin permasalahan yang bikin gue kesel sama Lo,” Meira menelan ludahnya sebentar sambil menahan emosinya. “Lo kan tahu semenjak rencana kuliah Aksa di Amerika, Aksa sudah ngungkapin perasaannya ke Lo. Perasaan itu lebih dari sahabat. Jadi, sikap Aksa yang selama ini Lo anggep beda itu karena Aksa cemburu Lo sudah ada Gibran. Bagaimana nggak cemburu sih, setiap hari Lo dianter jemput sama Gibran, Gibran yang selalu ada di samping lo, Gibran selalu nemenin Lo apapun itu masalahnya, dan sampai Gibran lebih tahu Lo yang sekarang daripada Aksa. Lo bayangin perasaan Aksa dong. Selama belasan tahun menunggu waktu buat ngungkapin perasaannya, sekarang, giliran sudah waktunya Lo malah kayak gini,” Meira memutus penjelasannya. “Kayak gini bagaimana?” “Lo malah ninggalin Aksa begitu saja. Nggak salah kalau Mamanya Aksa marah sama lo,” Meira mengakhiri penjelasannya. “Nggak salah kalau Mamanya Aksa marah sama aku? Maksud kamu ini semua salah aku?” “Nah itu Lo tahu!” Meira menyalahkan Kalla. “Mei, aku nggak tahu apa-apa soal keputusan Aksa nggak jadi kuliah di Amerika. Aku nggak pernah minta Aksa untuk tetap tinggal di sini demi aku. Aku juga nggak pernah melarang apapun yang mau Aksa lakuin, kalau itu untuk membahagiakan Mama dan Papanya aku pasti akan dukung,” Kalla sedih sekali mendengar obrolan Meira saat ini. Kalla dan Meira menepi di salah satu spot sepi yang ada di kampus. Mereka berdua berdebat tentang permasalahan yang terjadi dipersahabatan mereka. Meira mengungkapkan apa yang selama ini dipendam, terutama saat Kalla mulai masuk ke kampus. Persahabatan mereka menjadi lebih renggang. Meira sangat menyayangkan jika persahabatan yang terjalin sudah belasan tahun, renggang hanya karena masalah cowok. Meira ingin persahabatan mereka tetap kuat seperti dulu. “Mei, hak aku kan untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangan aku? Aku juga punya hak kan untuk memilih siapa laki-laki yang bisa masuk dalam kehidupan aku? Aku sahabat kalian, bukan boneka kalian yang bisa kalian atur kehidupannya. Aku juga punya perasaan. Aku nggak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapapun.  Jatuh cinta juga nggak bisa dipaksa, perasaan itu mengalir begitu saja, bukan karena paksaan,” Kalla membela diri. “Lo bukan nggak jatuh cinta sama Aksa. Lo hanya takut jatuh cinta, karena kalau kalian pacaran dan suatu saat putus, persahabatan kalian yang jadi taruhan. Iya kan?” Kalla tidak menjawab pertanyaan dari Meira. Seperti tidak ada kata yang bisa membantu dirinya membela diri dari Meira. “Iya karena persahabatan aku sama Aksa lebih penting daripada perasaan kita masing-masing,” Kalla masih mencoba untuk membela dirinya. “Lo salah, yang namanya sahabat itu saling mementingkan perasaan sahabatnya,” Meira berhasil membuat Kalla terdiam. “Gue bener kan? Apa yang gue omongin tadi nggak salah kan, Kal?” “Mei, apa salah kalau aku memilih pasangan aku sendiri tanpa ada embel-embel orang lain? Apa salah kalau aku gunain hak aku untuk memilih pasangan untuk aku sendiri?” Kalla tidak mau membenarkan omongan Meira. “Sahabat itu saling mengerti, memahami, bukan malah memaksakan kehendak satu sama lain,” Kini giliran Kalla yang membuat Miera diam seribu bahasa. Semenjak berteman beberapa tahun yang lalu, Meira dan Kalla sama sekali tidak pernah bertengkar besar. Paling hanya perdebatan kecil yang selesai saat itu juga. Kalla dan Meira saling mengerti dan memahami satu sama lain. Mereka saling mengisi, Kalla tidak pernah mengekang Meira untuk selalu ada untuk Kalla. Begitupun juga Meira, Meira akan senang jika Kalla bisa bersosialisai dengan banyak teman-temannya. Hanya saja, Meira lebih menjaga Kalla. Ini pertama kalinya Kalla dan Meira bertengkar.  Bisa dibilang perdebatan mereka ini cukup berat, karena belum pernah Meira seserius ini membahas sesuatu bersama Kalla. “Kalian ngapain sih di sini?” Aksa datang mendekati Kalla dan Meira. “Nih, urusin sahabat lo yang nggak peka,” Meira pergi meninggalkan Kalla dan Aksa yang baru saja datang. “Heiii Mei!” Aksa memanggil Meira, tapi Meira tidak menghiraukan Aksa. “Ada apa sih, Kal? Nggak biasanya kalian berantem kayak gini,” Aksa penasaran dengan kedua sahabatnya itu. “Enggak, Cuma salah paham saja,” Kalla menjawab, tapi matanya tidak menatap Aksa sama sekali. “Salah paham apa? Kenapa?” Aksa masih penasaran dengan apa yang terjadi. Kalla membalik badannya, menatap wajah Aksa dengan serius dan siap menanyakan pertanyaan yang ada di pikirannya. “Aksa, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi tolong, jawab jujur,” Kalla memohon kepada Aksa untuk menjawab dengan jujur. “Kenapa sih?” Aksa masih berusaha untuk biasa saja. “Apa alasan kamu untuk membatalkan study kamu di Amerika?” Aksa terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Kalla. “Kenapa kamu tanya soal itu?” “Jawab jujur,” Kalla kembali memohon kepada Aksa agar menjawab pertanyaannya dengan jujur. “Apa bener karena aku?” Kalla menatap mata Aksa sambil berkaca-kaca. Perasaan Kalla sangat campur aduk. Ada rasa bersalah kepada Mama Aksa karena sudah membuatnya harus mengubur impian anaknya kuliah di Amerika. Ada rasa marah kepada Aksa karena terlalu gegabah mengambil keputusan, dan juga ada rasa bersalah dengan Aksa karena selama ini Kalla tidak bisa membalas perasaan Aksa. “Kalau kamu salah satu alasannya, itu nggak salah kan?” Akhirnya Aksa menjawab setelah Kalla berulang kali memohon untuk Aksa menjawab jujur. “Aku?” Kalla mulai tidak bisa menahan air matanya. Semua rasa jadi satu dan keluar bersama butiran air matanya. “Kal,” Aksa merasa bersalah sudah membuat Kalla menangis. “Kenapa kamu melakukan ini, Aksa? Aku bukan orang yang penting buat kamu, aku Cuma orang lain buat kamu. Kenapa kamu gegabah sih? Kenapa bisa mengambil keputusan dengan alasan sepele seperti ini?” Kalla terus menyalahkan Aksa. “Nggak penting? Kata siapa kamu nggak penting buat aku? Kamu lebih penting daripada diri aku sendiri, Kal. Tapi sayangnya kamu nggak pernah mau tahu itu.” “Kamu nggak pernah mikirin apa imbas dari keegoisan kamu ini kan, Sa?” Aksa belum sempat menjawab pertanyaan dari Kalla, namun, Gibran lebih dulu menemukan mereka berdua. Gibran ingin mengajak Aksa untuk menyelesaikan urusan mereka. “Aksa,” Gibran memanggil Aksa dengan suara khasnya. Aksa dan Kalla menengok ke arah Gibran. Kalla terkejut dengan keberadaan Aksa. Kalla takut jika akan ada pertengkaran lagi diantara mereka. “Ikut gue sekarang!” Gibran menyuruh Aksa untuk mengikutinya. “Tunggu!” Kalla takut kan terjadi apa-apa dengan mereka berdua. “Kalian berdua mau kemana? Ada apa ini, kak?” Kalla panik. “Tenang saja, Kal. Nggak akan ada yang berantem lagi,” jawab Gibran menenangkan Kalla. “Ohhh, jadi, yang bikin muka Lo babak belur itu dia?” Natasha sudah ada diantara Gibran, Kalla, dan Aksa. “Bener-bener ya. Sebelum masuk ke kampus Lo sudah bikin ketua BEM babak belur, dan sekarang Lo masuk nggak mengikuti ospek sama sekali?” Natasha tambah kesal dengan Aksa. “Gue nggak ikut ospek karena memang gue baru saja masuk di kampus. Urusan gue bukan sama kalian, tapi sama dosen di sini. Gue diterima di sini, dan dipersilakan untuk masuk. Jadi kalian nggak bisa berbuat apa-apa,” Aksa membela diri dari Natasha. “Nggak bisa. Gue bisa ngelakuin apapun di kampus ini,” ucap Natasha menantang Aksa. “Sudah sudah, bukan gini cara menyelesaikan masalah. Lo kan laki-laki, ikutin saja apa prosedurnya,” Gibran menghentikan perdebatan Aksa dan Natasha. “Kalian nggak akan berantem lagi kan?” Kalla memastikan Aksa dan Gibran tidak akan berantem lagi sebelum mereka berdua pergi. “Tenang saja, Kal. Ada gue yang bakal jagain mereka berdua. Gue juga nggak akan tinggal diam, kalau sampai anak baru ini bikin celaka Gibran lagi,” Natasha menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Kalla untuk Gibran dan Aksa. Gibran, Aksa, dan Natasha meninggalkan Kalla sendirian untuk menyelesaikan masalah mereka. Kalla kembali duduk dan menikmati waktu sendirinya. Meski di dalam hati Kalla banyak perasaan aneh yang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Seharian ini hari Kalla dipenuhi dengan perdebatan. Pagi-pagi sudah dimulai dengan perdebatan dengan Meira. Setelah itu dilanjutkan dengan perdebatan dan kesalah pahaman antara Kalla dan Aksa. Semua dihari yang sama, diwaktu yang hampir sama pula. Salah paham ternyata akan berbuntut panjang dalam hubungan pertemanannya dengan Meira dan juga Aksa. Kini, Meria ngambek. Tidak mau bicara dengan Kalla, diam seharian, tidak mau mendekati Kalla, pun ketika Kalla mendekati Meira, Meira akan menjauh begitu saja. “Salah paham itu memang permulaan sebuah pertengkaran. Apapaun hubungan itu, akan sama ujungnya jika berawal dari salah paham,” desis Kalla saat kelas sudah tinggal Kalla sendirian. Kalla memasukkan buku gambarnya, buku sketsa, dan semua perlengkapan kuliahnya. Setelah itu, Kalla memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menghindari semua keributan yang ada di kampus. Kalla ingin merasakan sedikit ketenangan. Semoga saja, rumahnya menjadi tempat yang tepat. “Kall,” Gibran dan Aksa datang bersamaan ke kalas Kalla, mereka juga sama-sama bertujuan untuk menghampiri Kalla. Kalla melongo melihat kedatangan Gibran dan Aksa. Tidak ada angin apapun, mereka berdua bisa kompak datang bersamaan ke kelas Kalla. “Ada apa?” Kalla memberikan pertanyaan untuk Aksa sekaligus Gibran. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN