Kalla memilih untuk pulang ke rumah. Tidak memilih bersama Gibran maupun Aksa. Kalla akan melampiaskan semuanya dengan menggambar design baru di rumahnya atau sekedar mencurahkan tulisannya ke buku diary berkedok puisi. Kalla juga memilih pulang sendiri, tidak bergantung dengan kedua laki-laki yang kini secara tidak langsung sedang memperebutkan hatinya. Menikmati kesendiriannya yang lebih tenang dan nyaman.
Sampai di rumah, Kalla tidak menemukan ada keributan di sana. Ternyata rumah Kalla memang tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Kalla di sana. Kalla bergegas masuk ke kamarnya. Mandi, membasahi rambut dengan shampoo yang harumnya menyegarkan, lalu menyiramnya dengan air hangat, membuat Kalla lebih tenang. Setelah itu, piyama sudah menghiasi tubuh Kalla. Meja belajar tujuannya di malam itu. Membuka buku sketsanya, memutar lagu kesukaannya, dan membawa secangkir coklat hangat ditemani brownis kesukaan. Malam ini terasa malam yang tenang untuk Kalla. Tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk pikirannya sendiri. Kalla hanya ingin menggambar dan melampiaskan semuanya di meja belajarnya.
Mencari inspirasi di internet, membuat Kalla terlena. Banyak sekali inspirasi yang menggugah semangat Kalla membuat banyak design baju. Mulai dari gaun pernikahan, kebaya, hingga dress cantik dimusim semi. Tangan mungilnya sudah mulai menjelajahi buku sketsa, membuat lekukan-lekukan gaun, memberikan detail yang cantik, serta menambahkan ornamen sebagai pelengkap gaun buatannya. Sesekali Kalla ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu yang diputarnya. Terkadang juga tak lupa menyeruput coklat hangat yang sudah tidak hangat lagi.
“Ahhhh sepertinya cukup,” Kalla mengomentari hasil karyanya sendiri.
Ketika sudah berpacu dengan buku sketsanya, Kalla seringkali lupa dengan semua hal. Makan, istirahat, dan lainnya. Malam itu memang Kalla belum makan sama sekali, hanya menyantap sisa brownis yang kemarin sempat Kalla beli. Perutnya terasa lapar, namun, tangan dan pikirannya masih tertuju di buku sketsanya. Sepeti tidak ingin berpaling dari buku sketsa kesayangannya.
“Lebih pendek mungkin lebih cantik kali, ya,” Kalla kembali mengomentari dress musim semi yang sedang digarapnya.
“Hmmmmmm, oke,” Gumam Kalla sambil menganggukan kepala.
Sudah ada 3 design baru di buku sketsanya, namun, Kalla masih saja belum puas. Kalla masih memeriksa semua detail dari designya. Dari bentuknya, panjang, ornamen, hingga semua detail yang ada. Malam ini Kalla berhasil membuat design gaun pernikahan, kebaya, dan gaun musim semi yang sangat manis. Kalla tidak sabar bisa membuat desainnya menjadi kenyataan.
“Huhhhhh,” Kalla akhirnya sedikit mengeluh lelah karena sudah beberapa jam Kalla menunduk dan fokus menggambar.
Setelah semua Kalla rasa cukup, Kalla menutup buku sketsanya, meletakkan kembali dan menatanya dengan rapi. Kalla ke luar kamar untuk mengambil air putih. Kalla minum air putih sambil melihat keadaan di luar sembari menghirup udara segar. Angin datang seolah menyambut Kalla yang baru saja selesai dari kesibukannya. Kalla memejamkan matanya, merasakan hembusan angin agar hati dan pikirannya lebih tenang. Ketika Kalla membuka mata, ternyata di depan rumah Kalla sudah menunggu Gibran. Kalla mengira itu hanya halusinasinya saja, namun, setelah Kalla mengucek matanya beberapa kali, Gibran masih tetap berada di depan rumahnya.
“Kak Gibran?” ucap Kalla tidak menyangka sama sekali. Kalla menutup gorden kamarnya, lalu segera mencari keberadaan ponselnya. Ternyata sudah ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Gibran.
Kalla langsung turun ke bawah untuk menemui Gibran.
“Kak Gibran apa malam-malam di sini?” Tanya Kalla tidak habis pikir.
“Aku khawatir saja sama kamu, daritadi nggak bukain pintu, nggak jawab telepon aku, dan nggak bales pesan aku. Makanya aku tunggu kamu di sini. Aku tahu kamu pasti akan buka jendela kamu,” jawab Gibran tanpa marah sedikitpun.
“Astaga, Kak. Maafin aku, aku sama sekali nggak dengar apa-apa dari tadi,” Kalla merasa bersalah dengan Gibran.
“It’s oke,” Gibran tidak marah sama sekali dengan Kalla.
“Ada apa Kak Gibran ke sini?”
“Tadinya aku mau nganterin makanan buat kamu, tapi, sudah dari tadi. Pasti makanannya sudah nggak dingin dan nggak enak lagi,” Gibran menjelaskan niat kedatangannya ke rumah Kalla.
“Hmmmmm. Mana makanannya? Belum dibuang kan?”
“Ada di mobil,” Gibran tidak mengambil makanannya karena takut Kalla tidak suka karena makanannya sudah dingin.
“Kita makan sekarang saja, yuk!” Kalla merasa tidak enak dengan Gibran. Akhirnya Kalla mengajak Gibran makan bersama untuk menebus kesalahannya.
“Beneran?” Tanya Gibran meyakinkan Kalla untuk makan makanannya.
“Iya, dong. Masak makanannya mau dibuang kan sayang,” ujar Kalla.
Gibran langsung mengambil makanannya yang ada di mobil. Kalla pun mengajak Gibran untuk masuk ke dalam rumah.
“Masuk saja yuk, kak!” Ajak Kalla.
“Serius?” Gibran kembali tidak yakin dengan ajakan Kalla.
“Iya, kan piring dan sendoknya ada di dalam, Kak,” jawab Kalla dengan polos.
Gibran mengikuti Kalla ke dalam rumah. Setelah Kalla membuka pintu, Gibran tidak menutup pintunya.
“Tunggu di sini, ya. Aku siapin piring dan sendoknya,” Kalla mengambil perlengkapan makannya.
“Selamat makan,” ucap Kalla sebelum makan makanan dari Gibran.
Gibran senyum melihat tingkah manis Kalla. Tadi di kampus dan malam ini berbeda sekali.
“Enak?” Gibran khawatir akan makanannya mengecewakan Kalla.
“Enak kok!” Kalla mengapresiasi makanan dari Gibran.
“Mama Papa?” Gibran bertanya keberadaan Mama dan Papa Kalla disela-sela makan.
Kalla tersenyum singkat sebelum menjawab pertanyaan Gibran.
“Kerja,” jawaban Kalla singkat untuk mencegah pertanyaan lainnya.
“Ohhh oke. Kamu lagi sibuk? Banyak tugas? Darimana saja tadi?” Gibran menanyakan keberadaan Kalla saat tidak menjawab telepon maupun membalas pesannya.
“Hmmm, maaf ya, kak. Aku tadi di kamar, nggak kemana-mana kok. Cuma aku tadi lagi fokus desain, jadi aku sama sekali nggak tahu kalau Kak Gibran kirim pesan sampai telepon aku berkali-kali,” Kalla merasa bersalah kembali.
“Ohh, enggak papa. It’s oke, aku Cuma tanya saja. Takutnya kamu lagi sibuk, aku ganggu dong kalau kamu lagi sibuk,” Gibran menimpali jawaban Kalla.
“Engga kok. Oh iya, makasih ya makanannya. Enak, aku kenyang,” Kalla berterima kasih atas makanan dari Gibran yang sudah membuat Kalla kenyang.
“Dengan senang hati,” balasan Gibran sambil tersenyum sehingga membuat Kalla salting.
Setelah makan malam bersama, Kalla dan Gibran memutuskan untuk duduk di teras rumah Kalla. Menikmati malam penuh bintang, cerah, namun dinginnya sedikit menusuk ke tulang. Sesekali Gibran menatap Kalla sambil tersenyum. Kalla tidak sadar karena terlalu fokus melihat bintang-bintang di langit hitam.
“Sudah nggak sedih lagi, kan?” Gibran membuka obrolan diantara mereka.
“Hmmmm?” Kalla tidak bisa menjawab pertanyaan Gibran karena Gibran menatapnya terlalu dalam.
“Sudah nggak sedih lagi, kan?” Gibran mengulang pertanyaannya.
“Siapa yang sedih?” Kalla tidak mengaku jika dirinya memang sedang bersedih.
“Kamu,”
“Nggak ada orang yang nggak sedih kalau sedang berselisih paham dengan sahabatnya. Salah paham itu bisa merusak segalanya,” Kalla curhat tanpa disengaja.
“Salah paham kenapa?”
“Banyak,” jawab Kalla tidak ingin berterus terang dengan Gibran.
“Nggak mau cerita nih?”
“Ada kalanya aku butuh teman untuk bercerita, tapi, ada juga masanya aku hanya butuh ditemani,” jawaban Kalla membuat Gibran diam dan tidak banyak bertanya lagi.
“Aku temenin kamu di sini,” Gibran semakin membuat pipi Kalla memerah.
“Kenapa pipi kamu jadi merah begitu?” Gibran meledek Kalla.
“Engga kok, nggak merah,” Kalla tersipu malu dengan sikap Gibran kepadanya.
“Yakin nggak merah? Coba deh ngaca!” Gibran memberikan hpnya agar Kalla bisa berkaca.
Kalla menolak karena Kalla tahu memang dia sedang salting dengan sikap Gibran.
“Engga, Kak. Mungkin blash on aku tadi terlalu tebal, jadinya terlihat merah,” Alasan Kalla agar tidak terlihat salting di depan Gibran.
“Kamu bisa salting juga, ya,” Gibran kembali meledek Kalla.
Kalla hanya tersenyum, lalu menutupi pipinya dengan kedua telapak tangan.
“Sudah nggak usah ditutup dong.”
Aksa datang ke rumah Kalla disambut oleh pemandangan yang tidak diinginkan. Aksa melihat bagaimana Kalla bisa tersenyum tanpa Aksa lagi. Dulu, hanya Aksa yang bisa membuat Kalla tersenyum hingga tersipu malu, kini sudah ada laki-laki lain yang bisa membuat Kalla seperti itu. Rasanya ingin kembali kemasa dimana Aksa masih bisa bebas bersama Kalla. Tapi, kenyataan sudah ada di depan mata. Aksa tak bisa mengelak lagi jika sekarang memang sudah ada laki-laki lain yang membuat Kalla bahagia selain dirinya.
“Kenapa pemandangan di depan mata gue nggak enak banget sih,” Aksa bergumam pelan sambil mengepalkan tangannya menahan emosi dan cemburunya.
Tidak berhak untuk cemburu, tapi kenapa cemburu selalu mengurung perasaannya. Aksa tidak tahu bagaimana caranya menyembunyikan semua perasaannya sekarang. Aksa hanya tahu apa yang Aksa rasakan sekarang tanpa tahu caranya mengungkapkan. Aksa memilih untuk pulang sebelum benar-benar datang. Aksa tidak mau menyakiti perasaannya sendiri. Meskipun Aksa masih butuh untuk terus melihat Kalla, masih butuh untuk terus mendengar suara Kalla, meskipun suara kebahagiaannya bukan dari Aksa.